Apa Itu Bahagia?

Sebelum jauh melangkah, perhatikan jejak yang kau tinggalkan

Di tengah hidangan makan malam yang seperti biasa terlambat, tiba-tiba saja kalimat itu terlontar. Entah apa maksudnya, rasanya sih karena saya sedang baca novel The Hobbit. Cerita tentang dua belas kurcaci plus seorang Hobbit yang berjuang merebut kembali emas dari sang naga, Smaug. Selain The Hobbit, di saat bersamaan saya juga membaca buku Eric Weiner, The Geography Bliss. Agak lambat membaca buku Eric ini.

Lalu apa kaitannya bahagia dengan The Hobbit dan The Geography Bliss? Yah, mungkin ada kaitannya kalau memang mau dikaitkan. Tapi gak ada kaitannya juga bisa. Sebenarnya sih lebih ke apa yang saya rasakan saat ini. Kebetulan saja pas makan malam memikirkan apa itu bahagia. Lalu teringat The Hobbit dan The Geography Bliss.

Siapa yang tidak ingin bahagia? Semua manusia, bahkan binatang dan tumbuhan pun kalau bisa bicara pasti ingin bahagia. Tapi apa sebenarnya bahagia itu? Yang pasti sih sebuah perasaan. Mungkin tidak sebuah, bisa juga beragam perasaan. Perasaan tenang, nyaman, damai atau beragam sebutan lainnya. Agak pusing dan abstrak memang kalau kita bicara konsep. Lebih enak dirasakan daripada dijelaskan.

Ada sebuah cerita menarik, saya sendiri agak lupa. Suatu ketika Abu Nawas keluar rumah membawa sebuah lentera. Abu berjalan menuju sebuah pasar yang letaknya tak jauh dari kediamannya. Belum tuntas kakinya menginjak pasar, seorang tetangganya bertanya.

“Wahai Abu Nawas, apa yang kau lakukan dengan membawa lentera di siang hari ini?”

“Aku mencari kunci rumahku yang hilang,” jawab dia sekenanya.

Makin mengkerutlah kening si tetangga.

“Kamu mencari kunci rumah sambil membawa lentera di siang hari dan menuju ke pasar. Sebenarnya dimana kamu kehilangan kunci rumahmu?”

“Aku kehilangan kunci di dalam rumah.”

Makin pusing lah itu sang tetangga.

 

Saya lupa bagaimana akhir percakapan Abu Nawas dan tetangga. Tapi ada penjelasan Abu yang masih saya simpan erat dari perilakunya yang nyeleneh itu. Abu bilang semua orang terlalu sibuk mencari-cari kebahagiaan dalam beragam bentuk. Mereka mencari di luar rumah dengan beragam cara dan petunjuk. Padahal pada hakikatnya kebahagiaan itu ada di dalam hati kita.

Orang yang mencari kebahagiaan menganggap bahagia seperti sesuatu yang hilang dan harus direbut atau diperjuangkan kembali. Seolah-olah setiap bayi yang lahir sudah membawa tas ransel yang berisi beragam kebahagian yang sudah ditakdirkan Tuhan di dunia. Si bayi, karena masih kecil dan tak berdaya, tak sanggup menjaga tas ransel yang berisi daftar kebahagiaan miliknya hanya bisa menangis ketika seorang perawat merebutnya. Sementara kedua orang tuanya terlalu bahagia melihat kehadiran sang jabang bayi.

Itulah sebabnya bayi selalu menangis ketika lahir ke dunia. Mereka menangisi tas ransel yang berisi kebahagiaan direnggut begitu saja. Maka tak heran sepanjang hidupnya manusia dewasa tak henti mencari-cari tas ransel kebahagiaan miliknya.

Dalam The Hobbit, ke-13 kurcaci bahagia ketika berhasil mendapatkan emas yang sempat direnggut oleh naga. Sementara dalam The Geography Bliss, ada ragam kebahagiaan dari aspek geografi (negara). Eric dengan naluri seorang jurnalis mencari tahu makna kebahagiaan di setiap Negara yang dikunjunginya. Orang Bhutan memiliki tas ransel kebahagiaan yang berbeda dengan orang Qatar. Begitu seterus, karena kondisi wilayah ternyata mempengaruhi pengertian kebahagiaan. Sayang sekali Eric tidak mengunjungi Indonesia. Sebab saya penasaran, apa makna bahagia bagi orang Indonesia.

Lalu apa makna bahagia buat saya? Tidak mudah buat saya menjawabnya. Suatu waktu saya bahagia bila beban pekerjaan tuntas dan selesai dengan mulus. Saya juga bahagia ketika kredit motor lunas tanpa cacat. Begitu juga saya bahagia ketika bisa berbicara dengan seorang perempuan yang saya sukai. Meski hanya bicara dari susunan huruf-huruf di layar telepon genggam.

Ada orang yang melihat bahagia seperti anak tangga. Kita tidak bisa berhenti di satu anak tangga saja jika memang berniat menuju ke atas. Melangkah dari satu anak tangga menuju anak tangga diatasnya merupakan capaian atau bisa juga varian dari bahagia bagi orang ini. Biasanya sih orang seperti ini tidak memiliki kejelasan perihal tujuan yang ingin didapat di ujung anak tangga terakhir. Mereka biarkan mengalir saja.

Tapi ada juga orang yang melihat tujuan sesungguhnya. Mereka menaiki anak tangga dengan kerja keras dan perjuangan berat. Ada kalanya merasa bahagia, tapi kebahagiaan sesungguhnya adalah ketika berhasil mencapai tujuan akhir dari anak tangga. Mereka tahu apa yang mereka cari. Itu sebabnya mereka tidak fokus ke anak tangga. Tapi ke ujung anak tangga.

Agak absurd sebenarnya penjelasan saya soal anak tangga dan bahagia ini. Saya setuju dengan Abu Nawas. Kita punya definisi dan makna yang tak sama soal bahagia. Abu hanya mengingat saja kalau bahagia itu dekat dengan kita bahkan bahagia ada di dalam hati kita tanpa perlu repot mencari kesana kemari.

Lantas apa saya atau kamu bahagia saat ini? Izinkan saya menyelesaikan buku The Geography Bliss dan The Hobbit dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s