Sadar dan Syukur

Ada sebanyak 7,3 juta orang pengangguran kalau kita mau bersepakat dengan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik per Agustus 2013. Sebanyak 2,1 juta diantaranya ialah mereka yang kehilangan pekerjaan. Kalau mau lebih detail lagi, 1,5 juta orang keluar karena memilih menjadi ibu rumah tangga, 500 ribu mencari pekerjaan baru, dan 100 ribu lainnya melanjutkan pendidikan.

Angka itu saya comot dari sebuah berita online yang judulnya bikin saya mengelus-elus dada, yaitu 2,1 Juta Orang Indonesia Frustasi Cari Pekerjaan Baru. Setelah saya selesai membaca ternyata tidak ada satu pun kata frustasi yang kembali ditulis ulang oleh sang penulis. Jadi sama seperti berita-berita yang sedang tren saat ini, judul tidak mencerminkan isi tulisan. Tapi saya memilih berdamai. Kita lupakan saja soal judul berita yang tidak ada kaitannya dengan isinya.

Saya jadi teringat ketika menyandang status sebagai seorang pengangguran. Masa pengangguran saya berjalan selama sekitar tujuh bulan terhitung rektor kampus melepas ribuan wisudawan, termasuk saya tentunya. Sejak saat itu, hanya ada satu yang terlintas dalam pikiran saya, yaitu segera mendapat pekerjaan.

Setiap hari, pekan, dan bulan saya habiskan mencari lowongan pekerjaan di koran, internet, dan kenalan. Selama tujuh bulan itu pula saya bolak-balik menerima panggilan kerja, wawancara, tes, dan psikotes. Semua saya lewati tanpa tahu kapan itu akan berakhir.     

Sampai pada suatu sore, ketika telepon rumah berdering. Seorang perempuan di ujung telepon menawarkan pekerjaan untuk stasiun televisi nasional. Saya masih ingat kalau sore itu saya sedang tidur karena lelah selepas pulang dari tes di sebuah perusahaan. Demi membunuh rasa kesal saya pun memilih tidur.    

Tanpa pikir panjang, saya pun menerimanya dan keesokan harinya langsung segera menandatangani kontrak. Mengganggur selama tujuh bulan membuat saya berpikir praktis. Perusahaan mana pun yang mau menerima saya, niscaya saat itu juga akan langsung disamber.

Allah sebaik-baiknya perencana. Hari pertama saya pulang bekerja, bapak terkena serangan stroke pertama. Niat hati ingin berbagi cerita seputar hari pertama bekerja di televisi yang terjadi malah melihat bapak terbaring kaku setengah badan di tempat tidur. Sejak saat itu, saya hanya bisa berpikir tidak akan melepas pekerjaan yang sudah didapat. Maksudnya saya menolak menjadi pengangguran meski itu hanya satu hari.

Alhamdulillah hal itu terwujud ketika saya akhirnya memutuskan berganti perusahaan. Sembilan bulan bekerja di televisi membuat saya merasa tidak kerasan. Beruntung perusahaan lama saya begitu toleran dalam hal pengunduran diri. Sehari saya mengajukan pengunduran diri, keesokan harinya saya langsung menjalani pelatihan di perusahaan baru yang sampai sekarang masih saya pijak.

Sekarang saya memasuki tahun ketiga di perusahaan media cetak nasional. Bisa di bilang tidak terasa saya menjalani pekerjaan sebagai seorang reporter selama hampir tiga tahun. Ada rasa jenuh dan bosan yang mendera. Ada banyak hal yang berubah tapi ada juga yang tetap sama seperti dulu.

Ada banyak teman baru yang datang, tapi ada juga yang memilih pergi. Saya merasa apa yang membuat saya bertahan hingga saat ini adalah sebuah kesadaran kalau saya takut kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, ada semacam rasa penasaran tentang karir kita di sebuah perusahaan. Di saat teman seangkatan sama-sama ikut pelatihan dan beberapa tahun kemudian ternyata beberapa dari mereka mendapat kenaikan lebih cepat, yang tersisa hanyalah rasa penasaran.  

Tapi pada satu titik, saya pun mencoba mengurai lagi soal niatan kali pertama saya memilih menjadi reporter atau wartawan. Kalau hanya sekedar ingin mempraktekkan ilmu dari kampus target itu saya rasa sudah tercapai. Tapi kalau berharap banyak soal pangkat atau karir, bukan itu yang pertama kali saya pikirkan.

Mungkin saya perlu kesadaran baru. Kesadaran bahwa bosan dan jenuh bekerja masih lebih baik dari pada bosan dan jenuh karena pengangguran. Kesadaran kalau lelah dan pusing bekerja masih terasa nikmat dibandingkan lelah dan pusing karena mencari pekerjaan. Sederhananya sebut saja rasa syukur. Rasa syukur yang sebenarnya tidak baru-baru amat tapi lebih karena saya mudah lupa dan lalai.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s