Tentang Cinta

art-love

 

 

Jauh mimpi dengan ingin

 

Pria baik-baik untuk perempuan baik-baik. Begitu juga sebaliknya. Sebut salah satu ayat dalam Alquran yang saya tidak tahu persis surah dan kelanjutannya seperti apa. Ada orang yang menyebut kalau jodoh kita tak beda jauh dengan perangai atau kebiasaan kita. Semacam cerminan atau bagian dari refleksi lawannya.

 

Ada satu definisi jodoh yang saya dapat dari seseorang yang telah menikah selama tujuh tahun dan memiliki dua orang anak. Jodoh itu kalau ada masalah sebesar apapun selalu saja ada solusi. Tapi kalau sudah bukan jodoh, ada masalah seujung kuku pun rasanya susah sekali dicari solusinya apalagi ngejalaninnya. Saya bisa menerimanya.

 

Di sisi lain, saya sedang membaca buku berjudul Tentang Cinta karya Alain de Botton yang meski sudah dua kali dibaca tetap tidak pernah sampai ke ujung. Hampir setengah perjalanan buku saya baca, penjelasannya sangat menggoda sekaligus menggelitik. Satu yang saya ingat yaitu, ketika Alain menuliskan bila seseorang sedang jatuh cinta biasanya mereka mendekati sesuatu yang berbau filsafat. Entah itu berlagak menjadi bijaksana atau tidak, berlagak menjadi dewasa atau tidak, mencoba untuk berkorban atau tidak, berlagak menjadi puitis sekaligus romantis atau tidak. Setidaknya itu yang saya pahami.

 

Terlihat random. Di buku yang lain. Ada yang menjelaskan kalau seseorang yang berencana menuju pernikahan laiknya menuju tikungan dengan mengendarai sepeda motor. Sang tokoh dituntut untuk hati-hati ketika mengatur tempo berbelok. Harus pas antara gas dan rem. Salah-salah malah bisa terjatuh. Apalagi ditambah hujan.

 

Ya, seperti itulah sepenggal perjalanan manusia dalam mencari jodoh atau menuju jenjang pernikahan. Dari agama, budaya sampai logika dan banyak lagi lainnya mencoba memberi penjelasan. Cara yang ditempuh pun beragam. Ada yang berpacaran. Ada yang dijodohkan. Ada yang menyerahkan sepenuhnya kepada institusi atau pribadi tertentu. Semua demi menyatukan hati. Satu organ yang katanya tidak memiliki pasangan dalam tubuh manusia.

 

Jodoh. Satu dari tiga hal yang penuh misteri. Sedikit manusia yang bisa memahami. Dan lebih sedikit lagi manusia yang benar-benar mau menerima bila telah ditetapkan. Itu mungkin sebabnya Tuhan menjadikan jodoh, usia, dan rezeki menjadi misteri. Akan lebih baik bagi hamba-Nya untuk tidak mengetahui dengan pasti. Biar yang diingat bukan jodohnya, rezekinya, atau usianya tapi yang Maha Pemberi.

 

Kalau dipikir-pikir jodoh itu serupa bintang tua. Dari kejauhan kita melihat ada seberkas cahaya padahal ternyata bintangnya sudah mati. Yang kita lihat hanya perjalanan cahayanya menuju ke bumi. Tapi ada juga cahaya bintang yang memang berasal dari binatang yang masih hidup. Mungkin yang kedua disebut jodoh. Dan mungkin itu yang disebut filsafat bagi orang yang sedang mengalami kegagalan tentang cinta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s