Anti-Klimaks

Penulis punya kebebasan untuk mengakhir ceritanya seperti apa. Kebanyakan pembaca populer kerap menuntut akhir cerita yang bahagia. Atau setidak-tidaknya pembaca menginginkan ending cerita yang tidak terlalu meleset dari dugaannya.

Tapi apa mau di kata. Tidak semua penulis merasa harus membuat cerita sesuai keinginan pembaca atau penggemarnya. Di Indonesia, terakhir saya membaca kumpulan cerita pendek bertema absurd karya Maggie Tiojakin, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa. Tema ceritanya cukup menyegarkan dan tentu saja absurd. Maggie mengartikan absurd dengan menuntaskan akhir cerita menjadi sesuatu yang tidak populer alias tidak enak. Tidak enak bagi yang terbiasa membaca cerpen happy ending.

Selesai membaca Maggie, saya beralih ke karya penulis asal Jepang Haruki Murakami. Sebelumnya saya sudah kenal dengan karya Murakami berjudul Norwegian Wood sejak kuliah. Merasa belum tertarik dengan tema percintaan remaja Jepang, saya pun lebih memilih melewatkannya. Pada akhirnya saya menghabiskan cerita Norwegian Wood dari film. Membosankan memang ceritanya.

Beruntung Gramedia menerbitkan karya perdana Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin, dan tanpa pikir panjang saya langsung membacanya. Kali ini saya merasa bisa menerima ceritanya. Entah mengapa, ada satu tokoh di novel itu yang karakternya tak jauh beda dengan saya. Mungkin karena itu saya bisa menerimanya.

Terkadang, sebelum membaca karya seseorang saya merasa dituntut untuk tahu karya awal si penulis. Berbekal membaca karya awal Murakami ditambah dengan referensi dari teman akhirnya saya memutuskan membaca dua novelnya yang berjudul 1Q84.

Hasilnya….mengejutkan. sebenernya tidak terlalu mengejutkan. Karena bukan pertama kali saya berhadapan dengan novel yang memiliki akhir cerita menggantung. Tapi menghabiskan waktu berjam-jam dan berhari-hari untuk membaca dua jilid buku setebal 516 dan 452 halaman jadi terasa buang-buang waktu ketika di akhir cerita novelnya menggantung tak tentu arah. Itu resiko membaca, menurut saya. Dan penulis tidak perlu merasa harus bertanggung jawab jika ceritanya tak populer.

Saya enggan membahas soal karakter tokoh-tokoh di novel 1Q84. Pertama, kapasitas saya tidak mumpuni untuk mengupas masing-masing karakter. Kedua. Saya tidak punya alasan untuk yang kedua. Tapi apa yang saya rasakan usai membaca 1Q84 hampir serupa ketika selesai membaca Musashi. Anti-klimaks.

Mungkin era sudah berubah. Penulis zaman sekarang bisa lebih bebas menulis dan penerbit pun tidak terlalu ambil pusing kalau ceritanya berpotensi tidak diminati pembaca lantaran akhir yang anti-klimaks. Terlepas dari itu semua dan hal-hal yang tidak bisa dibahas di sini, mungkin saatnya saya segera memulai. Memulai satu cerita yang hanya bisa mengisi ruang angan-angan. Tak peduli betapa absurd-nya cerita saya nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s