Rohingya dan Kaum Muhajirin

Empat belas abad lalu di tanah gersang dan tandus Jazirah Arab, Islam adalah sesuatu entitas yang asing. Masyarakat Arab sendiri saat itu berada di dasar jurang yang dikepung oleh dua kekuatan besar, yaitu Persia di semenanjung Arab dan Romawi di belahan Eropa. Pada mulanya, kehadiran Islam tak menarik perhatian kubu Persia dan Romawi.

Mungkin lantaran masyarakat Arab saat itu lebih tertarik menyembah pagan dibandingkan memeluk Nasrani atau Majusi, jadi baik Romawi atau pun Persia sepertinya tak tertarik untuk menaklukkan daratan Arab. Hingga ketika seorang pria dari keluarga bani Hasyim, Muhammad bin Abdullah, melakukan revolusi besar-besaran di daratan Arab, goncanglah Romawi dan Persia.

Namun jauh sebelum Islam mencapai masa keemasan seperti di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, perkembangan Islam berjalan penuh pengorbanan dan perjuangan yang besar. Adalah ketika Rasulullah saw bersama pengikutnya diperintahkan oleh Allah untuk berhijrah meninggalkan Mekkah, tanah kelahirannya, menuju Madinah. Hijrah ini bukan tanpa alasan, utamanya adalah karena keamanan dan para pemeluk Islam yang notabene mayoriatas kalangan kelas bawah seringnya mendapat siksaan dari kafir Quraisy.

Lebih dari 1400 tahun berlalu sejak masa Rasulullah saw bersama rombongan kaum Muhajirin berhijrah menuju Madinah, tapi kondisi umat Islam belum banyak berubah. Tak usahlah saya memaparkan rakyat Palestina yang setiap hari berjuang melawan bang sa Israel. Karena bisa jadi buat masyarakat Indonesia, Palestina terlalu jauh untuk bisa kita perbantukan.

Mulanya saya mendapati postingan sebuah foto di jejaring sosial. Dalam foto yang berlatar belakang laut itu terlihat ratusan, mungkin ribuan, pria-pria yang bertelanjang dada tampak tertidur. Terlihat beberapa orang berseragam militer berdiri ditengah-tengah tumpukan pria-pria. Di bawah foto itu tertulis kalau mereka ada korban dari kekejaman rezim militer Myanmar. Mereka ada pria-pria Rohingya. Caption foto itu bertanya dengan tegas, bagaimana media bisa tidak tahu jika ada pembantaian ratusan manusia di Myanmar.

Perlahan tapi pasti, pemberitaan soal Rohingya mendapat perhatian dan tempat di media massa. Selama ini, pergolakan Suriah, Iran, dan sekitarnya menjadi santapan media arus utama. Faktanya, konflik etnis Rohingya dengan etnis Rakhine sudah berjalan cukup lama. Setidaknya ada 78 orang tewas, 1.200 hilang, dan 80 ribu orang mengungsi. Kesemuanya merupakan warga dari etnis dari Rohingya. Pemberitaan menjadi semakin besar setelah diketahui  warga etnis Rohingya berlatar belakang Islam.

Tampaknya etnis Rakhine yang pemeluk Buddha, kurang berkenan hidup berdampingan dengan etnis Rohingya yang memiliki kesamaan dengan orang-orang Bangladesh. Entah apa alasan keberatan mereka, satu hal pasti bahwa pemerintahan Thein Sein pun tidak menganggap eksistensi etnis Rohingya. Di Myanmar, etnis Rohingya tidak diakui sebagai warga negara. Itu artinya mereka ada outsider, penyusup sehingga tidak punya mendapatkan perlindungan. Lantas jika tidak mengakui sebagai warga negara, apakah layak membunuh mereka?

Rasanya sih hal itu sah-sah saja di negara seperti Myanmar. Fakta sudah berbicara. Dunia internasional pun sudah mengetahui soal itu. Menariknya adalah, selama ini Myanmar kerap jadi pusat perhatian oleh negara-negara Barat, khusus Amerika Serikat karena ada sosok Aung San Suu Kyi. Wanita ini adalah simbol dibalik pertarungan militer dengan demokrasi. Sosok Aung San Suu Kyi dinilai bisa membawa angin segar bagi Myanmar yang menganut sistem pemerintahan otoriter. Namun sebagai seorang yang memperjuangkan demokrasi, hingga kini Suu Kyi belum berkomentar ihwal konflik antara Rohingya dan Rakhine.

Kini, upaya untuk membantu pengungsi dan korban konflik dari etnis Rohingya mulai berdatangan. Parlemen kita berencana akan mengunjungi lokasi konflik dan melakukan pembicaraan dengan pemerintah Myanmar. Langkah cepat ini harus didukung penuh oleh semua negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Jangan menunggu konflik ini semakin meluas dan terkendali.

Kita tidak ingin pemerintah Myanmar ke depannya menjadi repot dengan keterlibatan pihak-pihak yang bertindak atas nama kelompok tertentu. Contoh termudah adalah Al-Qaeda di Timur Tengah. Saya pikir, Myanmar harus belajar dari Afganistan, Filipina, dan Amerika Serikat soal tindak tanduk Al-Qaeda.

Islam memiliki cara pandang yang berbeda dengan agama lain dalam hal persaudaraan. Saya kasih satu contoh kecil ketika Rasulullah saw bersama kaum Muhajirin hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rasulullah menjadikan kaum Ansar dan Muhajirin menjadi saudara seiman. Mendengar hal itu, kaum Ansar berlomba-lomba membantu Muhajirin yang datang tanpa harta dan benda. Ada satu ketika seorang sahabat dari Ansar yang memiliki lebih dari dua istri menawarkan satu istrinya untuk dipersunting dari seorang sahabat Muhajirin. Dari sini kita bisa menakar sampai sejauh mana persaudaraan atau ukhwah dalam Islam.

Saya tidak mau menjadi pemantik bagi etnis Rohingya untuk melakukan perlawanan. Tapi sampai batas tertentu, seorang manusia akan memiliki intuitif atau sikap untuk melakukan pembelaan bila disakiti. Bila benar adanya kabar yang mengatakan kalau ada etnis Rohingya dipaksa berpindah agama atau dilecehkan agamanya maka itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk berjihad.

Mungkin etnis Rohingya sulit melakukan perlawanan tapi bagaimana dengan saudara seiman mereka yang berada di luar daerah konflik. Kita tidak bisa mendahului nasib, tapi setidaknya kaum elit segera mencari solusi untuk persoalan ini. Bila benar ada pelanggaran berat, maka sanksi seperti memutus hubungan diplomatik dengan Myanmar sesekali perlu lah dicoba.

Sejarah sudah mencatat kalau hijrahnya Muhajirin ke Madinah memberikan semangat baru untuk bangkit dan membangun Islam. Memang Rohingya tidak berhijrah ke suatu tempat, tapi kebangkitan orang-orang yang teraniaya sepertinya suatu keniscayaan. Jikalau mereka tidak mampu bangkit, maka saudara-saudaranya lah yang akan membantu dengan beragam caranya dan kemampuannya masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s