Jerman di Atas Angin

Sembilan jam menuju kick off final piala dunia 2014 di Stadion Maracana, Rio De Janeiro, Brasil. Dua kekuatan sepak bola bakal bentrok merebut trofi paling bergengsi di permukaan bumi. Jerman menghadapi Argentina. Tak peduli tim mana yang saya sebut pertama kali, yang pasti pertandingan final antara Jerman versus Argentina bukanlah kali pertama. Keduanya sudah dua kali saling berhadapan di final Piala Dunia.

Pertama pada 1986 kala turnamen empat tahunan ini digelar di Meksiko. Diego Maradona menjadi bintang turnamen sekaligus manusia setengah dewa bagi pendukung Argentina. Jerman Barat takluk 2-3 dari Argentina. Kala itu, Maradona mengikuti jejak Pele sebagai satu-satunya pemain yang amat dominan di satu turnamen akbar.

Tuhan memberi kesempatan kedua bagi Jerman. Keduanya kembali bentrok di final Piala Dunia Italia empat tahun kemudian. Kala itu Lothar Matthaus (kapten tim) dan Franz Beckenbauer (pelatih) menjadi tokoh penting dibalik kemenangan Jerman yang menggilas Argentina, 1-0. Di hari itu pula Beckenbaeur mendapat julukan der Kaiser karena sebagai pemain dan pelatih dirinya berhasil merebut trofi piala dunia. Kedudukan pun imbang.

Foto: Collectivedit.com

Foto: Collectivedit.com

Lalu 24 tahun kemudian keduanya kembali bertemua. Perjalanan Jerman menuju final amat meyakinkan bila dibandingkan dengan Argentina. Thomas Muller cs menggasak Portugal 4-0 di fase grup dan mengajari cara bermain bola kepada Brasil dengan kemenangan telak 7-1 di semifinal. Jerman menjadi tim paling produktif dengan 17 gol dan empat kali kemasukan.

Sebaliknya, Argentina belum menunjukkan permainan yang sebenarnya. Lionel Messi tampak gagah kala menghadapi tim debutan Bosnia Herzegoniva dan Nigeria. Tapi melawan Belgia dan Belanda, anak asuh Alejandro Sabella harus kerja keras demi sebuah kemenangan. Total Argentina memasukkan 10 gol dan kemasukan empat kali.

Kita memang harus banyak belajar dari sejarah, tapi tidak bisa terus menerus terpaku dengan sejarah. Salah satu fakta terbesar piala dunia adalah belum pernah ada negara Eropa yang menjadi juara piala dunia di tanah Amerika Latin. Sebaliknya, dengan tim Amerika Latin. Brasil sudah mematahkan mitos itu dengan menang di Swedia pada 1958.
Kali ini pendukung Jerman bisa menaruh harapan besar kepada Joachim Loew untuk menggenapi logo bintang di kostum tim Panser. Dari materi pemain kedua tim kualitasnya tidak jauh berbeda. Mayoritas pemain merumput di liga-liga Eropa. Namun Jerman lebih solid karena 60 persen tim inti Jerman diisi oleh pemain Bayern Munchen yang sudah bermain lebih dari semusim di berbagai kompetisi.

Dua pemain kunci, Toni Kross dan Phillip Lahm, yang lihai menjaga keseimbangan permainan menjadi penyumbang umpan terbaik dan terbanyak di Jerman. Satu-satunya pemain yang bisa menyaingi mereka hanya Javier Mascherano.

Selama turnamen kita bisa saksikan para pemain Jerman relatif tidak bermasalah dengan kondisi cuaca ketika bermain di siang hari. Permainan mereka tetap stabil, efektif, dan mempunyai banyak variasi serangan. Satu poin penting yang menjadi salah satu keunggulan Jerman ialah kemampuan mencetak gol lewat bola-bola mati. Argentina harus mewaspadai.

Bagaimana dengan Argentina? Sejauh ini mata penonton hanya tertuju kepada sosok bernomor punggung 10 bernama Messi. Bagi rakyat Argentina, pemain Barcelona ini adalah titisan Diego Maradona. Seolah mendengar doa-doa pendukung Argentina, Tuhan sepertinya sudah memberikan kesempatan bagi Messi untuk duduk sejajar dengan Maradona dengan tiket final hari ini.

Begitulah ketika harapan bekerja. Pada titik ini harapan menjadi semacam obat motivasi bagi kesebelasan Argentina, yaitu dengan menyamakan Messi seperti Maradona yang sukses membawa pulang trofi piala dunia. Tapi saya yakin pendukung Argentina juga tahu kalau Maradona gagal membawa Argentina di final Piala Dunia 1990.

Foto: Fifa

Foto: Fifa

Nah, dari aspek permainan kali ini Argentina tidak menari Tango dengan indah dan gemulai ketika masih ada Gabriel Batistuta. Sosok Sabella selaku peracik strategi pun seolah tenggelam dengan kebesaran nama Messi. Argentina kali ini terasa seperti Italia yang bermain lebih ke dalam, kuat dalam bertahan. Atau mungkin semua tim sudah tahu kalau ingin menang atas Argentina maka kuncinya membuat tumpul Messi. Imbasnya ketika Messi tak berkutik serangan La Albiceleste monoton.

Maka mau tidak mau Messi cs harus kerja ekstra keras saat menghadapi Jerman nanti. Sebelum bergerak terlalu dalam, Messi harus melewati Khedira dan Schweinsteiger yang tak sekedar rajin membantu pertahanan tapi juga ikut menerabas pertahanan lawan. Apalagi dengan belum jelasnya kondisi Angle Di Maria bakal membuat Argentina miskin serangan di sisi sayap.

Jadi jika ingin menambah koleksi trofi piala dunia, Argentina memerlukan tarian Tango dari pemain lainnya, tidak hanya Messi seorang. Beruntung ada sosok Javier Mascherano yang menjadi “jimat keberuntungan”.

Mascherano-lah yang sesungguhnya punya peran dominan di tubuh Argentina ketika Messi mentok. Namun rasanya ia akan disibukkan menjaga pergerakan Muller atau Klose. Yang jelas, Mascherano bakal bekerja dua kali lipat menahan serangan pertama Jerman.
Di luar itu, ada faktor semangat. Bagi Argentina, bermain di Brasil lebih dari sekedar berada di kandang. Kandasnya rival terdekat mereka, yaitu Brasil di semifinal, jelas jadi pemicu tersendiri bagi pemain Argentina. Tampil di Stadion Maracana dengan tajuk final piala dunia adalah prestasi tersendiri bagi Argentina.

Terakhir, jika Maradona mempunyai gol tangan tuhan maka Messi punya mantra ajaib yang kerap muncul kala membela Barcelona. Salah satu mantra yang pernah saya lihat adalah ketika Messi membobol gawang Iran. Mantra itu muncul di menit ke-90 ketika Maradona beranjak pergi meninggalkan kursi penonton.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s