Jalan Terus

Kamis malam, 31 Januari 2013 sebuah pesan hinggap di telepon saya. Dengan sedikit perubahan gaya penulisan sengaja saya ubah agar lebih enak dibaca. Begini isinya:

Saya pengen jadi THE WINNER FULL

Saya ga mengatakan, menjadi berat buat muslim atau muslimah untuk masuk ke politik sekarang ini. Apalagi untuk jadi pemimpin. Sebab sekarang orang udah apatis, alergi, putus asa, bahkan benci, membawa agama ke urusan politik. Dan situasi ini jika dibiarkan maka akan berimbas kemana-mana. Seakan-akan agamanya yang cacat. Islamnya yang kotor.

Padahal ampuuuuun yaaa Allah, jika itu benar terjadi kecacatan, maka pemeluknya yang salah. Nah, jadilah The Winner Full. Lihatlah ini sebagai peluang. Tunjukkan bahwa muslim bisa jujur, bersih, manfaat. Bisa disiplin, bisa rapih, bisa hidup tertib. Baik di bidang politik, juga di bidang-bidang yang lain: dunia usaha, jadilah muslim yang jujur, tapi agresif FULL, kreatif FULL, mumpuni, profesional. Di dunia ketentaraan, dunia pendidikan, dunia pelajar, mahasiswa, tunjukkan, tunjukkan, tunjukkan.

Saatnya bangkit! Kita tunjukkan kepada Allah, bahwa Islam masih sangat pantas jadi solusi untuk Indonesia dengan segala kompleksitas permasalahannya. Jangan sampai, Islam Indonesia dan pemeluknya yang dibombardir habis dengan seluruh kejadian yang menyakitkan, mengecewakan, akhirnya jadi kekecewaan, keputusasaan, kelemahan, dan bertambah-tambah lemah, dengan apatis, ga mau lagi pake agama, kecuali di masjid. Ini bahaya.

Survei yang baru-baru ini dilakukan oleh satu lembaga menunjukkan bahwa para orang tua muslim udah sangat melarang anaknya jadi politikus. Melarang anaknya jadi anggota dewan. Melarang anaknya jadi pemimpin. Segudang kelemahan dikeluarkan, sehingga nanti bisa-bisa negeri ini diserahkan sama yang bukan muslim. Juga urusan-urusan lain; perdagangan, usaha, bisnis, pendidikan, dll. Sungguh ini bahaya.

Sekali lagi, jadilah the winner. Saatnya kita menunjukkan the beauty of Islam. Maaf ya, saya menulis ini BUKAN PENGEN JADI SIAPA-SIAPA di negeri ini. Saya justru tertantang untuk ikut melahirkan para pemimpin masa depan, pengusaha masa depan, yang mewakili citra Islam yang beauty. Mudah-mudahan semua gerakan pendidikan & ikhtiar, diridhai Allah. Yusuf Mansur

Kampus tempat kali pertama saya bertemu dengan beragam nilai dan isme-isme yang berhulu dari sudut-sudut sunyi dunia. Tak tahu kapan persisnya, tapi Masjid Ibnu Sina di Unpad Jatinangor menjadi tempat goncangan spiritual pertama saya. Dari seorang yang bernama Hakim, mahasiswa Jurusan Fisika. Malam itu perjalanan sunyi baru saja dimulai. Perjalanan selama lima tahun yang penuh dengan pahit, manis, canda dan tawa. Dari sebuah ikatan yang lumrah dikenal dengan nama Ukhwah Islamiah.

Di redupnya kamar saya mencoba merekonstruksi hal-hal muskil, mungkin juga manja, bisa juga melankolis, boleh disebut romantisme. Apa sajalah asalkan bisa mengurangi perasaan murung yang sedang menderas kencang akhir-akhir ini.

Langkah pertama dimulai ketika mencari kontrakan. Sengaja memilih tak jauh dari mesjid agar mudah akses untuk solat. Tak pernah disangka justru keputusan itu membawa saya ke sebuah pemahaman tentang keislaman. Lantaran sering berkunjung ke masjid untuk solat, lambat laun akhirnya berbincang ke soal politik. Hingga, singkat cerita, kepada pilihan untuk berlabuh di kelompok mana.

Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bergabung ke satu kelompok yang cukup dominan, di sisi lain dalam pemikiran dan perasaan saya tetap berpegang ke tali intelektual. Sebuah pilihan yang saya rasa cukup relevan dan netral saat ini. Saya sebagai muslim juga sebagai pelajar.

Label sebagai muslim saya nilai lebih kepada situasi saja. Faktor eksternal dan teman sehari-hari. Sebab ada jutaan mahasiswa yang solat lima waktu, mengaji, tilawah, menolak berpacaran, tidak merokok, pakai celana bahan, mengucap salam saat bertemu dan masih banyak lagi.

