Hidup

Kalah

Gak ada yang bisa dibicarakan di bulan Maret selain kekalahan. Kalah tak bisa khusyu dalam solat. Kalah tak serius dalam bekerja. Tapi sejak kapan solatku bisa khusyu? Ah, malu rasanya bila bicara soal amal ibadah. Pontang-panting tak karuan. Azan berkumandang pun pantat masih menempel erat di kasur. Kadang jari-jemari masih asyik bergoyang mengolah laporan padahal bisa sejenak ditunda.Padahal azan adalah panggilan kemenangan.

Belum lagi bicara kebejatan lainnya. Ah, makin rusak dan runyam rasanya jiwa ini. Tak mengenal rasa malu lagi. Padahal malu itu pertanda keimanan. Makin pekat lah ini hati. Kotor. Berjelaga. Tak ada pembersih yang mampu mengembalikan seperti dahulu. Ah, makin malu aku mencoba membandingkan dengan kata ‘dahulu’. Padahal dahulu pun tak beda jauh.

Logikanya bagaimana bisa orang-orang kalah menerima panggilan kemenangan. Atau memang itu tujuan azan sesungguhnya. Memanggil orang-orang kalah? Andai hati memiliki pasangan, seperti mata, tangan, kaki, ginjal, atau paru-paru. Ingin rasanya membuang hati ini dan menyisakan satu bagian saja.  Sebab terlampau sudah bau membusuk.

Begitu pun dengan pekerjaan. Ah, pekerjaan. Apa itu pekerjaan? Tak pernah serius menjalaninya. Nyatanya hanya mengugurkan kewajiban semata. Hanya lelah dan buang-buang uang saja yang didapat. Tak ada ruh apalagi semangat. Jalan tak tentu arah. Hanya mengikuti arahan. Seperti ikan mati yang mengikuti arus sungai.

Selamat buat Aditya Budiman. Anda adalah orang kalah. Silahkan dinikmati kekalahan ini. Hirup hingga ke ujung paru-paru agar engkau ingat dan terus membekas. Kunyah perlahan agar lidahmu akrab dengan rasanya. Tak perlu risau. Sebab si kalah akan kembali datang. Entah di April, Mei, Juni atau mungkin sepanjang 12 purnama di 2013 ini. Tanpa sadar, setiap pagi ketika beranjak dari kasur dan menatap cermin engkau sedang merencanakan kegagalan. Kekalahan.

Menang

Tenang saudara ku. Allah tak melihat soal kalah atau menang. Ia Maha Adil dan Maha Tahu. Ia hanya mengingatkan agar umat-Nya tak mudah berputus asa. Menang dan kalah hanya ujung dari proses ikhtiar yang bisa jadi panjang atau pendek. Itu sebabnya niat menjadi tulang punggung selama proses ikhtiar.

Berlarut-larut dalam kesedihan hanya akan membuat kita makin kalut, mudah berburuk sangka. Seolah-olah hanya kita seorang manusia yang paling sengsara di dunia. Padahal yang diperlukan hanya sedikit waktu untuk melihat dan menakar rasa syukur. Meski syukur tak mampu dihitung.

Rasanya lebih singkat menuliskan kemenangan dibanding kekalahan. Padahal dibalik keduanya sama-sama menyimpan perjuangan dan pengorbanan. Dua hal yang kerap sulit dirasa manusia. Padahal itu yang disebut kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s