Surat Untuk Kanjeng Nabi

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tentu saja Nabi Muhammad saw. Seorang pemuda. Seorang suami. Seorang ayah. Seorang nabi dan rasul. Seorang panglima perang. Seorang pemimpin kaum muslimin. Seorang suri teladan.

Judul surat ini saya kutip dari seorang budayawan Emha Ainun Nadjib. Salah satu umatmu ya Rasul. Sebuah judul buku milik Emha yang sempat saya baca saat duduk di bangku kuliah. Kala itu, dengan semangat menggebu saya ingin mengenal dirimu lebih dekat ya Rasul. Salah satunya lewat bacaan Emha itu.

Dari situ saya, seorang yang berusaha mengidolakanmu di tengah semaraknya tokoh-tokoh dunia sebelum dan setelah engkau dilahirkan ke dunia. Dari mulai Socrates hingga David vokalis band Naif. Yang hingga sekarang masih merangkak dan tertatih-tatih mengikuti Sunnah-mu.

Ya, bertepatan dengan hari kelahiranmu ya Rasul, berdasar tahun masehi itu jatuh pada Kamis 24 Januari 2013, saya hendak mengirim surat. Entah melalui media apa saya berkirim nanti tapi setidaknya sudah ada niatan.

Begini ya Rasul. Dari semua peran yang engkau jalankan, saya mencoba mengikutimu sebagai seorang suami dan ayah. Sepertinya kesanggupanku hanya sampai sebatas itu. Jika berpatokan dengan itu maka seharusnya hari ini status saya adalah seorang suami. Mengingat engkau menikah di usia 25 tahun dan malam ini kaki saya menginjak angka 28 tahun. Mungkin seharusnya lebih dari itu, seharusnya saat ini saya adalah seorang ayah. Tapi itu belum terjadi.

Apa yang ingin saya utarakan adalah bahwa hingga detik ini tak ada seujung kuku pun Sunnah-mu yang dengan ajeg saya jalankan. Apalagi bila mengevaluasi setahun ke belakang, sungguh jauh, jauh sekali dari apa yang engkau sebut sebagai kriteria umatmu. Kriteria apa itu? Ya, mengikuti Sunnah-mu dengan konsisten.

Jadi apa yang kemudian saya harapkan? Harapan saya bermula dari kekhawatiran. Khawatir jika di akhirat nanti ketika malaikat bertanya: “Apakah si A. Aditya Budiman bin Iwa Budihartono adalah umat-mu wahai Muhammad Saw?” Dan jawabanmu adalah, ”Bukan. Dia bukan bagian umatku.”

Habislah saya.

Ya Rasul, jika ada seorang sahabat atau kenalan yang sedang berulang tahun, seringkali saya mengucapkan selamat dan mengalungkan doa-doa. Kadang untuk beberapa sahabat tak segan saya berikan hadiah. Tapi ketika engkau berulang tahun, saya justru mengungkapkan kekhawatiran. Dari jejak sejarah, saya tidak menemukan sahabat yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu ya Rasul.

Jadi sebenarnya bukanlah sebuah kewajiban jika saya harus mengucapkan hal itu. Ulang tahun hanya sebuah peringatan bahwa jatah hidup seseorang sebenarnya berkurang. Orang zaman sekarang begitu senang merayakan berkurangnya masa hidup di dunia.

Kembali ke soal keinginan saya untuk menirumu, ya Rasulullah Saw, dari aspek seorang suami dan ayah. Seorang lelaki bisa menjadi apa saja, tapi pasti pada akhirnya dia mesti menjadi seorang suami dan ayah. Status yang akan terus melekat di mana dan kapan pun dia berada. Dan jika saya mesti mengikutimu, ya Rasul, maka saya terlambat tiga tahun untuk menjadi seorang suami dan ayah. Setidaknya seorang suamilah.

Saya tidak ingin meminta keringanan darimu ya Rasul. Saya merasa perlu mengungkapkan hal ini sebab organisasi keluarga dewasa ini memiliki peran sentral dan strategis. Dalam oraganisasi keluargalah sebuah Negara bisa diukur apakah baik-buruk atau sukses-gagal.

Saya kesulitan melanjutkan tulisan ini. Tak ada ritme atau keteraturan. Mungkin surat ini bisa jadi awal perkenalan kita. Dan yang terpenting sebagai pengingat buat saya.

Sekian dulu ya Rasulullah. Salawat serta salam senantiasa tercurah kepadamu ya Rasulullah Saw. Kepada sahabat dan juga keluargamu. Serta umatmu hingga matahari terbit di belahan bumi barat.

Dari umatmu, Aditya Budiman di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s