Bandung dan Hal Yang Belum Tuntas

Rasa kantuk masih setia mengikutiku. Sejak melangkahkan kaki dari pintu kamar hotel, hingga menjejakkan kaki di karpet taksi kantukku belum juga sirna. Beruntung cuaca Bandung saat itu sedang terik-teriknya. Seperti malam-malam sebelumnya, aku baru memutuskan menutup mata selepas tayangan film lawas yang diputar oleh televisi kabel.

Aku memilih menghabiskan malam terakhir di Bandung dengan terbenam di kasur sambil membungkus tubuh dengan selimut tipis cokelat yang aku taksir harganya tak lebih dari Rp100 ribu. Pendingin udara sengaja aku nyalakan agar selimut tipis yang kerap aku pakai sebagai sajadah solat berguna.

Malam itu HBO memutar American Beauty. Salah satu film yang ingin aku tonton. Tidak salah, filmnya bagus dan Kevin Spacey, seperti biasa, mengeluarkan semua kemampuannya pada film itu. sayang di beberapa bagian masih ada sensor. Bagi ku ini tak masuk akal. Kita membayar TV kabel untuk menonton film secara utuh, bukan potongan-potongan tak jelas.

Film selesai pukul 01.00, aku langsung tertidur dan bangun kesiangan keesokan harinya. Tak ada niatan menulis sisa laporan, aku memilih menyalakan TV kembali dan menonton film. Tak ada yang menarik, aku pun memutuskan mengemas barang-barang dan bersiap pulang ke Tangerang.

Salah satu hal yang paling aku sukai dari bepergian adalah mengemas barang-barang atau pakaian. Aku suka melipat pakaian, celana, buku dan menjejalkannya ke sudut-sudut tas punggung. Aku menikmati berjalan jauh sambil membawa beban berkilo-kilo di punggung. Aku senang dengan tatapan orang-orang yang tertuju ke arah tas. Aku lupa sejak kapan senang dengan hal-hal seperti itu.  

Tiba di stasiun Bandung pukul 10.30. Usai membeli tiket kereta seharga Rp110 ribu, aku lantas mencari sarapan untuk membunuh rasa lapar. Sambil mengunyah ayam bakar dan telor dadar, pikiran terus melayang menari-nari mencari oleh-oleh makanan yang ada di sekitar stasiun. Molen pisang jadi pilihan dan urusan buah tangan selesai.

Sejak melangkah menuju gerbong tiga kursi nomor 4D, pikiran ini sudah mengkhayalkan tidur siang yang sejuk menuju Jakarta. Namun Allah punya rencana lain. Adalah seorang ibu menjelang usia senja, belakangan dia mengaku telah menginjak usia 62 tahun, mengajak ngobrol. Di usia yang terbilang sudah tua, penampilannya menunjukkan kalau dia berusia sekitar 48 tahun.

Semula aku meladeni percakapannya. Sambil makan siang dengan nasi goreng, dia memberi resep soal bagaimana memasak nasi pulen. Aku berpikir dia cukup lihai menilai masakan atau menu makanan. Saat percakapan seputar nasi-nasian selesai dengan otomatis tema beralih ke soal kehidupan pribadinya.

Tanpa perlu susah payah aku bertanya, dia yang memperkenalkan dirinya dengan sebutan tante langsung bercerita soal keluarganya, anak gadis satu-satunya yang seusia denganku yang diharapkan segera menikah, pekerjaan dia sebelum pensiun, hingga ke kasus panti asuhan Samuel. Sepanjang perjalanan dari Bandung hingga Stasiun Jatinegara dia terus bercerita.

Sedangkan aku hanya mendengarkan sambil sesekali tertawa, tersenyum, dan mengangguk tanda setuju dan mengerti apa yang diceritakan. Aku sudah menyadari kalau tidur siangku hanya sekedar angan-angan sejak melihat hamparan sawah hijau di daerah karawang. Aku lihat tante hanya tertidur ketika kereta berhenti di stasiun Bekasi menuju stasiun Jatinegara. Selama kira-kira 15 menit. Ya, hanya 15 menit saja tante terdiam tanpa kata.   

Mungkin jika tidak punya perbedaan yang prinsip (tante seorang Katolik) dengan tante, aku ingin meminta bayaran agar diperkenalkan dengan anak gadis dia satu-satunya. Toh tante juga sudah dengan senang hati memperlihatkan anak gadisnya kepadaku. Foto-foto ketika mereka berliburan ke Singapura dan melihat wajah oriental anak gadisnya yang kabarnya bekerja menjadi guru musik di Singapura. Aku pikir itu harga yang pantas untuk menjadi seorang pendengar yang baik sepanjang perjalanan dari Bandung hingga Jakarta. Well, don’t take it seriously ok!

Lantas apa hal-hal yang belum tuntas? Kamu. Iya, kamu yang dengan setia membaca tulisan tidak penting ini hingga akhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s