Menikmati Kepingan Kepulauan Seribu

Satu Jam Yang Menyiksa

Sabtu, 22 Maret 2014 pukul 04.00 saya terbangun dan langsung beringsut menuju kamar mandi. Tak ingin terlambat sampai Muara Angke, Jakarta Utara, saya memilih berangkat lebih pagi dan memutuskan solat Subuh saat tiba di Terminal Kalideres. Rupanya perjalanan dengan Transjakarta yang dilanjutkan dengan angkot menuju Muara Angke berjalan lancar jaya.

Namun setibanya di pelabuhan, pagi menampakkan wajah yang sebenarnya. Awan mendung menyambut kedatangan saya di Muara Angke yang ramai oleh para pedagang ikan. Lantai pasar dan jalanan yang becek mengeluarkan bau amis tak sedap yang memaksa saya menahan nafas selama beberapa detik. Di pinggir jalan, para pedagang menawarkan produk laut, seperti ikan, cumi-cumi, dan kepiting.

Pukul 07.00 saya bersama 13 orang rekan seperjalanan melangkah menuju kapal yang bersandar di dermaga. Sejak awal kedatangan saya ke pelabuhan pikiran kalut tak menentu memikirkan perjalanan selama di atas kapal. Seorang teman menyebut perjalanan dengan kapal bernama Harapan Ekspres bakal menghabiskan waktu selama tiga jam.

Saya memang belum terlalu akrab dengan ombak dan kapal-kapal kayu berukuran sedang. Mabuk laut menjadi daftar pertama yang bakal menjadi mimpi buruk saya selama perjalanan menuju Pulau Harapan. Mimpi buruk itu nyaris menjadi kenyataan kala perahu baru beranjak selama 30 menit.

Ombak setinggi satu meter membuat kapal terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Lambung semakin kalut. Kepala makin berputar. Wajah bersimbah keringat dingin dan merambat ke leher, tangan kemudian badan. Prediksi saya tepat, gejala mabuk laut bakal menyerang, tapi agak meleset karena datangnya lebih cepat dari perkiraan saya.

Pilihan untuk tidak menunaikan sarapan pagi sudah tepat. Setidaknya bisa memperlambat proses mabuk laut. Selama satu jam lebih saya pontang panting menahan benda apapun yang keluar dari mulut. Sungguh tersiksa. Tidur tidak bisa, duduk dan berdiri pun serba salah.

Beberapa penumpang yang berada satu ruangan dengan saya sudah lebih dulu mengeluarkan benda cair dari mulut. Sialnya, jika saya mengikuti jejak mereka maka bakal celaka. Sebab saya tak menyiapkan kantong plastik atau benda apapun yang bakal menampung muntahan dari perut saya. Saya sudah bertekad bakal melawan dan menahan apapun yang akan keluar dari mulut

Image

Penampakan Pulau Putri

Saya coba memikirkan sesuatu yang indah dan menyenangkan. Tapi tetap saja tak berhasil. Berkali-kali saya mengusap kening yang tak henti mengeluarkan keringat dingin sambil mengatur nafas mencari sedikit udara segar yang sudah tercemar dengan aroma tak sedap dari kantong plastik yang bertebaran di lantai kapal. Sampai tiba seorang teman menghampiri saya dan meminta untuk keluar dari geladak menuju atas kapal. Tanpa pikir panjang dengan sigap saya pun melangkah ke atas kapal.

Tiba-tiba, saya terpikirkan oleh satu pesan yang entah berasal dari buku yang saya baca atau sebuah adegan dalam film. Tanpa permisi ingatan itu mendesak memenuhi kepala saya yang pusing menahan gempuran ombak. Jika kita mengalami mabuk laut maka keluar dan berdirilah di anjungan atau ujung kapal. Arahkan pandangan menuju cakrawala atau horizon.

Hasilnya? Menakjubkan. Pikiran saya menjadi jernih. Kepala pun ringan seketika menerima bongkahan udara segar yang menghampiri dari segala penjuru. Meski saya tidak berdiri persis di ujung atau depan kapal, tapi pemandangan di atas kapal membuat perut saya berhenti berontak. Dari atas kapal saya melihat barisan pulau dan segregasi warna laut. Sejauh mata memandang hanya ada air dan air. Melegakan. Dan saya menolak beranjak dari atas kapal hingga Harapan Ekspres merapat dan menyentuh bibir dermaga pada pukul 10.35.

Bersambung….

ImageSenja di Pulau Bulat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s