59.000 Kilometer

Perjalanan bagi Paul Salopek adalah proses mengingat. Dalam laporan pertamanya di majalah National Geographic edisi Desember 2013, Salopek memberi judul perjalanan 33.000 kilometer dengan Out of Eden Walk (Keluar Dari Nirwana). Salopek merupakan seorang jurnalis peraih Pulitzer Award. Selama tujuh tahun ke depan, di mulai tahun 2013 hingga 2020, Salopek meniti pengembaraan leluhur dengan melakukan perjalanan, benar-benar berjalan kaki, dari Etiopia (Benua Afrika) sampai ujung Cile (Benua Amerika).

Selama tujuh tahun berjalan kaki, Salopek diperkirakan bakal menempuh jarak 33 ribu kilometer. Dengan kata lain ia bakal mengelilingi tiga perempat bumi. Jalur yang ia lewati meliputi Etiopia-Yordania-Tajikistan-India-Cina-Rusia. Dari Rusia ia menyeberang ke Alaska lalu ke Amerika Serikat masuk ke negara-negara Amerika Selatan dan titik pemberhentiannya ialah di ujung kaki Benua Amerika, Tierra del Fuego, Cile.

Pilihan rute itu berdasarkan perjalanan nenek moyang manusia (Homo Sapiens). Sepertinya Salopek sedang melakukan ziarah dan menapaki jejak perjalanan manusia-manusia primitif yang dimulai 60 ribu tahun silam. Saya sepakat, apa yang dilakukan oleh Salopek adalah sebuah perjalanan untuk menyampaikan kabar lewat penziarahan, terlepas dari pro dan kontra kalau manusia itu keturunan manusia primitif (Homo Sapiens) atau Nabi Adam as.

On-the-road-1024x682_child

Lantas saya tertarik melihat jarak tempuh sepeda motor di layar dashboard. Angkanya menunjukkan jarak 59.100 kilometer. Itulah fakta perjalanan yang sudah saya tempuh selama empat tahun terakhir. Jika dibandingkan dengan proyek Salopek, saya unggul dari sisi jarak tempuh. Tapi kalau melihat laporan perjalanan Salopek, yang berjalan kaki bersama dua unta dan tiga orang pemandu, melintasi gurun Afar di Etiopia sama sekali tak ada artinya.

Saya rasa tidak ada artinya juga membandingkan karena jelas perjalanan kami berbeda. Salopek bergerak maju membelah bumi . Sedangkan saya sesungguhnya hanya berjalan di tempat. Tangerang-Jakarta-Tangerang begitu terus menerus selama empat tahun terakhir.

Tapi setiap orang pada hakikatnya sedang menempuh perjalanan. Tak peduli meski orang itu hanya berkutat di kota kelahirannya hingga ajal menjemput atau sepanjang hayatnya pergi menjelajah sudut-sudut dunia. Pada akhirnya, orang-orang yang melakukan perjalanan akan kembali juga. Entah itu pulang ke rumah atau pulang ke alam baka, tempat semua makhluk hidup bermula.

Proses perjalanan-lah yang membeda satu perjalanan dengan perjalanan lainnya. Ada orang yang merasa tidak perlu melakukan perjalanan karena dianggap buang-buang waktu dan banyak menguras uang, tapi ada juga orang yang menilai perjalanan itu penting sampai rela bertahun-tahun tidak pulang kampung.

Keduanya sama saja. Tapi bagi mereka yang menjelajah dan tersesat di negeri orang, bakal menyebut kalau perjalanan adalah proses perubahan. Ada  juga yang berkata proses melupakan.

Bagi saya, saat ini, perjalanan ada proses mengemas sejarah. Sebagai seorang yang memilih jurnalis sebagai pekerjaan, melaporkan berita adalah proses mengemas sejarah. Melalui serangkaian kalimat, lima hari dalam sepekan saya harus memilah mana fakta dan opini yang layak untuk diangkat. Lalu dihias dalam berlembar-lembar kertas yang menyatu dengan tulisan lainnya. Hingga laporan selesai terkirim, jarang sekali saya bertanya apakah laporan saya benar-benar dibaca dan dibutuhkan orang banyak.

Speedometer motor saya akan terus berputar. Esok, lusa, sepekan kemudian sampai batas waktu yang saya tidak pernah tahu akan berakhir sampai mana. Tapi suatu hari nanti, kumpulan angka di speedometer saya akan kembali ke titik nol. Ke angka dimana semua bermula. Lantas apakah saya bakal sampai ke titik nol? Sulit untuk menjawabnya.

Sampai pada suatu hari saya mengayuh sepeda dan merasakan betapa nikmatnya melakukan perjalanan dengan sepeda. Mungkin karena tidak ada jejak jarak tempuh yang membuat saya merasa lebih lepas. Ada yang bilang,inti dari perjalanan ialah perjalanan itu sendiri, bukan tujuan atau titik akhirnya. Menarik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s