Dari Munir Hingga Raafi

Pekan keempat pada November 2011, Majalah Tempo mengangkat kasus pembunuhan pelajar SMA Pangudi Luhur, Raafi Aga Winasya Benjamin, 17 tahun. Tak tanggung-tanggung Tempo menjadikannya sebagai laporan utama lengkap dengan cover utama. Masih segar dalam ingatan saya, tepat saat peristiwa penusukan terhadap Raafi terjadi, yaitu pada Sabtu pagi, 7 November 2011, saya masuk dengan status piket pagi.

Kabar seputar penusukan tersebut saya terima lewat telepon genggam. Semula saya pikir itu hanya tindak kriminal “biasa”, sebatas perkelahian antarpelajar. Namun setelah tersingkap lebih jauh, penusukan terhadap Raafi menjadi perhatian penuh media massa dan kepolisian. Pasalnya, tragedi di Café Shy Rooftop Kemang itu melibatkan sebuah kelompok pemuda yang cukup terkenal, yaitu Soerjosoemarno  Clan, biasa disingkat 234 SC.

Proses penyidikan dan penyelidikan pun berkembang. Selang beberapa pekan, penyidik berhasil menemukan tersangka utama penusuk Raafi. Sher Muhammad Febryawan alias Febry ditetapkan sebagai tersangka utama. Tidak hanya Febry seorang, polisi juga menetapkan enam rekan Febry sebagai tersangka karena ikut terlibat dalam pengeroyokan Raafi.

Sidang pun digelar. Hampir delapan bulan berjalan. Beberapa kali saya sempat meliput jalannya persidangan Febry. Karena masih ada banyak liputan lainnya, saya hanya meliput jalannya agenda sidang saksi. Sayang, saya tidak sempat meliput saksi utama yang ramai dibicarakan saat proses penyidikan berjalan, yaitu Sanuri. Sosok Sanuri sangat kontras dalam perkara ini lantaran dia adalah anggota Pasukan Pengamanan Presiden atau Paspampres.

Akhirnya, pada Selasa 31 Juli 2012, hakim pengadilan Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Razad membebaskan Febry dari tuntutan 12 tahun penjara. Hakim beralasan jaksa tidak bisa membuktikan Febry sebagai orang yang menusuk Raafi. Bahkan pisau yang digunakan untuk menusuk Raafi pun jaksa tidak bisa hadirkan. Walhasil, Febry bebas murni.

Lalu siapa sebenarnya pembunuh Raafi? Masih misterius. Hanya dugaan dan kabar burung saja yang berkeliaran dari mulut ke mulut. Mengisi sela-sela ruang ketidakberdayaan dan keterbatasan pihak-pihak yang sedari awal sudah mengikuti kasus ini.

Sebenarnya bukan hanya kasus Raafi yang gagal mengungkap pelaku utama dalam kasus kriminal. Kita masih ingat aktivis kemanusian Munir yang tewas di racun diatas pesawat saat hendak terbang dari Singapura menuju Belanda. Tak jelas siapa sosok pelaku utamanya. Polisi hanya mendapatkan Polycarpus, sang pilot Garuda, yang berhasil diseret ke pengadilan dan dijatuhi vonis penjara. Otak dibalik pembunuhan tersebut tak terungkap.   

Gelap. Kelam. Misterius. Sama seperti kematian itu sendiri. Kita tidak pernah tahu akan meregang nyawa di mana, kapan dan dalam kondisi seperti apa. Pun tidak mudah bagi polisi untuk mengungkap setiap kasus kriminalitas. Ada kalanya, pelaku mudah ditangkap dan barang bukti mencukupi sehingga berkas perkara cepat dibuat dan pelaku segera menjalani hukuman. Namun kadang kala ada tembok besar menghalangi proses penyidikan. Faktornya banyak, pelaku sulit ditangkap, barang bukti tak mencukupi, atau saksi yang enggan memberikan keterangan. Faktor lainnya adalah diluar wewenang penyidik, seperti misalnya melibatkan kekuasan yang lebih tinggi dari institusi yang menyidik. Faktor inilah yang harus di waspadai.

Jangan kasus kriminal pembunuhan satu orang, tragedi peralihan kekuasaan 1965 pun hingga kini tak jelas rupanya. Tragedi Tanjung Priok, Talang Sari, Semanggi, reformasi 1998 yang belum terlalu lama sulit sekali untuk dibongkar motif dan aktor utamanya. Rasanya ini sudah jadi preseden di negeri kita, Indonesia.  Belum lagi kalau kita bicara peristiwa penembakan di Ogan Ilir atau Mesuji.     

Media pun seperti tak berdaya untuk melakukan pengawalan terus menerus. Hanya seremoni atau peringatan tahunan saja yang menjadi pengingat publik. Sementara luka dan duka para korban selamat, keluarga, anak, dan istri masih menganga. Tak salah bila sebagian orang menyebut penegakan hukum di Indonesia masih lemah. Ada yang berani mengatakan justru terjadi pembiaran oleh para penegak hukum maupun elit-elit politiknya.   

Masih ada waktu untuk melakukan perbaikan. Kita punya dua momentum besar, yaitu dugaan kasus pengadaan alat simulator SIM dengan tersangka para pejabat tinggi kepolisian dan kasus pembunuhan bos PT Sanex Steel Tan Harry Tantono dengan tersangka John Kei. Kasus penembakan di Ogan Ilir pun harus dituntas. Khusus Ogan Ilir, perlu upaya ekstra bagi media dalam melakukan pengawalan sebab itu terjadi di luar Jakarta.  

Wajar saya khawatir karena biasanya sedikit sekali publik yang memberi perhatian terhadap kejadian di daerah-daerah. Lihat saja Papua. Sekarang terasa menurun tensinya, harapannya sih semoga suasana damai terus terjaga. Lalu bagaimana dengan kasus Raafi? Masih adakah tekad dari penyidik untuk memulai kembali penyidikan? Kita lihat saja nanti. 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s