Prau

“Ada tiga hal yang bikin candu di dunia ini: nicotine, caffeine, dan mountain,” ucap Arga alumnus Universitas Indonesia jurusan Filsafat di punggung Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Sabtu, 21 Desember 2013. Arga tidak hanya bertanggung jawab penuh menggendong logistik di tas ransel berkapasitas 60 liter tapi juga memastikan rombongan kami selamat tanpa kekurangan apa pun menuju basecamp di Patak Banteng.

Arga mencoba memberi semangat ke salah satu rekan kami yang duduk terkulai di akar pohon. Kakinya  mulai bergetar, berontak, dan mengiba-iba setelah mendaki lalu berusaha turun dari gunung yang memiliki ketinggian 2656 meter. Seorang lagi, tampak sibuk mengolesi salep pengusir nyeri otot ke bagian paha dan betisnya.

Sedangkan sisanya, memilih diam seribu bahasa. Sementara aku sibuk merekam dalam memori ekspresi kelelahan, keceriaan, dan tawa mereka. Salah satu pekerjaan yang aku sukai selama melakukan perjalanan naik gunung.     

Bagi beberapa orang di dalam rombongan kami, yang berjumlah 18 orang, perjalanan mendaki gunung merupakan kegiatan kali pertama. Maka wajar jika ada keluh kesah yang terlontar selama perjalanan mendaki dan menuruni gunung di jalan setapak yang terjal dan licin. Belum lagi jika ditambah membawa ransel berkilo-kilo di punggung. 

Tapi justru di situlah letak “candunya”. Kadarnya akan makin bertambah saat kita menjejakkan kaki di atas puncak. Momen seperti itu hanya mampu dirasakan oleh mereka yang melakukan trekking, tak peduli bagi para pemula atau pun mereka yang sudah ratusan kali naik gunung.    

Bagi ku sendiri, Prau bukan gunung pertama yang didaki. Tapi Prau adalah gunung pertama di Jawa Tengah yang pertama kali kucumbui. Dari sisi lintasan, jalan menuju Prau, relatif sama seperti Gunung Manglayang dan Gunung Bunder, Bogor. Bedanya, udara dingin Prau terasa lebih mencekam. Karena naik saat musim hujan, kabut pun menjadi pendamping setia sepanjang perjalanan kami.

Begitu juga ketika kami sudah mencapai puncak Prau. Kabut tebal yang membawa angin dan hujan deras mengubur impian kami untuk melihat deretan gunung di kawasan Wonosobo. Walhasil, jepretan kamera pun hanya didominasi warna kelabu. Mungkin, itulah harga yang mesti dibayar saat mendaki di musim hujan.   

Sejauh ini, tak peduli gunung mana pun, mendaki seolah menjadi terapi bagiku. Menjelajah alam terbuka menjadi obat mujarab untuk melepas segala kepenatan dan lari sejenak dari rutinitas pekerjaan. Meski euforianya (efeknya) hanya sekilas, tapi itu sudah cukup mengembalikan kejernihan pikiran.  

Namun kini, menurut ku, tantangan terbesar bagi para trekking bukanlah pada bagaimana menempuh perjalanan menuju puncak. Tapi justru ada pada perubahan kawasan gunung itu sendiri, terutama lingkungan dan sosial masyarakat. Seperti kata Agustinus Wibowo, para trekking mencari tempat-tempat yang paling eksotis, purba, perawan dan mungkin mistis. Semakin sulit ditempuh perjalanan maka semakin senang para trekking.

Faktanya, tidak selalu seperti itu. Masyarakat asli yang sudah lama hidup berdampingan dengan alam menginginkan perubahan akibat tuntutan ekonomi dan zaman. Agak aneh jika selama melakukan pendakian kita lebih banyak melihat tanaman kubis, kentang, wortel, bahkan menara penguat sinyal dibandingkan bunga atau tanaman jenis paku-pakuan khas pegunungan.    

Mendaki gunung dewasa ini nyaris serupa dengan pergi ke pusat perbelanjaan. Keramahan teknologi informasi, mudahnya akses transportasi, maraknya agen perjalanan, dan menjamurnya komunitas backpaker membuat pendakian menjadi terasa mudah. Yang terlihat justru lebih banyak pencari tujuan dibanding penikmat perjalanan itu sendiri.      

Di balik itu semua, aku patut bersyukur masih bisa menikmati sajian alam meski yang terlihat saat ini seperti remahan. Trekking aku berikutnya tak beda seperti seorang tamu yang datang terlambat ke pesta. Kegiatan mendaki saat ini sudah menjadi gaya hidup. Lantas muncul satu pertanyaan, apa yang bakal tersisa dari generasi setelah aku?

Terlepas dari itu semua, saya sepakat dengan Arga kalau naik gunung itu bikin nagih. Keinginan untuk melangkah lebih jauh dan lebih tinggi lagi bukan karena kami ingin menantang atau menaklukkan alam. Sampai kapan pun manusia tidak akan bisa menaklukkan alam. Menurut aku, apa yang para pendaki lakukan adalah sebuah hasrat untuk berjalan beriringan dan bermesraan dengan alam. Karena yang saya rasakan ketika berjalan, berangkulan dengan alam ada banyak hal yang diterima tanpa perlu diminta.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s