The Raid2. Brutal Tapi Indah

Durasi film selama 150 menit bukanlah waktu yang pendek. Ada pertaruhan besar bagi seorang sutradara untuk menyajikan sebuah film dengan durasi dua setengah jam kepada penonton yang datang ke bioskop. Apalagi jenis film yang ditawarkan ialah aksi laga perkelahian di mana sudah ada ratusan genre yang mengangkat soal pertarungan.

Tapi ada pengecualian dengan Gareth Evans. Kesuksesan film pertama The Raid membuat pekerjaan Evans menjadi sedikit mudah untuk menggiring penonton datang berbondong-bondong ke bioskop atau bahkan merogoh kocek penonton berkali-kali lantaran tidak cukup hanya sekali menonton. Hehehe….

Bagi saya, di film The Raid 2: Berandal cukup membuktikan kalau Evans tidak hanya ciamik membuat adegan perkelahian yang kaya dengan pertumpahan darah tapi juga berhasil membuat alur cerita yang enak diikuti. Uniknya, Evans menghidangkan adegan yang tidak biasa. Di sini letak keberhasilan Evan menurut saya. Mari kita sayat satu per satu. Halah…
Tokoh

Ibarat minimarket, Evans kali ini memberikan banyak tokoh dan setting beragam di film keduanya. Tapi saya coba mengambil sosok utama yang punya peran penting untuk membantu sang pemain utama Rama (Iko Uwais). Pertama adalah Uco (Arifin Putra). Bagi saya sosok Uco adalah tipe anak pengusaha yang manja dan suka main perempuan. Dengan gaya pakaian yang modis Uco sama sekali tidak pantas dan jelas tak punya keberanian membunuh orang apalagi menyayat lima leher orang layaknya sedang memotong buah semangka.

Namun Evans berhasil memporak-porandakan karakter itu. Arifin apik membawa sosok Uco yang ambisius, nekat, dan menghalalkan segala cara hingga klimaks-nya ialah menjadikan sang ayah sebagai tumbal. Uco juga mampu bermain sendiri tanpa tenggelam dengan sosok Rama. Bahkan dalam beberapa adegan Arifin lebih piawai dibandingkan Iko Uwasi saat menunjukkan ekspresi meski bertarungnya tak sehebat Rama. Dengan kata lain, Uco tak sekedar tokoh pembantu bagi Rama.

Berikutnya adalah Bejo yang dimainkan oleh Alex Abbad. Meski masih kaku dalam pembawaannya, terutama gaya bahasanya seakan dipaksakan, mantan VJ MTV ini cukup sukses lah menjadi jembatan bagi cerita Evans. Bejo yang membuat semua teka teki cerita menjadi tersambung dan berkaitan. Berbeda dengan Uco yang tidak segan tangannya berlumuran darah, sosok Bejo adalah tipe mafia tanggung. Serupa mafia muda yang sedang di training. Mestinya dia ikut mengalami bagaimana rasanya mencabut nyawa orang.

Ada yang bagus ada pula yang di buang sayang. Mad Dog yang disini bernama Prakoso dan Reza (Roy Marten) adalah dua tokoh yang menurut saya, di buang sayang. Prakosa adalah trigger atau pelatuk yang setengah hati. Kalau ujungnya mati buat apa menghadirkan Marsha Timoty di tengah panggung. Lalu Reza. Sosok Reza sang polisi korup malah tampil anti-klimaks karena dia belum sempat mengungkapkan apa motif utamanya di film ini. Sayang aja sih melihat aktor sekelas Roy Marten dan Mad Dog alias Yayan Ruhian yang hanya memainkan secuil percakapan (adegan). Lebih baik pakai aktor atau pemain lain saja yang tak terlalu terkenal.

Ciat, crot-crot-crot

Selain muntahan peluru yang bertebaran sepanjang film, Evans amat piawai menumpahkan darah,wa bil khusus darah yang keluar dari bagian leher. Palu, pemukul baseball, arit kecil, adalah senjata khusus sekaligus terbilang baru dalam aksi perkelahian. Tapi Evans juga enggan meninggalkan hal berbau konvensional, dan ini yang menurut saya lebih berandal, dengan memakai pecahan botol dan pisau sebagai media pencabut nyawa. Saya tak mengira kalau palu yang bermata dua di ujungnya bisa cukup efektif merobek kulit. Tapi jelas, kalau muntahan peluru dari senjata laras panjang ke arah wajah dan kepala adalah cara membunuh yang paling biasa dan sudah Evans pertunjukkan di film pertama. Iya kan?

Dan hal baru itu adalah adegan perkelahian Rama di dapur. Di sinilah puncak pertarungan Rama. Dari semua lawan Rama yang dihadapi, mulai wushu hingga mix martial art, Evans masih setia memberikan tokoh yang sama-sama menguasai pencak silat sebagai lawan tanding Rama. Dengan latar suara khas aransemen Indonesia, Evans telah menjadi duta bagi pencak silat. Jadi soal bagaimana mengiris batang leher, mecahin kepala dengan peluru atau patahin tulang Evans amat piawai. Doi sukses bikin penonton betah melihat perkelahian dan tentunya darah.

Lantas bagaimana dengan cerita? Nah ini yang jelas membedakan dengan film pertama. Evans sepertinya tahu betul kapan buat penonton duduk “tenang” menikmati perkelahian dan kapan saatnya mencerna alur cerita. Kisah polisi korup, atau cerita tentang intel yang ditanam di pihak musuh dan masuk penjara demi mendapatkan kepercayaan dari sasaran bukan hal baru. Saya pikir Evans tahu betul itu.

Serunya pertarungan dengan tangan kosong

Serunya pertarungan dengan tangan kosong

Inti dari Berandal saya kira ialah perebutan wilayah kekuasaan bagi dan intrik keluarga. Wacana besar Bunawar (Cok Simbara) yang punya visi meringkus pejabat polisi korup terlalu klise untuk diterima penonton. Bukannya tema itu juga yang ada di film pertama? Benang merah balas dendam masih relevan buat film bergenre perkelahian atau aksi laga. Hollywood pun amat setia dengan tema balas dendam. Kalau Anda pernah melihat The Departed atau versi aslinya Internal Affair, Evans berjalan di arah yang sama.

Tapi lupakan lah semua itu. Nikmati saja semua kekisruhan perkelahian di penjara, bagaimana kuatnya Rama bertahan selama tiga tahun di penjara melawan cecunguk preman pasar yang punya modal berkelahi mixed martial arts. Atau bagaimana aksi manis Julie Estelle saat memiting leher lawan di antara paha dan betis serta apiknya Tio Pakusadewo yang obrolan bahasa Jepangnya begitu mulus untuk sekelas lidah Indonesia. Jadi ya enjoy ajah broh dan Anda bakal merasakan kalau 150 menit itu terasa singkat. Mengutip laporan dari telegraph, there’s a beauty in its brutality.

Adegan paling epik. Detail dan efek gambar yang ciamik

Adegan paling epik. Detail dan efek gambar yang ciamik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s