Berdamai

Baru kali ini saya bisa menikmati tontonan film gratis karya-karya sineas dari Benua Eropa. Berangkat dari tawaran seorang teman ditambah waktu luang saya coba melipir ke sajian Europe on Screen di Goethe Institute beberapa waktu lalu. Tak ada salahnya keluar dari rutinitas harian dimana, biasanya selepas deadline lepas saya lebih memilih pulang ke rumah.

Hasilnya tidak mengecewakan. Film pertama yang saya saksikan berjudul Christmas Tango. Bercerita tentang pos penjagaan tentara di sebuah pedesaan Yunani. Suatu ketika sang jenderal meminta kepada anak buahnya agar tetap menjaga wilayah dan tidak diperkenankan satu pun prajurit untuk pulang ke rumah, padahal saat itu hari sedang mendekati perayaan Natal.

Hal yang lumrah dalam setiap perayaan hari agama, setiap orang ingin berada ditengah-tengah keluarga. Berkumpul, bercerita, makan bersama, saling menjenguk satu sama lain. Tapi semua itu terlarang dilakukan oleh prajurit-prajurit di bawah komando Kolonel Manolis Loggos. Pemimpin yang kaku, konservatif tapi memiliki istri yang sangat muda dan cantik.

Untuk mengusir rasa jenuh dan agar pasukan terhibur di hari Natal, mereka membuat sebuah hiburan makan malam dengan diiringi sajian band musik. Konflik terjadi saat masing-masing karakter ternyata memilik hasrat atau keinginan yang saling terkait. Sang Kolonel, yang selalu menjaga wibawa di hadapan anak buah ingin bertugas ke pusat. Sementara istrinya, Zoi Loggou, sangat menginginkan menari Tango. Namun yang paling pelik adalah konflik yang dialami oleh Letnan Stefanos Karamanidis. Stefanos merupakan bawahan Sang Kolonel yang diam-diam jatuh cinta kepada Zoi.

Pada suatu malam, Stefanos mengetahui bila Zoi begitu menginginkan menari Tango. Hal itu dipastikan ketika Zoi mengajak suaminya menari tapi dia menolaknya mentah-mentah. Beruntung Stefanos memiliki anak buah, Lazaros Lazarou, yang mengetahui tentang tarian Tango. Stefanos pun memaksa Lazaros mengajari Tango.

Di sisi lain, Lazaros sendiri memiliki masalah yang pelik. Ibunya sedang sekarat dan dia diminta segera datang padahal kesatuannya melarang pergi keluar barak. Sadar Lazaros dibutuhkan Stefanos, ia mencoba melobi atasan agar bisa pulang untuk menjenguk ibunya sebagai balasan telah mengajari Tango. Di sinilah semua ego terlihat. Konflik pun dimulai.

Di ujung cerita, akhirnya Stefanos yang solitare bisa menari dengan Zoi. Bahkan lebih dari itu. Ia mampu menyatakan rasa cintanya kepada Zoi ditengah-tengah tarian. Sang Kolonel pun mendapatkan apa yang diinginkannya, yaitu mutasi ke wilayah pusat. Hanya Lazaros yang tidak mampu bertemu dengan ibunya yang sedang sekarat di rumah sakit.

Namun hebatnya, Lazaros bisa berdamai dengan dirinya. Ada sebuah adegan ketika ia mencoba melarikan diri dari barak saat Stefanos belum sepenuhnya mengusai Tango. Namun Lazaros memutuskan kembali ke barak. Ketika kembali, Stefanos pun bertanya, “Mengapa kamu kembali lagi?”

“Saya tidak ingin orang lain merasakan pahitnya kehilangan sesuatu yang menjadi harapannya. Sama seperti yang saya alami (tidak bisa bertemu ibunya),” jawab Lazaros. Jawaban yang saya kira klimaks dari film itu sendiri.

Setiap orang pasti memiliki harapan atau cita-cita. Kata orang harapanlah yang membuat orang tetap hidup dan optimistis menghadapi beragam persoalan. Meski terkadang apa yang kita inginkan belum tentu terwujud tapi sebagian di antara mereka masih tetap terus berharap. Tidak melulu berharap dengan apa yang diinginkan atau didapatkan namun bisa juga harapan itu berganti dalam keinginan atau capaian lainnya. Atau bisa juga seperti sosok Lazaros yang mesti cita-cita untuk bertemu ibunya yang sekarat kandas, ia memilih berdamai dan membantu harapan orang lain. Berdamai yang menurut versi Sumardianta, yaitu bersabar, bersyukur, dan bersahaja.

Pahit memang bila kita harus kehilangan cita-cita apalagi orang yang sangat dicintai. Tapi akan selalu ada pelajaran berarti dibalik itu semua bagi mereka yang mau mencari. Harapan, sesuatu yang tidak mudah untuk membangunnya, merupakan obat mujarab untuk proses pemulihan dari rasa kecewa. Tidak mudah berdamai sambil terus membangun harapan usai mengalami kegagalan atau kehilangan.
Well, saya bukan trainer atau motivator. Masing-masing dari kita memiliki sumber untuk terus memelihara harapan atau cita-cita terhadap sesuatu. Ada yang memilih mendatangi seminar motivasi, membaca buku, berbagi dengan sahabat atau keluarga, menonton film, beribadah, masih banyak lagi. Pada satu titik, hanya anda sendiri yang lebih tahu tentang dirinya anda. Dan bila anda tidak tahu tentang diri sendiri itu artinya anda sedang tersesat. Saya pernah tersesat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s