Pilu, Kelu, Malu, Rindu

Pilu sepekan terakhir ini mengambang di kamar gelapku. Sulit sebenarnya menggambarkan rasa ini. Pilu hanya mewakili aneka gambaran buram. Seperti engkau melihat pemandangan dari balik kaca mobil saat hujan turun dengan deras. Tak jelas, hanya berupa gambaran samar-samar. Tapi kita tahu jika yang ditatap ada deretan rumah atau pepohonan.   

Kelu pun masih membuntuti dengan setia usai semua rasa tumpah ruah. Hanya bisa membayangkan tanpa bisa menatap. Hanya bisa duduk diam tanpa bisa bersuara. Sumpah mati aku benci semua ini. Tapi tak mengapa mungkin soal waktu.

Malu masih menggelayuti dan diam-diam meresap dengan mantap ke setiap tulang punggung. Laksana perang, luka ada bagian yang mesti dialami. Begitu juga malu yang mesti kutanggung sebagai konsekuensi dari keberanian. Atau mungkin kenekatan?

Rindu telah menjadi candu. Membuat gusar tiap pagi tiba. Lalu meracau bila malam melangkah. Berharap tiap rintik hujan bisa melarutkan semua rindu ini.       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s