Gandir

Suicide

Ah terlampau seram

Harakiri

Uh, terlalu lembut

Gandir

Yah, bolehlah. Lebih bernuansa lokal.

Gantung Diri

Gantung diri atau biasa disingkat Gandir. Sebuah sebutan khas di antara para wartawan bagi orang yang nekat menghabiskan nyawanya dengan cara melilitkan leher dengan tali atau benda sejenisnya. Yah, semua orang tahu itu. Tapi perlu saya jelaskan karena gantung diri tak selalu bisa mengakibatkan kematian jika yang digantung adalah kaki sementara si kepala berada di bawah.

Sebelum saya memuntahkan segala kekesalan sepanjang hari ini, ada sebuah kutipan doa dari seorang sahabat Rasulullah saw, yaitu Saad bin Abi Waqash :

Tuhanku, jika nanti aku berjumpa dengan musuhku, berilah aku musuh yang tangguh dan perkasa. Aku berusaha membunuhnya dan dia berusaha pula membunuhku. Engkau berikan kemenangan kepadaku sehingga aku berhasil membunuhnya dan mengambil miliknya.

Kutipan doa itu menjadi prolog buku Islam Kiri yang ditulis oleh Eko Prasetyo. Dan dengan keyakinan penuh dia berani menulis bahwa itu adalah doa kaum Islam Kiri.  Golongan yang siap mengobarkan revolusi terhadap kapitalisme dan turunannya.

Jadi begini ceritanya. Saya merasa agak muak bila mesti liputan ihwal seseorang yang tewas karena bunuh diri. Mulanya rasa muak itu besar namun makin hari terasa luntur, mungkin karena intensitasnya menjadi bertambah sehingga ada faktor pembiasaan. Mendatangi keluarga yang anggotanya nekat bunuh diri sekarang ini menjadi sesuatu hal biasa. Tak beda seperti mendatangi keluarga yang anaknya meninggal ditusuk karena tawuran.

Tapi pada hakikatnya kematian lewat bunuh diri dengan dibunuh orang lain sangat berbeda. Untuk yang kedua terbuka peluang untuk melakukan perlawanan. Sementara kematian yang pertama lebih kepada keputusasaan tak terperi. Tak terperi karena sang pelaku bunuh diri kerap membawa mati motifnya.  

Dan tadi, saya mesti datang ke rumah seorang pengusaha yang tewas gantung diri di rumahnya. Mengingat seorang pengusaha, jadi wajarlah jika akses masuk ke rumahnya dijaga ketat. Saya pun akhirnya gagal masuk ke dalam kompleks dan menemui keluarga almarhum.

Sebenarnya kematian adalah hal biasa. Tapi ada satu kematian yang menurut saya tidak biasa dan tidak semestinya terjadi, yaitu bunuh diri. Dalam salah satu tetralogi buku Andrea Hirata, sepenggal kisah dituturkan seseorang yang mati karena bunuh diri warga kampung memutuskan jenazahnya untuk tidak disolatkan. Sang jasad langsung dikubur dan dipisahkan makamnya. Itu mungkin titik terekstrem seseorang yang memutuskan menghabisi sisa umurnya dengan cara bunuh diri.

Dosa besar. Islam melarang bunuh diri dengan keras. Orang yang bunuh diri telah menganggap remeh Allah. Allah yang maha luas rahmat-Nya. Yang tak pernah disangka-sangka pertolongan-Nya. Dan itu hanya berlaku bagi mereka yang percaya, beriman. Agama adalah kepercayaan. Agama jika hanya dipandang sebagai sebuah hitungan matematika atau logika, tentu Tuhan tidak akan mengirimkan utusan-Nya, para nabi dan rasul. Tapi mungkin bagi sebagian orang zaman sekarang gak terlampau penting agama itu apa. Ya, gak masalah juga sih.  

So, apa hubungannya doa dari Saad bin Abi Waqash dengan Gandir. Sepertinya udah jelas. Seorang manusia jika memang harus mati maka pilihlah mati secara terhormat. Cari lawan yang tangguh, yang memang benar-benar sepenuh hati siang sampai malam ingin menjatuhkanmu. Bukan sebaliknya. Lari dari peperangan lalu memilih bunuh diri.

Aku lebih senang mati di tangan musuhku dari pada di atas ranjang. Itu mungkin maksud Saad. Hadapi masalah karena pasti ada solusinya. Dualisme seperti itu sengaja Allah ciptakan sebagai ujian buat umat-Nya. Masalah-solusi, baik-buruk, benar-salah, ganteng-jelek, kaya-miskin dan membunuh atau dibunuh. Lihat tidak ada tempat untuk bunuh diri.  

Saya gak mengenal sosok dan kepribadian sang pengusaha. Tapi di usia 35 tahun dengan segala kemewahan tempat tinggal, dua orang anak, dan ditambah seorang istri, apalagi yang mesti dikhawatirkan.  Mungkin logika saya, atau apalah sebutan untuk itu, belum seirama dengan pelaku bunuh diri. Saya juga enggan menyudutkannya. Itu pilihan yang dibuatnya dan semoga tak ada penyesalan untuk itu.

Sebenarnya mau saya buat panjang nih tulisan. Tapi males. Ini lebih kepada pelampiasan kekesalan saya. Maaf buat anda yang sudah cape-cape membaca tulisan ini. Saya cuma buang-buang waktu Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s