Sempat Dilarang, Kini Wushu Makin Berkembang

Jakarta—Ruang aula seluas lapangan basket yang semula hening tiba-tiba pecah oleh teriakan anak-anak Sekolah Dasar Buddha Tzu Chi. Sekitar 50 anak berusia enam sampai tujuh tahun yang masih mengenakan seragam sekolah tanpa menunggu perintah langsung berganti pakaian mengenakan kaos dan celana olahraga bertuliskan wushu.

Empat orang pelatih tanpa sungkan membantu para siswa yang kesulitan mengikatkan selendang kuning ke bagian pinggang dan memasangkan sepatu kets atau sekedar merapikan kaos yang dipakai. “Perlu keahlian tersendiri untuk melatih anak-anak belajar wushu,” kata Herman Wijaya salah satu pelatih wushu di sekolah Yayasan Buddha Tzu Chi, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Kamis, 23 Januari 2014.

Salah satu modal utama mengajar wushu bagi anak-anak di bawah umur, kata Herman, ialah kesabaran. Tak perlu waktu lama bagi Herman untuk menguji kesabarannya. Ketika pandangan tertuju kepada seorang anak yang tiada henti berlarian, ia pun berteriak keras memintanya untuk berhenti. Tanpa rasa takut, anak itu langsung diam dan tak lama kemudian kembali berlarian.  

Kepada Tempo, Herman mengatakan seni bela diri wushu dewasa ini semakin banyak diminati. Sejak berdirinya Pengurus Besar Wushu Indonesia pada 1992, perlahan tapi pasti seni bela diri wushu makin berkembang. “Sekarang wushu sudah jadi kegiatan ekstrakurikuler di sejumlah sekolah di Jakarta. Sasana pun sudah banyak,” ucap Herman yang pernah memperkuat Indonesia di SEA Games Jakarta 1997.

 

Image

Padahal ketika era pemerintahan Orde Baru, lanjut Herman, wushu termasuk kegiatan yang dilarang muncul ke ruang-ruang publik. “Mau latihan saja harus sembunyi-sembunyi,” ucapnya. Kendati sulit tampil ke permukaan, namun secara organisasi wushu mengekor ke induk organisasi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).  

Sekarang, Herman menambahkan, wushu tidak hanya untuk mengejar prestasi semata. Para atlet wushu kerap bekerja paruh waktu menyemarakan perayaan Imlek (tahun baru Cina). “Kami sering diundang untuk mengisi acara Imlek di mal. Biasanya kami menampilkan atraksi memainkan senjata atau barongsai,” ucap Herman yang menjadi kepala pelatih di perguruan Rajawali Sakti.

Berbagai atraksi yang ditampilkan saat Imlek, ternyata memiliki dampak positif bagi perkembangan bela diri wushu. Herman menyatakan penampilan para pemain wushu ketika atraksi kerap menarik perhatian para orang tua. “Orang tua itu senang kalau melihat anaknya bisa tampil makanya banyak anak-anak yang diminta untuk belajar wushu,” kata Herman. 

Pada kesempatan terpisah, mantan atlet wushu nasional Ahmad Idris tak menampik bila wushu semakin berkembang dewasa ini. “Bisa dibilang sekarang sudah menjadi budaya,” kata Idris saat ditemui di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Senin 27 Januari 2014. Ingatan Idris pun meloncat ke tahun 1993, tepatnya usai tampil di ajang SEA Games Singapura. 

Idris menceritakan sebagai atlet nasional yang pertama kali tampil di ajang SEA Games, PB Wushu Indonesia memintanya untuk menyebarkan cabang olahraga wushu. Bersama pelatih Cina, Wong Dong Lien, Idris berkeliling ke daerah-daerah. “Pak IGK Manila selaku ketua umum ingin wushu lebih dikenal oleh masyarakat,” katanya. Idris pun lantas berkeliling ke Bandung, Semarang, Surabaya, dan Bali selama tiga bulan. 

Semenjak terpisah dari IPSI dan mendirikan PB Wushu Indonesia pada November 1992, cabang olahraga asal Cina ini semakin berkembang dan digemari di tanah air. Idris tak menampik jika semasa Orde Baru, pemerintah sempat melarang perkembangan wushu. “Dulu kalau ada perkumpulan atau kegiatan yang berkaitan dengan budaya Tionghoa pasti dipertanyakan,” kata Idris.

Namun kini, wushu menjadi salah satu andalan kontingen Indonesia di ajang multievent seperti SEA Games. Pada SEA Games Myanmar 2013, cabang olahraga wushu menyumbang empat emas, tiga perak, dan enam perunggu.

ADITYA BUDIMAN

Dimuat di Koran Tempo, Selasa, 28 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s