Jauh Mimpi Dengan Ingin

Pernah ku simpan jauh rasa ini
Berdua jalani cerita
Kau ciptakan mimpiku
Jujurku hanya sesalkan diriku
(Peterpan)

Masalah adalah ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Siapa manusia di muka bumi ini yang tidak pernah punya masalah? Rasanya tidak ada. Kalau pun memang tidak ada, itu hanya soal waktu saja atau tingkat kesadarannya masih sebatas mata kaki alias dangkal.

Apa jadinya bila Allah menegur ketika kita mesti mengambil sebuah keputusan di ujung batas waktu? Sebuah perasaan dan pengalaman yang sebenarnya sulit untuk dijelaskan. Pertama karena kita tidak tahu betul bentuk dari teguran itu. Sebuah ketidakpastiaan atau ketidakyakinan sehingga sederhananya saya menyebut sebagai teguran.

Perlu hati dan pikiran jernih untuk menyimpulkan bahwa sebuah bisikan atau dorongan hati dari tempat antah berantah saya sebut sebagai sebuah teguran. Bisa jadi itu adalah bisikan setan yang sedang menggoda dan mencegah kita untuk menunda melakukan kebaikan.

Ada sebuah analogi sederhana yang mungkin bisa memberikan sedikit pencerahan. Suatu ketika ada seorang pendaki gunung yang siap mendaki gunung. Ini kali pertama dia hendak mendaki gunung. Semua persiapan sudah dilakukan, mulai dari peralatan, peta, hingga cerita-cerita dari pengalaman orang lain yang sudah pernah mendaki gunung sasaran sang pendaki.

Hari yang dinanti pun tiba. Ketika dia menjejak kakinya di pintu gerbang masuk menuju pendakian pertama, tiba-tiba muncul seseorang yang bertanya.
“Mau kemana Anda?”
Dengan sigap dijawab, “Mau mendaki gunung ini.”
“Oh begitu, kalau begitu mau kemana Anda?” tanya lagi orang asing itu.
“Saya mau mendaki gunung ini,” jawab pria itu.
“Begitu ya. Jadi Anda mau mendaki. Betul Anda mau mendaki gunung ini?” tanya lagi orang itu.
“Iya betul. Saya sudah datang jauh-jauh dan mempersiapkan segala untuk mendaki gunung ini,” jawab pria itu.

Tak disangka, orang asing itu kembali melontarkan pertanyaan yang sama namun dengan variasi yang berbeda. Terus menerus, sampai pada akhirnya semangat sang pendaki untuk mencapai puncak berangsur-angsur luluh, seperti ice cream dihujani hawa panas. Dia tak mampu menjawab lontaran pertanyaan yang sama yang tanpa bosan dilontarkan orang itu.

Ada kalanya, kita merasa yakin dengan segala persiapan yang sudah dihimpun. Tapi ketika hari yang ditunggu tiba, semua runtuh tak berbekas. Situasi menjadi gamang, berkabut. Motivasi dan mimpi yang selama ini menjadi bahan bakar terasa gelap dan simpang siur. Dengan mudah orang menyebut situasi seperti itu adalah kepengecutan, ketakutan atau tidak berani, ketidaksiapan. Seperti sebuah tim sepakbola yang selalu menang di babak penyisihan namun keok di babak grand final. Tak punya mental juara. Boleh lah disebut seperti itu.

Pasti ada yang salah ketika mimpi kita ternyata jauh dari keinginan. Perih memang menghadapi situasi seperti ini. Seperti mendapat tamparan keras. Bawa bekal lengkap tapi tak punya kemampuan untuk mendaki ke puncak gunung. Apa yang salah? Dimana letak masalahnya? Atau ini semacam faktor x.

Cara termudah untuk tahu letak masalah itu ada pada niat pada langkah pertama. Ada yang menganalogikan niat itu serupa hentakan busur panah. Sekali anak panah terlepas maka dia akan meluncur deras menuju sasarannya. Lurus dan terarah. Bila tanpa penghalang maka anak panah akan mendarat pada sasarannya.

Tapi kenyataannya antara niat dan sasaran seringkali tidak setegas seperti melontarkan anak panah. Ada ruang yang disebut proses. Disinilah pergulatan terjadi. Kadang melemahkan, kadang menguatkan. Selama masa ini juga mestinya niat baik harus selalu dipelihara dan dipupuk dan itu yang bisa menguatkan. Namun ada juga kelalaian. Situasi yang membuat kita terlena. Kita terlalu memikirkan hal yang belum pasti terjadi. Tanpa ada jeda untuk mengevaluasi, situasi itu bisa melemahkan. Menyiksa sekali.

Tak ada jalan lain, selain kita harus jujur terlebih dahulu ke diri sendiri. Pengakuan bahwa, ada sisi lain yang lolos dari perhitungan kita. Bisa dideteksi bila kita mau terbuka dan berdamai dengan diri sendiri. Jadi jalan terbaik adalah evaluasi diri dan akui bahwa ada yang salah dengan langkah kita. Berat memang. Tak perlu memutar atau balik arah. Kita hanya perlu berhenti sejenak dan melihat jejak langkah yang sudah kita lalui. Apa ada jejak keangkuhan yang ditinggali.

Ketika kita menemukan jejak persoalan maka tidak perlu mengulangi perjalanan dari awal. Mungkin yang diperlu oleh pendaki gunung itu hanya sebuah kepasrahan total bukan peralatan mendaki yang bisa menambah beban berat pendakian. Kabarnya keikhlasan yang membuat setiap pekerjaan dan ikhtiar yang kita lakukan menjadi terasa ringan dan berkesan. Ilmu yang belum tentu dimiliki semua orang.

*Tapi ngomong-ngomong judul tulisan ini kayanya sinetron FTV deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s