Rumah

Kita punya makna sendiri tentang apa itu rumah. Dari mulai tempat berlindung sampai hanya sebatas gengsi. Ada juga yang mengartikan rumah sebagai tempat berpulang atau kampong halaman. Ruang untuk kembali menuju jati diri setelah seharian penuh berpeluh bekerja atau mungkin bertahun-tahun dalam perantauan.

Dengan sebatang rokok disela-sela jari, Juhri menuturkan kisahnya saat terjebak banjir besar pada Kamis 17 Januari 2013.   Air setinggi 1,5 cm merendam habis rumahnya di Jalan Raya Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Bagi rekan-rekan media, kediaman Juhri sudah tak asing lagi. Terletak persis di depan Kampung Apung, Juhri ada sosok Ketua RW 01 yang sangat vokal mengangkat persoalan Kampung Apung. Kampung yang sudah terendam air selama hampir dua dekade.

Saya punya beban sendiri ketika harus meliput Kampung Apung. Bagi saya, mungkin juga teman-teman media di Jakarta Barat Juhri adalah sumber berita kami ihwal persoalan Kampung Apung. Makin hari, ketika saya kembali meliput ke Jakarta Barat, Juhri tidak sekedar sumber berita. Tapi seperti sudah menjadi seorang teman. Meski usia kami terentang jauh tak ada perasaan canggung saat bicara.

Kedatangan saya disambut senyuman. Ada rasa senang dan dia menghaturkan terima kasih atas kedatangan saya. Terlambat sebenarnya saya datang, lima setelah banjir besar. Sama seperti ribuan korbn banjir lainnya di Jakarta, banjir 2013 tak beda dengan 2002 dan 2007. Kita hanya bernostalgia, serasa menyambut kawan lama yang pergi selama lima tahun dan kemudian kembali lagi.

Ceritanya pun relatif sama dengan korban banjir lainnya yang berada di pengungsian. Namun Juhri lebih memilih lantai dua rumahnya sebagai tempat berlindung sampai air merangkak turun menjadi setinggi 20 cm di dalam rumah.  Juhri hanya satu dari ribuan warga Jakarta, daerah lainnya juga, yang rumahnya terendam air.

Rumah bagi Juhri ada tempat perlindungan sekaligus juga perjuangan. Bersama sekitar 500 warga Kampung Apung, selama hampir dua dekade mereka memperjuangkan agar kampungnya bebas dari banjir. Penurunan permukaan tanah, desakan pabrik dan pergudangan menyebabkan banjir menjadi keseharian. Itu sebabnya lingkungan mereka di sebut Kampung Apung. Kampung yang mengapung di atas permukaan air. Tanah atau rumah mereka yang asli berada dua meter di bawah air.

Sementara rumah bagi saya adalah sebuah ruang untuk kembali ke jati diri. Jati diri yang akhir-akhir ini sedang diuji. Saya sendiri gak terlalu yakin apa sebenarnya jati diri saya yang sebenarnya. Mungkin perlu tes untuk itu, tapi setidaknya ada garis-garis tegas yang saya rasakan saat berada di rumah.

Persoalannya adalah kebanyakan waktu saya habiskan di luar rumah. Jadi kalau saya mengartikan rumah sebagai tempat kembali ke jati diri, hampir setiap hari saya harus kehilangan jati diri. Artinya tak ada jati diri yang ajeg dalam diri saya. Tragis. Mungkin ada tapi saya tak sepenuhnya menyadari.

Di kala banjir, rumah merupakan aset, terutama segala yang ada didalamnya. Ratusan warga Pluit, Jakarta Utara tak rela rumahnya ditinggal saat air sudah mencapai dua meter. Harta benda menjadi faktor pertimbangan dibanding harus bergeser ke pengungsian.

Kebanyakan dari kita sudah terlanjur memahami rumah sebagai sebuah bangunan permanen atau semi permanen. Rumah dalam konteks materil. Buat seorang dosen saya di kampus, makna rumah memiliki pengertian masa depan. Ia menyebutnya akhirat. Di sanalah sebenar-benarnya rumah. Sebab ada konsep keabadian. Maka sesuatu yang fana tak perlu repot kita perjuangkan dan perbincangkan terlalu serius. Saya sepakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s