Gie

Adalah Soe Hok Gie yang ikut mewarnai perjalanan hidup saya. Siapa tidak mengenal Soe Hok Gie? Bagi kalangan aktivis mahasiswa atau orang-orang kampus, nama Soe Hok Gie atau biasa disebut Gie bisa disebut sebagai pionir pergerakan mahasiswa.

Kontribusi Gie terhadap pergerakan mahasiswa pada masa Orde Lama tidak bisa dianggap remeh. Gie merupakan sosok mahasiswa yang gerah dengan kondisi sosial dan politik di masa Presiden Soekarno. Saya menemukan itu di buku hariannya. Buku harian yang saya beli di Palasari, Bandung. Saya beruntung bisa mendapatkan edisi asli Catatan Seorang Demontran keluaran LP3ES tahun 1983.

Dalam buku hariannya, Gie terlihat begitu muak dengan keadaan sosial-politik Indonesia. Ada salah satu kutipan berani tentang perilaku para politikus. Saya lupa detailnya seperti apa, tapi Gie menulis kalau para politikus yang dia tuding tidak pro rakyat layak di gantung.

Asal tahu aja, kalau melihat latar belakang Gie yang seorang Tionghoa, fenomena perlawanan terhadap penguasa di masa Presiden Soekarno relatif belum banyak. Tapi ini lantas muncul seorang mahasiswa bermata sipit berani melawan pemerintahan Soekarno. Sebetulnya, hal ini wajar terjadi mengingat Indonesia masih memegang demokrasi sebagai ruh berbangsa dan bernegara.

Tapi sebenarnya bukan itu sih maksud saya. Saya merasa setelah mengenal lewat tulisan-tulisannya, sedikit-banyak Gie telah memberi pengaruh kepada saya. Sebetulnya, dimasa itu hadir juga Ahmad Wahab yang sangat kritis melihat Islam. Namun sampai detik ini saya belum menemukan buku harian dari Ahmad Wahab.

Di mata saya, Gie itu seorang yang kelam sekaligus melankolis. Dia gemar melakukan aktivitas alam. Bukti nyatanya adalah dengan lahirnya Mapala UI. Gie juga sosok outsider. Meski era Soekarno telah tumbang dan digantikan oleh Soeharto, Gie tetap konsisten untuk mengkritik tindak-tanduk politikus di masa pemerintahan Soeharto. Seorang yang anti-kemapanan dan idealis, sebut saja seperti itu.

Sejarah melihat kalau orang-orang seperti ini tidak pernah lama menjalani hidupnya. Kalau tidak masuk penjara, tewas di medan perang atau nyawanya melayang di tiang gantungan. Sebut saja Che Guevara (39 tahun), Martin Luther King (39), Chairil Anwar (26), dan Gie sendiri (27). Mungkin sistem sulit menerima cara berpikir mereka yang terlalu ke depan dan nyeleneh.

Saya sendiri sih masih jauh dari apa yang disebut idealis. Saya pikir saat ini bukan soal idealis atau tidak dalam memandang berbagai hal. Saya lebih tertarik dengan manajemen harapan. Ya, sebut saja optimistis. Dibalik hiruk pikuk masalah yang terjadi di Indonesia, saya yakin masih banyak orang yang tetap bisa berpikir optimistis dan maju. Setidaknya orang-orang seperti ini terus konsisten dalam mengerjakan apa yang disukai dan menurut mereka layak diperjuangkan. Ini soal sikap.
Image

Nih dia sosok Soe Hok Gie. Gie meninggal karena menghirup gas beracun saat mendaki Gunung Semeru pada 16 Desember 1969

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s