Kalianda

Selasa, 30 Oktober 2012

“Jadi siapa yang kesana?” Tanya seorang redaktur di antara meja redaktur lainnya di kompartemen Metro. Satu nama sudah disebut, namun redaktur lainnya malah menyebut namaku. Aku yang sedang mencari-cari berita dari wire asing kontan kehilangan konsentrasi. Akhirnya namaku dikuatkan oleh pendapat redaktur lainnya. “Udah Adit aja yang ke Lampung,” begitu ucapnya.

Walhasil, aku yang sedang piket malam pun lebih banyak mencari-cari bahan seputar konflik di Desa Balinuraga, Kalianda, Lampung Selatan. Menghubungi koresponden di Bandar Lampung dan berbagi kabar seputar kondisi terakhir. Tak ada pesan spesial dari orang-orang kantor, selain keberangkatan aku yang mendadak.

Rabu, 31 Oktober 2012

Tiba di kantor pukul 07.30. Semalam diputuskan kalau aku naik mobil kantor. “Biar mudah geser-geser,” ucap mas Rochman. Rencana berangkat pukul 08.00 molor menjadi satu jam lebih. Dwi, teman saya satu-satunya dari kantor. Dan selama empat hari ke depan, sebutan saya atau gue berubah seketika menjadi aku lantaran Dwi asal Solo. Entah kenapa, kalau ketemu orang Jawa jadi ke bawa ngomong ‘aku’. Masa bodoh yang penting jujur.

Kami melaju di atas 70 km/jam saat masuk di tol Tangerang-Merak. “Mas, aku gak bawa baju salin loh,” Dwi mengungkapkan dengan senyum selebar Jembatan Suramadu. “Terus gimana? Aku ada baju lebih tuh,” kataku. “Wis,tenang.” Dia yang tanya dia juga yang jawab.

Pukul 11.30 kami masuk ke kapal. Ini kedua kali aku naik kapal dengan tujuan yang sama menuju Lampung. Terakhir, waktu SMP seingatku. Dua jam kami diatas kapal. Aku lebih memilih memandang laut. Laut si pemurah. Sedikit mengurangi rasa resah dalam diriku tapi tetap saja perasaan berkecamuk campur aduk tak menentu. Ini kali pertama aku liputan keluar kota. Meliput konflik bukan liputan seputar promo perusahaan atau perjalanan wisata.

Polsek Kalianda adalah tempat pertama yang saya datangi. Mudah menemukannya karena tepat berada di pinggir Jalan Lintas Sumatera. Hampir setiap Polsek dan gedung-gedung penting di Lampung Selatan berada tepat di pinggir jalan utama. Aku menyalami Kompol Kodari, dia Kapolseknya. Dingin tatapannya saat aku mengatakan dari media. “Silahkan saja ke lokasi mas, di sana sudah banyak petugas. Atau ke tempat pengungsian saja di Kemiling,” hanya itu komentar dia. Aku pun memutuskan ke pengungsian. Agak beresiko jika memaksakan ke TKP mengingat hari sudah sore. Kami pun melaju ke Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung.

Sepanjang jalan laut masih membuntuti dengan setia. Hari pertama di Lampung, aku tidak sempat bertatapan dengan mas Rochman. Setelah bertanya-tanya, akhirnya kami sampai di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling, Bandar Lampung. Tempat dimana para taruna polisi menjajagi pendidikan. Kadang kita tidak pernah sadar kalau Allah itu sangat sayang kepada hamba-Nya. Sejak menginjakkan kaki di Lampung, jalan seolah-olah begitu lempang dan mudah dijajagi.

Dari seorang bapak yang dengan senang hati mengatarkan kami hingga ke SPN sampai narasumber yang aku temui di tempat pengungsian. Sekali memilih narasumber, aku langsung bertemu dengan Sekretaris Desa Balinuraga. Usai wawancara, dia enggan disebutkan namanya. Dari orang sekitar yang berbicara dengannya, aku menyimpan separuh keyakinan kalau dia memang Sekdes. Belakangan aku tahu kalau dia Wayan Maulana. Ini masalah terbesar aku saat berhadapan dengan orang Bali. Nama-nama mereka terdengar itu-itu saja, kalau tidak Wayan, Gusti, Gede, Komang. Jika bertanya soal nama, pastikan dapat nama belakangnya juga, pikirku. Namun menurut Mas Rochman (selanjutnya ku sebut Mr) mereka enggan menyebut nama asli.

Pengenalan dari sisi korban aku akhiri pukul 22.30. Badan sudah meronta-ronta. Karena ini perjalanan aku dan Dwi ke Lampung, malam pertama kami memutuskan tidur di pengungsian. Tepatnya di mobil. Tak berani kami turun ke kota mengingat tak mengenal medan dan belum tahu dimana penginapan. Masih tersisa satu lapis roti sobek. Lumayan sebagai pengantar tidur.

Kamis, 1 November 2012

Kamis pagi saya harus mengejar satu narasumber dari Balinuraga. Di sini saya lagi-lagi merasa bantuan Allah terasa begitu dekat. Dua kali wawancara, saya langsung bertemu dengan mantan Kepala Desa Balinuraga. Dari beberapa narasumber, mantan Kades ini cukup memberikan perspektif seputar asal muasal kejadian dan bentrokan. Selebihnya memilih bungkam.

