Presiden Survei

Nahkoda telah diputuskan. Layar pun langsung terkembang. Orang-orang yang berada di sisi dermaga dengan suka cita melambaikan tangan dan melontarkan doa untuk mengiringi kepergian bahtera. Tapi di sudut lainnya, tidak sedikit orang yang mencibir sosok nahkoda yang berada dibalik kemudi kapal. Mencibir kalau sang nahkoda tak lebih dari kutu loncat yang menjadikan jabatan sebelumnya sebagai juru navigasi hanya topeng belaka.

Sebagian orang menyebut sang nahkoda punya bakat bagus dalam hal membuat pencitraan. Padahal hasil kerja masih payah dan belum terlihat nyata. Si nahkoda yang gemar mengenakan kemeja putih dan celana hitam cukup beruntung dikeliingi oleh bawahannya yang tak jarang disebut sebagai penggosip ulung yang pandai melebih-lebihkan cerita. Walhasil, dengan cerita yang sudah dibaluri bumbu sedap di mana-mana, namanya kiat melejit dan lambat laun masuk ke radar pemilik kapal.

Tamsil. Saya mesti memutar otak mencari tamsil atau analogi yang bisa mendekati keputusan seorang Gubernur DKI Jakarta yang ingin melangkah ke gelanggang pencalonan presiden. Saya pikir kita sudah tahu siapa sosok sang nahkoda dan saya mencoba menghindari menyebut namanya karena sosoknya terlalu populer.

Tamsil. Dalam buku dasar-dasar logika yang saya baca di semester tiga saat menjalani kuliah, tamsil atau analogi adalah sebuah cara untuk menjelaskan sesuatu fenomena atau keadaan. Di dalamnya mengandung setengah kebenaran dan setengah kesalahan. Saya tidak akan memaksa kalau cerita di atas ada kemiripan dengan Gubernur Jakarta yang memutuskan maju menjadi calon presiden mewakili partainya.

Yang ingin saya sampaikan adalah di alam demokrasi semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih apa yang menurutnya benar dan harus dikejar. Cara pandang dan persepsi yang kerap menghalangi seseorang untuk mengejar apa yang menurutnya pantas diraih.

Dalam hal pencalonan Sang Gubernur menuju Istana Negara hendaknya dilihat sebagai hak seorang warga negara yang ingin menjadi seorang presiden. Apakah dia layak atau tidak, biarkan rakyat melalui pemungutan suara yang menentukan. Kadang demokrasi terasa menyakitkan bagi orang-orang yang merasa dirinya layak mengemban jabatan tertentu namun kandas hanya oleh jumlah suara pemilih yang kecil. Seolah-olah orang lain yang menjadi penentu masa depan Anda. Apa mau di kata, itulah demokrasi dan kita mesti menerimanya, suka atau tidak.

Ketika Sang Gubernur akhirnya mendapat restu pimpinan partai agar maju sebagai Capres, sesuai hukum alam, sudah pasti melahirkan dua kelompok pro dan kontra. Mereka yang mendukung ingin agar Sang Gubernur bisa mengubah kondisi negara menjadi lebih baik. Sementara kelompok kontra, menolak karena tugasnya sebagai gubernur belum tuntas.

Ada yang terlewatkan dari argumentasi yang terlontar dari kelompok kontra, yaitu sebuah ungkapan sederhana yang menyebutkan kalau politik adalah panglima. Bagi saya, selama seorang pejabat negara atau kepala daerah lahir dari rahim partai maka janganlah terlalu serius mengingat janji-janji manisnya. Sebab kepemimpinan yang berasal dari partai adalah hasil dari sintesis berbagai kepentingan elit-elit politik.

Karena Sang Gubernur lahir dari partai maka sudah sewajarnya dia mengikuti keputusan dan keinginan orang-orang partai. Begitu cara kerjanya, amat sederhana dan tidak ruwet. Dan sejak awal saya sudah menaksir kalau Sang Gubernur suatu hari nanti bakal melamar menjadi Capres. Kalau sudah seperti itu, faktor waktu sudah tidak relevan. Artinya tanpa harus menuntaskan masa jabatan lima tahunnya sebagai gubernur, Sang Gubernur seolah-olah sudah menyiapkan kapal menuju Istana Negara. Tak beda seperti pelampung. Terpakai atau tidak, pelampung akan tetap ada di atas kapal karena takdirnya seperti itu. Sekarang atau nanti sama saja.

Adalah survei yang mempercepat keputusan elit-elit partai di lingkaran Sang Gubernur untuk melangkah  dalam pencalonan presiden. Berbekal popularitas dan nama baik, elit partai Sang Gubernur menyangka jagoannya bakal menjadi pesaing berat bagi calon manapun. Konstelasi politik pun akan berubah dengan keputusan Sang Gubernur. Kita tidak tahu pihak mana yang sedang melakukan lobi dan mengubah siasat.

Lantas apakah Sang Nahkoda sukses membawa bahteranya menuju pulau harapan? Sebagian orang berharap demikian namun sebagian lainnya berdoa sebaliknya. Sementara saya lebih suka berada dalam posisi penutur. Penutur bagi mereka yang menang dan kalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s