Pondok Bambu

Sebuah penugasan dari kantor menginterupsi masa liburan saya beberapa waktu lalu. Pesannya saya diminta untuk mewawancarai terpidana kasus kecelakaan Xenia maut di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Ada rasa senang tapi juga khawatir menyadari tugas itu. Pertanyaan yang mengganggu saya adalah apa bisa saya berbicara dengan terpidana di dalam Rutan? Lihat saja nanti, pikir saya.

Sekitar dua hari setelah mendapat tugas, saya langsung menghubungi sang pengacara. Dia bilang tidak bisa janji hanya akan mengusahakan. Singkat kata, si pengacara mengajak saya bertemu langsung dengan ibunya langsung di Rutan saat akan menjenguk nanti.

Hari yang dinanti tiba. Saya pun meluncur menuju Rutan dengan naik kereta. Kebetulan hari itu saya libur jadi bisa lebih santai menjalani hari. Saya bertemu dengan dua pengacara terpidana. Mereka tidak bisa menjamin terpidana mau wawancara dengan saya. Ibunya yang akan memutuskan. Namun si pengacara sempat meletupkan rasa optimistis bahwa wawancara penting, utamanya bagi sang klien.

Entah apa yang menjadi pertimbangannya, akhirnya sang ibu merestui anaknya bertemu dengan saya. Kontan adrenalin pun meningkat. Dengan ditemani pengacara saya berhasil menembus Rutan dengan jalur istimewa tanpa ditanya ini dan itu. Setelah menyerahkan KTP dan telepon seluler, saya pun menginjakkan kaki di Rutan Pondok Bambu. Di dalam terdapat sebuah lapangan luas. Ada sebuah tenda besar seukuran lapangan voli. Dibawahnya ramai oleh puluhan pembesuk dan para tahanan wanita yang duduk di atas kursi panjang. Belasan wanita terlihat mengantri di depan deretan telepon umum. Wajah mereka menunjukan seribu bahasa. Inilah pengalaman pertama saya masuk ke dalam sebuah rumah tahanan.

Tak berapa lama, mata saya menabrak sosok wanita yang akan saya wawancarai. Afriyani Susanti. Dia terlihat sedang berhadapan dengan layar komputer. “Karena bisa pegang komputer dia diminta bantu petugas rutan di bagian administrasi,” ucap pengacaranya menyela pandangan saya. Berbeda dengan pembesuk lainnya yang berbincang di bawah tenda, kami langsung masuk salah satu ruangan.

Sekitar 20 menit Afriyani berbincang dengan pengacara. Jarak saya dengan dia tak lebih dari satu meter jadi suaranya masih bisa terdengar meski agak samar. Sesekali dia berderai air mata. Sesekali juga dia melihat ke arah saya. Saya tidak membalasnya, berusaha mencari pemandangan menarik di balik jendela. Ruangan tersebut diawasi kamera pengintai, jadi saya mencoba menjaga sikap se-natural mungkin. Yah, biasa saja sih sebenarnya. Sepanjang pembicaraan di antara mereka, saya mencoba menjaga konsentrasi, mengingat tak ada perangkat rekaman yang saya bawa.

Tak berapa lama, pengacaranya mengenalkan diri saya. Seperti dalam lomba lari estafet, tongkat pembicaraan langsung mengarah ke saya. Tubuh Afriyani langsung terfokus menghadap ke saya. Pembicaraan pun mengalir lancar selama sekitar 30 menit.

Selama itu, saya mencoba taktik sepakbola ala Italia, halah. Irama pertanyaan ada pada saya. Sesekali saya tanyakan hal ringan. Lain waktu saya bertanya soal hal krusial dan emosional. Saya tidak terlalu mencari fakta baru dari kasus dia, tapi sebuah cerita yang bisa dirasakan dan dibagi kepada orang banyak.

Hal penting dari pertemuan kami adalah bahwa Afriyani menolak keras disebut sebagai seorang pembunuh. Mungkin itu yang ingin disampaikan Afriyani yang pada dasarnya sudah diucapkan ketika pledoi di persidangan lalu. Dia tidak terlihat ingin dibela atau membersihkan namanya. Ada kerelaan sepanjang pembicaraan. Sebenarnya saya gak cukup pandai meraba perasaan atau emosi orang. Sederhananya dia siap dan menerima menjalani masa hukuman selama 15 tahun.

Saya perlu menjaga jarak dengan narasumber. Tapi adakalanya emosi sulit dikendalikan. Beberapa kali saya sempat berkaca-kaca ketika dia bicara soal keluarga. Pun ketika pikiran saya yang agak sulit dikendalikan berpikir tentang menghabiskan hidup di penjara. Betapa mahalnya kebebasan yang kita miliki.

Dia memberi bingkisan sebelum saya pulang. Bingkisan berupa scrapbook, sejenis diary. Ia hanya meminjamkan dan saya harus kembalikan beberapa hari kemudian.

Usai kunjungan dari Rutan Pondok Bambu, banyak hal saya pelajari. Sepertinya saya harus mendaur ulang beberapa pemikiran. Tapi satu hal penting Afriyani tidak putus asa dengan rahmat dan ampunan Allah. Seseorang yang ingin bertaubat dan dia senang telah diberi waktu untuk itu. Sementara saya yang kerap membuat dosa-dosa lebih banyak lupa untuk bertaubat. Yah, di luar seputar hubungan manusia dengan Allah, saya belajar banyak bahwa kita perlu menyisakan sedikit ruang untuk cinta dan benci dalam hati. Allah memang melarang hal yang berlebihan. Cinta yang berlebihan dan benci yang berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s