Sementara label intelektual, khususnya citra mahasiswa Jurusan Jurnalistik, tak terlampau tegas terlihat. Mahasiswa yang terlanjur dinilai cuek, begajulan, kritis, non partisan, anti mainstream, skeptis sedikit menempel pada saya. Saya sendiri hanya mengambil sisi skeptis dan kritis. Sikap meragukan segala hal, kecuali Allah dan Rasul-Nya.

Di antara dua ujung itu saya bermain seperti anak kecil menemukan ayunan. Kadang ada di label muslim, kadang di label calon jurnalis. Sikap itu akhirnya berdampak ke segala hal, salah satunya adalah pilihan membaca dan cara pandang. Dampak lainnya, terlalu panjang untuk ditulis. Sebagian ada di tulisan blog saya.

Hari Ini            

Dengan status sebagai bagian anggota masyarakat. Tidak lagi seorang mahasiswa. Segala sikap patut dipikirkan ujung atau konsekuensinya. Tuntutan ini merupakan warisan dari sebuah peradaban manusia. Segala kompleksitas hubungan manusia harus dijalani meski dengan bekal seadaanya.

Dulu, keputusan saya untuk menerima dengan ikhlas label sebagai seorang anak mesjid dan bergiat di dalamnya mungkin setara dengan seorang perempuan yang memutuskan untuk mengenakan jilbab. Dengan senang hati dan berkelompok saya menjalani. Begitu juga sebaliknya, saat berganti jubah menjadi mahasiswa jurnalistik.

Tapi kini serasa ada tuntutan lain. Ya, serasa. Berarti lebih banyak perasaan yang berkecamuk. Di tengah derasnya informasi dan raungan media sosial tak terasa nilai-nilai yang dulu jalan beriringan seolah terlepas.

Pesan dari Yusuf Mansur lewat seorang teman diatas sebenarnya sudah pernah saya alami ketika di kampus dulu. Bedanya, waktu itu isu terorisme lebih nyaring mengancam kehidupan mahasiswa yang bergiat dalam lingkaran masjid. Ketakutan dan kekhawatiran serupa terjadi hari ini.

Penghujatan terhadap satu kelompok kembali terjadi. Dampaknya ada yang menyeret-nyeret hal yang tak berkorelasi dengan kelompok itu sendiri. Ini reaksi atas ketidaksukaan yang terpendam lama dan bisa jadi juga reaksi dari kader kelompok itu yang kurang elegan ketika menghadapi persoalan dulunya. Serupa bom waktu. Tinggal menunggu momentum yang tepat untuk meledak. Ada sebuah gerakan ketidaksukaan yang mengakar. Berakumulasi dan saat meledak, berguncanglah sampai hancur menembus titik terdalam.    

Kekhawatiran seorang Yusuf Mansur juga saya rasakan. Bahwa ada generalisasi. Dan memang mudah sekali kita men-generalisasi. Ketakutan orang tua akan perkembangan anaknya. Imbas tayangan televisi seputar kasus-kasus ataupun program lainnya seolah membawa pesan janganlah terlalu soleh mendidik anak-anak. Agama cukup di masjid saja. Solat jamaaah cukup saat Jumaatan saja. Berbaju muslim cukup Idul Fitri atau Idul Adha saja. Yang penting perilaku. Tak perlu atribut. Jangan tunjukkan kesolehan dan ketaatan mu di hadapan orang lain. Cukup dalam kamar saja kita bicara agama.

Bolehlah pakai jilbab tapi janganlah terlalu longgar. Bergaya lah sedikit. Nanti kau dikira bagian dari kelompok tertentu. Atau pakailah kerudung rapat dan tertutup saat kau jadi pesakitan di pengadilan. Tapi memang kita gak bisa menghindari kenyataan kalau memang membawa nilai Islam dalam politik itu berpotensi mengundang kebencian, sinis, amis, kaku. Tak salah jika ada yang menyebut, “Berpegangan pada agama di masa sekarang sama seperti memang bara api.” Saya lupa ini hadits atau hanya ungkapan saja.    

Banyak orang yang menggugat agama. Mencoba menyamakan apa yang ada di sisi belahan Barat dengan sisi belahan Timur. Mereka yang baru saja menebus gelar master di universitas ternama dengan jurusan keilmuan yang sulit dieja mencoba mengoreksi nilai agama sementara dia pun belum mencoba menekuni agamanya.

Atau mereka yang mencoba mengawinkan pemahaman Barat dengan Timur atau Islam dengan Barat menjadi varietas lain yang lebih sopan, damai, dan berintelektual. Sehingga tak perlulah religius yang penting itu tidak kriminal. Padahal selalu ada pilihan untuk religus dan tidak kriminal juga. 

Pada akhirnya keyakinan itu harus diuji. Sebab surga itu mahal dan bukan sembarang orang yang bisa masuk. Kalau murah meriah masuk ke surga atau meraih ridho Allah maka tak perlulah ada ujian segala. Jadi, jalan terus saja. Pada akhirnya hati yang bisa dijadikan rujukan.

Wallahualam bi shawab  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s