Usai menghajar nasi uduk bersama Mr, kami langsung meluncur ke lokasi kejadian. Matahari sedang riang-riangnya menari. Selama dalam perjalanan Mr bercerita banyak hal. Mulai sejarah konflik hingga bentrokan yang terjadi pada 27-29 Oktober 2012. Tiba di Desa Balinuraga, bau angus menyambut kedatangan kami. Selain ratusan polisi dan tentara bersenjata. Yah, seperti yang ditayangkan televisi, 80 persen rumah warga hangus terbakar. Di sudut-sudut rumah saya melihat babi dan ayam berkeliaran mencari makan. Seperti kota mati.

Satu rumah warga ditinggali oleh sembilan sampai sepuluh aparat. Salah seorang aparat mengajak saya masuk dan tanpa ditanya lebih dalam, dia langsung bercerita seputar penyerangan massa. Kemudian saya bertemu dengan seorang warga. Dia seorang kepala sekolah mengaku massa juga membakar beberapa gedung sekolah. Singkat cerita, siang itu ada cukup banyak bahan yang kami dapat.

Sore hari, kami menemui Kepala Desa Agom. Dengan lugas dan jelas dia cerita soal kronologis kejadian sebelum penyerangan warga. Dengan ekspresi yang datar, dia cukup menyesalkan kejadian tersebut. Lalu dia membantu kami mengarahkan ke pihak korban, tepatnya ayah korban. Selepas berkeliling beberapa desa sekitar, kami menemui ayah korban.

Aku cukup terkejut dengan keterbukaan dia untuk bercerita mengenai kronologis setelah anaknya terjatuh dari motor. Dia pun tak pernah menyangka, kecelakaan sore itu menjadi pemantik bentrokan antarwarga. “Saya cuma minta pelaku ganti rugi untuk biaya ke rumah sakit. Itu saja,” kata ayah korban. Sangat sederhana. Tapi massa terlanjur berdatangan dari berbagai sudut Kabupaten Kalianda.

Semua pesanan kantor sudah kami dapatkan. Tinggal mengejar versi polisi saja. Karena jarak antara Bandar Lampung dan Kalianda 50 Km, menjelang magrib kami langsung menuju pusat kota. Di ujung telepon seorang gadis berusia tiga tahun menyapa Mr. “Kamu belum menikah kan, Dit,” tanya dia. Dia pun bercerita seputar konflik di Mesuji. Waktu itu kantor mengirim Opik ke sana. “Ini bahan udah banyak. Bingung saya mulai dari mana,” kata Mr. Dalam hati, apalagi saya.

Di saat seperti itu, banyak bahan tapi bingung mau memulai dari mana, saya kerap berhenti menulis atau melakukan aktivitas tak penting. Cukup diam, biarkan mata terpejam. Ngobrol seputar hal ringan. Apalagi, sepanjang wawancara tadi saya sama sekali tidak merekam.

Penginapan sudah didapat. Hal pertama yang saya lakukan adalah menulis ulang. Dengan menulis akan mengembalikan ingatan sekaligus juga menguatkan ingatan. Esok paginya laporan ku kirim ke kantor.

Jumat, 2 November 2012

Sepanjang hari saya hanya berada di pengungsian. Ada banyak tokoh nasional yang hadir, selain para sanak saudara. Mulai dari anggota DPR RI, artis, dan Jusuf Kalla. Hari ini saya menyadari bahwa sulit melakukan wawancara dengan pengungsi di dalam barak atau tempat pengungsian. Mereka lebih memiih bungkam. Lagi pula rasanya saya sudah tak asing lagi di sana, mengingat sering mondar-mandir kesana kemari. Walhasil, saya hanya menulis yang ringan saja. Pesanan kantor pun tuntas. Kami kembali ke penginapan.

Sialnya, hari itu saya melupakan satu hal penting, yaitu betapa pentingnya kedudukan warung makan atau warung kopi di tengah-tengah warga. Justru dari warunglah banyak berseliweran gosip-gosip menarik. Dwi lah yang beruntung mendapatkan gosip itu dari seorang pengungsi. Ia beruntung mendengar obrolan seputar isi perjanjian damai. Sepanjang malam saya menyesali karena hanya sekali datang ke warung.

Sabtu, 3 November 2012

Hingga hari keempat saya di Lampung, tidak ada tanda-tanda konflik akan terulang. Pengungsi sudah tak betah tinggal di barak dan sangat ingin pulang. Entah pulang kemana, pikirku. Saya hanya menulis soal upaya rekonsiliasi antarpihak yang bertikai. Sudah dapat bahan tersebut, saya dan Dwi langsung melaju menuju Jakarta. “Santai aja Dwi jalannya,” kata saya.

Ahad, 4 November 2012

Saya terkejut begitu membaca laporan Mr. Selama di Lampung kami menulis masing-masing, dalam artian dia menulis untuk majalah sementara saya mencoba mengirim laporan peristiwa dengan cepat dengan tetap terus berkoordinasi. Saya beruntung bertemu dengan Mr. Intinya, saya masih harus banyak belajar lagi. Hampir setahun di Metro, saya merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan empat hari di Kalianda. Semoga tidak berlebihan atau emosional semata. Lalu, bagaimana jika saya ada di lokasi kejadian pada Senin, 29 Oktober lalu? Satu hal yang bisa dipastikan migrain saya akan kambuh. Kambuh dengan rasa nyeri yang lebih dari yang saya rasakan sepanjang hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s