Selamat Datang Jalu

 

Iyah, selamat datang Jalu. Dua puluh delapan bulan. Kalau menghitung peredaran bulan itu sama dengan dua puluh delapan kali bulan mengitari bumi. Dua puluh delapan kali purnama bersinar. Dan dua puluh delapan kali saya harus merogoh kocek sebesar Rp672.000 dan dua puluh delapan kali bolak-balik tempat pembayaran.

Sebanyak dan selama itu saya harus menunggu kehadiran Jalu. Dan sekarang kamu sudah menjadi milikku seutuhnya Jalu…. Okeh, udah mulai berlebihan nih tulisan.

Tapi saya patut berbangga hati karena selama dua puluh delapan bulan ke belakang itu tak pernah sekali pun kita mengalami kecelakaan. Kamu lebih banyak disenggol orang lain. Mulai dari plat nomor, spion, hingga bodi yang tergores tembok atau motor orang lain. Yah, memang ada insiden beberapa waktu lalu saat sebuah minibus Panther mencium ban belakang. Kita nyaris kehilangan keseimbangan. Hampir berciuman dengan aspal panas di Jalan Daan Mogot.

Well, jelas itu salah saya. Kantuk tak tertahan. Bahaya memang. Saya cuma mau bilang kalau saya bangga denganmu Jalu. Salah… salah… I’m very..very.. proud of you…

Di tengah penantianmu, sudah ada yang terlebih dahulu hadir. Tapi tetap kamu yang teristimewa Jalu. Karena kamu yang pertama. Terlalu banyak waktu dan perjalanan yang kita habiskan bersama. Menyusul kehadiranmu yang belum seutuhnya bergabung, sudah ada Zakiah Nurmala.

Zakiah memang obsesi tertinggi saya. Tapi sebenarnya Zakiah itu cinta kedua. Sebelumnya ada si Tak Bernama. Dia pembelian yang gagal. Tapi saya tetap menghargainya. Entah dimana dia sekarang. Saya dan Zakiah sendiri selama dua tahun terakhir ini tidak terlalu akrab. Sedikit hal baru yang saya pelajari. Mungkin karena saya hanya bermain sendiri tanpa ada latihan, permainan rutin, dan diskusi.

Kau tahu Jalu, beberapa waktu lalu saya punya rencana bakal mengambil kursus khusus demi Zakiah Nurmala. Rencananya adalah begitu kamu sudah bergabung dalam keluarga besar, saya bakal ngambil kelas khusus bermain gitar. Merdukah? Well, setidaknya ini bentuk keseriusan saya dalam membina hubungan dengan Zakiah Nurmala.

Oia, mungkin kamu agak sedikit aneh ketika kali pertama membawa Si Kurus. Well, wajarnya. Si Kurus ini paling rentan terhadap getaran. Jadi wajar kita hanya melaju tak lebih dari 80 km/jam. Adakala memang kita melaju diatas 80 km/jam tapi itu bisa dihitung dengan jari kan.

Jalu. Apa yang saya tuliskan ini khusus hanya untuk dirimu seorang. Tak pernah saya secara khusus menulis untuk Zakiah Nurmala atau Si Kurus. Asal kamu tahu Jalu. Saya hampir-hampir sulit bergerak tanpa kamu. Bisa jadi ini yang disebut ketergantungan.

Ada banyak cerita di antara ratusan perjalanan di bawah sengatan matahari, hempasan angin, siraman hujan, hantaman debu, dan serbuan polutan. Tapi kau tetap tegar Jalu. That’s why I call you Jalu. Lelaki. Lelaki harus tegar dan berani.

Dua puluh delapan bulan ini adalah permulaan Jalu. 38 ribu kilometer. Saya tahu kamu masih sanggup berlari lebih jauh. Tapi mungkin kita perlu mencoba perjalanan baru. Berjalan ke arah Timur sepertinya menarik….

Nanti suatu hari kita bakal menepi ke pantai… Sesekali kau perlu menghirup aroma laut…

Tangerang, 31 Agustus 2012  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s