Senggol Bacok !

Jakarta adalah kota seribu wajah. Seribu? Ah, mungkin jutaan wajah. Itu kalau yang di maksud adalah wajah (baca: karakter) penduduknya. Karena bisa jadi setiap orang yang menghuni Jakarta ini memiliki dua wajah. Satu wajah untuk diri sendiri yang dipakai ketika berada di rumah dan satu lainnya adalah wajah ketika keluar dari rumah.

Semestinya Selasa petang, 19 November 2013 berjalan lancar sesuai dengan khayalan saya. Selepas bertemu legenda tenis dunia Marina Navratilova di sebuah hotel berkelas, saya berpikir perjalanan menuju kantor di Kebayoran Baru bakal berjalan mulus. Semulus model perempuan di Majalah Populer.

Tapi apa mau di kata yang terjadi justru antrean kendaraan serupa cendol tumpah mulai dari Jalan Sudirman hingga Jalan Penjernihan, Bendungan Hilir. Panggilan telepon yang tidak terjawab dari kantor semakin membuat adrenalin bertambah. Konsentrasi pun kocar kacir tak karuan. Sudah tidak terkejar mengerjakan laporan di kantor, pikir saya.

Laju motor saya terhenti ketika sampai kantor kelurahan tak jauh dari Polsek Tanah Abang. Dari balik helm saya melihat dua pengendara motor saling ngotot satu sama lain. Entah apa penyebabnya. Pengendara motor Kawasaki melontarkan nada bicara tinggi ke lawannya yang membawa motor Honda Megapro.

Tak jelas apa yang diributkan. Tapi kalau melihat pengalaman di jalanan pasti tak jauh dari soal senggol menyenggol motor. Tak terima dengan lontaran kata bernada tinggi, si pengendara Honda melawan dengan melancarkan nada yang lebih tinggi. Kontan pengendara yang lain berhenti dan makin menarik perhatian.    

Merasa tak punya kepentingan dan berada di tengah kemacetan, mayoritas orang memilih tak mau ambil pusing dan terus berjalan mencari celah sempit untuk menerobos. Entah apa yang terjadi selanjutnya, saya pun memilih geleng-geleng kepala. “Segitu aja pake ribut,” ucap saya ke seorang pengendara motor di sebelah yang beradu pandang dengan saya.  

Mungkin itulah wajah lain pengguna jalanan di Jakarta. Saat di kantor anda bisa jadi orang ramah, tapi begitu berada di atas roda dua wajah anda pun berubah jadi orang emosian dan gak mau ngalah. Harus saya akui sumbu emosi jauh lebih pendek ketika kita berada ditengah kemacetan jalan Jakarta. Bukannya itu setiap hari kita hadapi. Ya, meski setiap hari kita tak pernah tahu apa isi hati orang di sebelah kita.

Beradu argumen di jalan bisa jadi merupakan solusi pendek untuk melepas stres yang diterima usai bekerja di kantor. Sudah banyak kasus bukan dimana seseorang dengan mudah sewot bahkan mengacung pistol hanya karena mobilnya menyerempet. Ujung-ujungnya cuma tambah masalah.    

Sebenarnya saya juga pernah menyerempet motor dan mobil waktu bawa motor. Dari beberapa peristiwa itu, saya upayakan untuk berhenti sejenak dan melihat reaksi orang yang tertabrak ban, spion atau bemper mobil. Kalau balik menatap, cukup lambaikan tangan tanda permintaan maaf. Selesai.

Semudah itu? Ya, semudah itu. Tapi butuh proses panjang untuk sampai ke sana. Salah satunya adalah jangan pernah tergoda untuk memaksa masuk ke celah sesempit apa pun untuk menerobos.  

Dari apa yang saya amati dan bicarakan dengan sesama pengguna motor, ketika kita menabrak motor atau mobil reaksi pertama menjadi penentu respon selanjutnya. Mayoritas mereka yang pernah tertabrak sangat mengharapkan si pelaku berhenti dan meminta maaf. Kadang cukup melambaikan atau mengangkat tangan sebagai bukti kalau kita menyadari telah melakukan kesalahan. Sudah itu saja. Bahkan kalau anda beruntung, si korban tidak ambil pusing kalau sekedar ban atau spion saja yang tertabrak.    

Entah sejak kapan, tapi ketika naik motor pertama kali untuk pergi bekerja, reaksi korban senggol motor makin hari semakin toleran alias maklum. Dalam batas tertentu mereka tidak mempersoalkan jika hanya ban atau spion motor yang kesenggol. Kuncinya berhenti dan jangan takut untuk meminta maaf jika memang anda bersalah. Itu reaksi yang diharapkan oleh korban senggol motor.

Ah, sudahlah. Memang mahal menebar kata maaf di Jakarta ini. Safety riding-lah.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s