Praduga

Semestinya komunikasi bisa memberikan solusi atas beragam persoalan yang tengah terjadi. Kadang kita sering silap bila persoalan mendasar dalam keseharian kerap dipicu karena ketidakmampuan kita menjadi seorang pembicara dan pendengar dalam satu waktu. Kebanyakan orang lebih memilih untuk menjadi pembicara dibandingkan menjadi pendengar yang baik.

Padahal tulang rusuk dari sebuah komunikasi ada proses mendengarkan. Pembicara yang baik tidak otomatis menyandang gelar seorang pendengar yang baik. Karena kalau kita mau jujur, lebih sulit menjadi pendengar dibandingkan menjadi pembicara. Lihat saja semaraknya status dalam situs jejaring sosial. Fenomena ramainya komentar dan status dalam jejaring sosial jadi bukti kuat bila kebanyakan orang ingin didengar alih-alih berbagi pengalaman. Apalagi dengan adanya hak asasi seputar kebebasan berbicara. Mana ada hak asasi seputar kebebasan mendengar. Mungkin orang hanya rela mendengar ketika lagu atau musik sedang diputar. Tapi akhir-akhir ini, tidak sedikit juga orang lebih senang bernyanyi (berkaroeke).

Kembali ke soal komunikasi. Dialog atau komunikasi yang kita bangun terkadang bisa menimbulkan konflik atau masalah baru. Padahal niatan awalnya dengan berkomunikasi minimal permasalahan kita selesai setengahnya. Tak heran ini terjadi. Pemicunya ada banyak faktor. Salah satunya adalah melekatnya unsur praduga atau penilaian dalam komunikasi yang dibangun.

Memang kita tidak bisa lepas dari praduga, stereotip atau bebas nilai ketika sedang berkomunikasi. Tapi tidak bisa bukan berarti tidak bisa. Hahaha….bingung yah. Maksudnya bisa kok melepas praduga atau stereotip ketika bertemu lawan bicara. Tidak mudah memang. Kesulitan kita adalah melepas bayang-bayang masa lalu atau pengalaman sebelumnya. Komunikasi akan terasa sulit bila sebelumnya kita memiliki investasi pengalaman buruk dengan lawan bicara kita. Maka tak heran praduga atau prasangka akan lahir sebelum komunikasi verbal bergulir.

Sebagai contoh. Mungkin akan terasa sulit memulai komunikasi antara sepasangan mantan kekasih atau dua orang yang dulunya pernah berstatus sebagai musuh. Masing-masing pihak punya pengalaman masa lalu yang bisa jadi masih tersisa di sudut hati atau ingatan. Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa.

Tak pantas menilai milik Allah

Sebaris kata diatas mungkin bisa menjadi bekal untuk membangun komunikasi yang sehat. Saya coba kutip sepenggal ayat dari Surat Al-Baqarah ayat 284.

Milik Allahlah apa yang ada di langit dan di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Apa jadinya bila hati mampu bersuaran atau berbicara secara nyata. Sangat berbahaya pastinya. Lalu buat apa ada lidah? Selain itu, setiap insan akan berhati-hati dalam mengungkapkan isi hatinya. Yang paling mengkhawatirkan adalah tidak akan ada desahan, intonasi, dan nada suara ketika kita saling berbicara. Semuanya cukup dilakukan dengan hanya saling menatap wajah lawan bicara kita.

Nah, soal bunyi ayat di atas, kita bisa menjadikannya sebagai sebuah perspektif. Pegangan atau bisa juga semacam prinsip dalam berkomunikasi. Sebagai seorang hamba, kita tidak punya hak untuk menilai segala hal yang menjadi milik Allah. Lawan bicara kita, termasuk diri kita sendiri adalah milik Allah semata. Jadi poin pentingnya adalah hindarilah menilai lawan bicara kita.

Memang tidak semua aspek dalam komunikasi harus bebas dari penilaian. Ada yang menyebut manusia adalah makhluk sejarah. Artinya kita sulit lepas dari kenyataan atau pengalaman masa lalu. Adanya kita tidak lepas dari perilaku kita di masa lalu. Dalam artian, perspektif kita hari ini merupakan sumbangan dari masa lalu atau kemarin.

Pengalaman masa lalu terkadang menjadi bagian penting dalam memutuskan suatu perkara. Apakah kita menerima atau menolak seseorang. Apakah ucapannya benar atau hanya omong kosong belaka.

Diperlukan kedewasaan dan kejernihan dalam memutuskan. Gak mudah memang, tapi kalau sudah memilih untuk bisa maka tak sulit untuk memulainya.

For someone out there. I just wanna say that  I am really really so sorry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s