Posgalau

Setiap hari adalah badai. Setiap akhir pekan adalah goncangan. Setiap waktu libur adalah kehampaan. Ketidakberdayaan bahkan hampir mendekati keputusasaan. Jika bukan karena keyakinan yang saya pegang teguh sejak dibangku kuliah, mungkin tulisan ini gak akan tercipta.

Anak zaman sekarang menyebutnya galau. Kondisi gelisah atau seperti pengertian diatas yang dialami oleh lelaki atau perempuan yang belum menikah atau memiliki kekasih. Kata sederhana yang mampu mewakili lawan kata dari sakinah.

Sakinah sendiri, mengutip dari Quraish Sihab, adalah ketenangan. Kedamaian setelah sebelumnya mengalami goncangan. Jadi seseorang yang menjomblo atau belum memiliki pasangan berada dalam kondisi terguncang, tidak tenang. Maka tak salah jika tujuan dari menikah salah satunya adalah mencapai keluarga yang sakinah. Setelah itu mawadah dan rahmah.

Memang repot menjadi seorang jomblo zaman sekarang. Kelamaan gak dapat pasangan dibilang gak laku. Biasanya para penyandang status jomblo akan berkilah selektif dalam memilih pasangan. Lainnya bisa saja beralasan mengutamakan karir dulu baru cari pasangan. Ini masih dalam batas normal. Dalam titik terekstrem, mereka yang menjomblo terlalu lama disinyalir hombreng alias homo pecinta sesama jenis kalau di lelaki. Yah, kalau dia wanita dicap lesbi.

Kejam memang dunia ini…hiks..hiks..(sambil menunduk dipojokan tembok). Sebenernya penggunaan kata ‘galau’ yang sering disematkan ke seorang jomblo sudah lama saya dengar. Tepatnya ketika hujan turun dengan deras dan angin mendesah begitu kencang – biar ada efek dramatis – waktu saya pulang dari kampus.

“Kenapa lo, galau ya?” kata seorang teman ke temannya di samping. “iya nih, gua lagi galau,” balas temannya yang ditanya. Sebenarnya mereka ini teman saya. Sengaja saya samarkan, jaga-jaga kalau mereka baca tulisan ini. Saya sendiri lupa di semester berapa telinga saya menangkap kata itu. Tingkat tiga kalau tak salah. Cukup lama juga ternyata.

Jadi sebenernya, buat saya, sudah agak bosan bin basi dengerin orang bilang galau atau bikin status soal galau. Tapi gak bisa dipungkiri kalau pilihan kata ini serasa pas. Tapi buat saya segala keluhan orang-orang seputar kegalauan sudah mencapai titik nadir. Mungkin sudah masuk tahap posgalau. Meminjam istilah posmodern.

Yaitu suatu perasan yang melebihi galau. Sulit dibayangkan memang karena ini kembali ke personal masing-masing. Tapi setidaknya, empat kalimat diawal tulisan ini cukup menggambarkan apa itu posgalau. Posgalau berpotensi mendatangkan sifat destruktif, anarkis, dan irasional. Serem banget kan…

Dalam posmodern kita mengenal tokoh seperti Foucault, Derrida atau Lyotard. Sedangkan dalam posgalau kita bisa menyebut tokoh terkenal, yaitu Raditya Dika. Bahasa dan ungkapan jadi modal utama dalam mengumbar posgalau. Medianya adalah jejaring sosial, macam twitter dan facebook. Remaja-remaja yang posgalau memang tidak melakukan tindak anarkis atau destruktif dalam arti sesungguhnya. Namun gagasan, keluh kesah, dan bahasa yang mereka gunakan atau nyatakan mampu membuat mereka yang merasa galau tingkat rendah menjadi makin galau. Emang sih belum ada penelitian soal ini. Sekedar pandangan mata saya aja.

Tapi intinya adalah setiap helaan nafas di timeline atau status facebook tak jauh dari gagasan galau. Sesuatu yang lama kelamaan menjadi tak bernilai, cenderung menjadi berlebihan. Okeh, cukuplah seputar galau menggalau ini. Sabar saja menjalani masa kesendirian. Sibukan diri dengan hal positif sampai ada seseorang yang anda nilai terbaik untuk dijadikan pasangan hidup, baru lah mencoba serius menjalin hubungan. Syukur-syukur berakhir di pelaminan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s