Bukan Catatan Akhir Tahun

Ahad pagi, 9 Desember 2012 pukul 09.30 wib

Tidak bisa disebut pagi juga sih. Bangun dalam keadaan setengah telanjang dan perut lapar, wajah saya langsung bertabrakan dengan cermin. Matahari diluar sudah menari riang gembira. Tidak terlalu menyengat karena awan kelabu sedikit menghalangi tawa riangnya. Saya raih kunci motor lantas menggeretnya keluar menuju teras. Sudah memakai baju tentunya.

Dari kemarin saya mengutuki waktu yang jalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin saya dan teman-teman melihat kembang api di pergantian tahun baru 2012. Sebenernya frase ‘terlalu cepat’ adalah bentuk kesombongan sekaligus kurangnya rasa syukur atau memang benar waktu itu berjalan begitu cepat padahal setiap hari saya memakai jam tangan. Sebuah representasi dari pengingat waktu. Apa pun yang saya tulis faktanya sekarang sudah menjelang akhir tahun titik

Abstrak. Bisalah mewakili perjalanan saya di tahun 2012. Sejak awal tahun 2012 atau akhir 2011, tak ada resolusi atau rancangan besar hingga ke detail ihwal harapan atau keinginan, targetan, atau apalah namanya itu yang saya buat. Biarkan semua mengalir seperti air. Hasil tidak mengherankan, semua berjalan abstrak dan cepat. Sebenernya ada satu hal yang saya ingat keinginan di awal tahun, yaitu mengurangi jam tidur.

Huek… yang ada malah kebanyakan tidur di pagi hari karena pulang selalu larut. Pulang terlalu malam untuk berbagai alasan yang tidak jelas. Sementara di sisi lain, umur datang merayap dengan sembunyi-sembunyi. Sampai pada Selasa 4 Desember kemarin di sebuah toko buku Gramedia saya bertemu kembali dengan seorang penulis bernama Mitch Albom. Karya barunya kali ini tentang The Time Keeper atau Penjaga Waktu.

Usai dibaca, perspektif Albom soal waktu sedikit menenangkan saya. Kita terlampau mempersoalkan, menuntut, bertanya, berkeluh kesah dan semua rasa lainnya tentang waktu. Manusia begitu terobsesi dengan waktu. Kepergian dan kedatangannya selalu ditangisi dan disambut riang gembira.

Mereka yang muda menyambut waktu dengan gegap gempita. Berharap semua berjalan cepat. Saat janji pertama dengan kekasih, menanti artis idola yang bakal tampil, mencapai target resolusi, semua berharap waktu berjalan dengan cepat. Sementara mereka yang sudah uzur hanya bisa meratapi waktu dengan mengenang peristiwa lalu. Berharap semua kejadian yang lewat terus berlangsung selamanya.

Sebenarnya ada beberapa resolusi saya di tahun 2012 tapi saya malu menulisnya jadi dibiarkan saya menggantung dalam pikiran biar mudah saya bawa ke segala tempat. Namun Allah punya kehendak lain soal harapan saya. Ikhtiar sudah dilakukan, mungkin niatnya yang tidak konsisten.

Lalu bagaimana dengan 2013? Berkaca kepada buku Mitch Albom,  tak ada resolusi hingga ke detail yang ingin saya buat saat ini. Entah kalau di penghujung tahun nanti. Dalam hati kecil saya tidak bisa berbohong kalau memang ada harapan besar di tahun 2013 nanti. Tak perlu detaillah dibuatnya. Cukup coretan-coretan di secarik kertas lalu simpan dalam dompet. Selebihnya kita nikmati perjalanan waktu dengan terus berbagi kasih sayang dan perhatian kepada semua orang. Terlebih buat mereka yang punya tempat istimewa dalam hati dan arti lebih dalam kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s