Angka Cantik dan Mahar

Wajah Effendi Chaniago tampak tegang. Dengan tegap dia masuk ke ruangan berukuran 3×4 meter di kantor urusan agama kebon jeruk. Di sebelah pria asal sumatera barat ini terlihat seorang wanita yang berusaha tersenyum manis. Berpakaian kebaya putih, Emry nama wanita itu terlihat berusaha sekuat tenaga untuk mengusir perasaan yang serupa dengan calon suaminya, Effendi.

Aroma tegang yang terpancar di wajah kedua mempelai tercium oleh sang penghulu. Sedikit lelucon tepatnya plesetan kata bahasa minang dilontarkan oleh penghulu. Sontak beberapa hadirin yang tahu ihwal bahasa minang tersenyum malu mendengar guyonan sang penghulu. Dari sini ada pelajaran penting buat saya, bahwa seorang penghulu juga harus punya kemampuan melucu. Lelucon ternyata efektif untuk mengusir rasa tegang bagi calon pengantin yang biasanya terlihat tegang sebelum mengucap janji suci, halah.

Pasangan Effendi-Emry merupakan salah satu pengantin yang memilih 12 Desember 2012 (12-12-12) sebagai hari melepas masa lajang alias menikah. Setidaknya di Jakarta Barat ada 66 pasangan pengantin yang menikah di hari yang digadang-gadang bakal kiamat. Effendi sendiri mengucapkan ijab kabulnya tepat pada pukul 12.05. makin lengkaplah angka 12 dalam sejarah kehidupan Effendi. Namun sayang dari sisi mahar justru tidak ada unsur angka 12-nya.

Saya sendiri tidak tertarik dengan angka. Sejak duduk dibangku SMU, nilai-nilai eksakta saya lebih banyak jebloknya dibanding alusnya. Tapi tetap saja saya paksakan untuk belajar soal angka-angka. Bagi sebagian orang angka punya arti penting. Apalagi kalau angka-angka itu berkaitan dengan sesuatu yang mistis, unik, atau religius. Sederhananya kita biasa menyebut angka cantik. Kenapa tidak angka ganteng saja? Jarang saya mendengar ada orang yang menyebut angka ganteng. Mayoritas atau bahkan semua orang menyebut angka unik, lucu dengan sebuatan angka cantik. Dan cantik itu identik dengan perempuan.

Jadi kembali ke soal angka cantik. Saya bersyukur punya kesempatan lagi untuk meliput seputar pasangan pengantin yang memilih menikah di tanggal unik. Tahun lalu saya meliput orang-orang yang menikah pada 11 November 2011 alias 11-11-11 orang biasa menyingkat. Dan hari ini, tepat di tanggal 12 Desember 2012 atau 12-12-12 saya kembali meliput seputar pasangan yang menikah.

Saya pribadi tak ambil pusing soal angka 11-11-11 atau 12-12-12. Buat saya tak masalah mau menikah tanggal dan hari apa saja. Yang penting saya bisa menikah seorang perempuan yang saya cintai dan dia pun mencintai saya.  Tapi ya namanya juga tugas jadi laksanakan saja.

Bicara soal angka cantik, saya sendiri gak tahu dimana letak kecantikan suatu angka. Apakah karena ada unsur pengulangan atau repetisi maka kita menyebutnya angka cantik? Atau karena unsur kemudahan dalam mengingat maka suatu angka disebut angka cantik? Hanya mereka yang mengangggap angka cantik yang tahu kalau deretan atau angka itu cantik atau tidak.

Di luar soal angka-angka cantik, saya justru takjub dengan sikap para pengantin. Terutama tentang harta atau benda yang dijadikan sebagai mahar.  Tahun lalu saat meliput di KUA Cengkareng, saya menemukan mempelai pria yang menyebutkan maharnya berupa uang tunai Rp100 ribu. Saya sempat terlonjak ketika mendengar angka itu. Ada juga ternyata yang memberikan mahar kepada calon istrinya sebesar Rp100 ribu.

Namun ternyata rekor itu pecah. Pasangan Tan Very dan Lasmini yang memilih menikah di angka serba 12 menyodorkan mas kawin berupa uang Rp12.000. Yes, Rp12.000 pemirsa. Sebelumnya di KUA Kebon Jeruk, seorang pria Irfan menyerahkan mas kawin uang sebesar Rp1.212.000 untuk mempersunting  Heni sebagai istrinya.

Sebetulnya tak menjadi persoalan berapa pun mas kawin yang disodorkan seorang pengantin lelaki kepada perempuan. Dalam rukun nikah tidak disebutkan berapa nominal atau benda mas kawin. Namun dalam sebuah hadits yang saya lupa bagaimana bunyinya, sebaik-baik perempuan adalah yang mas kawinnya tidak memberatkan calon suaminya. Realiable-lah. Mas kawin merupakan bekal bagi sang istri. Sesuatu yang bisa dijual bila dalam keadaan terdesak. Tapi mungkin manusia suka sekali dengan simbol maka momen paling indah dalam hidup harus benar-benar spesial. Bahkan dari mas kawin sekalipun.

Tapi di balik semua hal seputar angka 12 dan mahar, saya sungguh kagum dengan keberanian dan itikad baik dari seorang pria dan wanita yang memutuskan untuk menikah. Suranto petugas KUA Palmerah bercerita kepada saya kalau angka pernikahan warga Palmerah terbilang rendah. “Apalagi yang tinggal di komplek perumahan Kijang. Baru sekali dalam beberapa tahun,” kata Suranto. Ia beranggapan faktor pendidikan dan pekerjaan berpotensi menghalangi waktu untuk menikah.

“Kalau orang belajar S2 biasanya nunggu lulus sama udah kerja dulu. Baru deh nikah,” ucap Suranto sambil tersenyum. Dalam hati saya merasa tertusuk. Benar juga Pak Suranto ini. Padahal sudah jelas Allah menjamin kehidupan seorang yang memutuskan untuk menikah. Ada banyak cerita unik dan tak terduga dari seseorang yang sedang mempersiapkan pernikahan. Idealnya untuk ibadah atau sesuatu yang baik jangan ditunda-tunda. Begitu juga dengan menikah. Kira-kira begitu kali ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s