Kembali ke Tepi Barat

Tepi Barat hanya sebuah sebutan. Panggilan untuk wilayah Jakarta Barat. Versi saya tentunya. Sebutan seperti ini agar terkesan elegan lah meski tidak se-istimewa tempat aslinya di wilayah Palestina sana. Suatu hari saya mengira kalau bakal kembali ke Tepi Barat suatu hari nanti. Entah kapan pastinya tapi ada keyakinan kalau saya bakal kembali ke Tepi Barat.

Karena saya punya perasaan seperti itu maka saya sisakan segenggam rasa rindu. Ya, hanya sekedar berjaga-jaga saja agar saat kembali nanti saya tidak harus dari awal untuk bercumbu kembali dengan isu perkotaan dan kriminal di Jakarta Barat. Rasa rindu yang saya sisakan itu dalam wujud masih menerima pantulan informasi seputar Jakarta Barat lewat pesan singkat (SMS).

Ada banyak yang datang dan pergi. Kebanyakan sih mereka yang datang lalu pergi. Tapi saya sepertinya datang-pergi-kembali datang. Jujur saya akui kalau di Jakarta Selatan ikatan emosional sudah melebar menjadi beberapa ikatan emosional. Dalam artian ketika harus meninggalkan Jakarta Selatan ada rasa tidak rela untuk menerimanya. Saya lupa kapan pastinya jatuh cinta dengan Selatan. Mungkin saat saya lupa dengan Tepi Barat. Tiga bulan setelah di Jakarta Selatan sepertinya.

Perasaan seperti ini tuh seumpama sudah saling kenal satu sama lain tapi gak sempat mengungkapkan rasa cinta. Sejauh ini yang saya lakukan baru sebatas Bisa belum sampai kepada Cinta. Jelas antara Bisa dan Cinta beda. Perbedaan sederhana ada pada kalau Bisa kita mengerjakan semua yang diminta dan selesai, meski tidak selalu tuntas. Sedang Cinta, tanpa disuruh pun kita sudah bekerja. Ada sikap proaktif dan inisiatif. Ini mungkin yang menjadi evaluasi dan masukan buat saya dari seorang atasan di kantor. Kekurangan inisiatif karena saya baru Bisa bukan Cinta.    

Lalu ketika ingin beranjak dari Bisa menuju Cinta saya dipindahkan ke Tepi Barat. Di Tepi Barat pun saya baru memasuki tahapan Bisa belum Cinta. Jadi sebelum bergeser ke Selatan proses untuk Mencinta sedang dibangun.

Belajar dari keyakinan bahwa suatu hari nanti saya bakal kembali Tepi Barat itu, pada akhirnya saya mencoba menjaga jarak dengan Selatan. Awalnya ada resistensi namun lambat laun jadi berat meninggalkan Selatan. Bisa jadi saya pun akan mengisi ruang lain lagi, bukan wilayah tapi sebuah isu.

Selama di Selatan, hampir 98 persen saya mengerjakan dan melanjutkan isu kriminal. Isu perkotaan hampir tidak tersentuh. Apalagi setelah Selatan hanya diisi dua orang praktis hanya isu kriminal atau peristiwa yang digarap. Kekurangan menulis berita khas ternyata berpengaruh juga terhadap apa yang saya pikirkan, salah satunya adalah menjadi agak spesialis dengan isu kriminal.

Dengan kembali ke Tepi Barat berarti ada isu variasi yang bisa ditulis. Garapan berita pun tidak terlalu banyak dari sisi kuantitas utamanya. Otak pun harus berpikir keras buat memikirkan isu berita apa yang bakal digarap.   

 Di Selatan sendiri sebenarnya ada banyak isu tapi perlu energi ekstra untuk bisa menggarapnya. Lebih ekstra lagi bila hanya seorang diri mengisi Selatan. Iya, memang idealnya tiga orang, tapi tetap saja satu orang untuk wilayah Selatan yang ada Polda jelas mengurangi ruang mobilitas. Tapi kalau sudah cinta, rasa-rasanya sih gak akan terlalu berat. Satu hal yang belum saya rasakan di Selatan. Cinta pada profesi. Jadi yang harus disematkan adalah loyalitas  kita pada pekerjaan atau profesi bukan pada ruang liputan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s