Prasangka

Kejadian kecelakaan yang menimpa penumpang angkot Annisa Azwar bisa jadi pelajaran penting tentang bagaimana sebuah persepsi bisa begitu kuat membentuk realitas. Berangkat dari sebuah prasangka, dugaan, mungkin juga kecurigaan terhadap gejala yang terjadi disekitarnya. Aksi seseorang bisa melahirkan respon terhadap perilaku kita selanjutnya. Salah dalam bereaksi ternyata bisa berakibat fatal.

Saya sendiri tidak hafal betul apa yang sebenarnya terjadi antara almarhum Annisa dengan sang sopir angkot. Kabar yang beredar, Annisa merasa curiga sang sopir bakal menculiknya lantaran rute angkot yang dinaiki berbeda dari biasanya. Sadar rute angkot berubah, Annisa pun nekat lompat dari angkot. Apakah dia sempat meminta sopir untuk berhenti atau tidak, tak tahulah itu. Atau apakah sopir juga nekat menolak berhenti meski sudah diminta, tak tahu juga kita secara pasti. Satu fakta jelas terlihat adalah bahwa angkot keluar dari rutenya. Terlepas dari menghindari kemacetan atau tidak.

Pada skala kecil, proses berpikir yang dilakukan oleh Annisa pernah saya alami. Sebuah kejadian yang sebenarnya bisa saya antisipasi tapi karena terlalu percaya akhirnya saya mesti menerimanya dengan pahit, sepahit-pahitnya. Kejadian ketika ijazah SD saya rusak tergilas mesin laminating. Hampir setengah bagian dari ijazah mengkerut ditimpa suhu panas dari sang mesin.

Pada mulanya saya sudah merasa khawatir kalau sang pekerja yang notabene seorang anak berusia tak lebih dari 12 tahun mengaku bisa melaminating. Saya percaya saja. Tapi dilihat dari caranya memperlakukan mesin dan memegang plastik laminating, dalam sekejap saya pun menaruh curiga. Terlambat, saat dia memasukkan ijazah yang sudah diselimuti plastik ke dalam mesin, seketika itu juga sang mesin macet. Bang, ijazah saya tersangkut di dalam. Dengan paksa dia menarik, hancurlah setengah bagian ijazah seperti daun yang terbakar.

Malcolm Gladwell, dalam bukunya Blink, bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir tanpa berpikir dengan gamblang menjelaskan soal orang-orang hebat di bidangnya masing-masing yang bisa dengan mudah menilai dengan akurat dan cepat. Tak ada istilah berpikir tanpa berpikir. Itu cuma slogan. Malcolm hanya ingin melatih kita bagaimana membuat penilaian terhadap sesuatu bisa lebih akurat dengan cepat. Blink. Sekali melihat.

Saya pernah melakukannya ketika menilai tulisan seorang teman. Dari struktur dan gaya bahasanya terlihat tak biasa. Saya pun menilainya kalau dia sedang sakit. Ternyata tak meleset. Setidaknya dia mengaku sedang tidak enak badan.

Namun tak semua yang kita rasa nilai bisa mengundang kebenaran 100 persen. Selalu ada kemungkinan akan sejumput kesalahan. Mungkin itu yang terjadi dengan Annisa. Bukan berarti saya menyalahkan Annisa. Tidak, bukan dalam konteks itu.

Manusia dewasa tak beda seperti lilin. Mereka sudah membangun karakter dan sifat sejak lahir. Semua itu lahir dari pengalaman hidupnya dan informasi yang berkembang. Dalam komunikasi ada yang disebut stereotip. Karakter yang melekat pada sesuatu yang sebenarnya dibangun dari sebuah proses yang agak keliru. Seperti misalnya, gerembolan suku tertentu yang dicap sebagai tukang ribut. Atau dalam kasus ketika aksi terorisme sedang marak, orang Amerika begitu ketakutan dengan pria yang memiliki nama arab dan berjanggut lebat.

Sesuatu yang ada pada stereotip pada dasarnya harus kita timbang dan uji lagi. Jika anda terjebak dalam angkot seorang diri lalu angkot tersebut keluar dari rutenya, sangat wajar menaruh curiga. Verifikasi merupakan jalan utama untuk memperkuat penilaian. Tapi sebenarnya ada faktor lain yang sifatnya situasional. Cara terbaik adalah melakukan verifikasi.

Dalam kasus Annisa, dia sudah melakukan verifikasi. Terlihat dari alibi sopir yang mengaku keluar rute karena untuk menghindari kemacetan. Cukup masuk akal bila itu terjadi di saat jam kerja. Bagi penumpang yang sudah setiap hari menaiki angkot tersebut dan sedang dikejar waktu, bisa jadi justru akan mendukung aksi si sopir dan bahkan menyarankannya untuk mencari rute lain. Tapi ternyata situasinya berbeda. Dan terjadinya kejadian itu. Annisa lebih memilih melompat dari angkot. Dengan atau tanpa sepengetahuan sang sopir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s