Gaya Hidupmu Bukan Gaya Hidupku

Di tengah asyik-asyiknya menekan tombol Blackberry, tiba-tiba saja fitur Blackberry Messenger tidak berfungsi dengan baik. Berulang kali saya coba menekan tetap tidak ada perubahan. Sang fitur enggan membuka. Walhasil saya tidak bisa membaca BBM bila ada pesan yang masuk. Sejenak saya mencoba menenangkan diri. Akhirnya saya memutuskan untuk me-refresh BB dengan cara membuka baterainya.

Dari pengalaman saya sebelumnya, bila ada masalah dengan BB membuka baterai jadi langkah pertama yang biasa saya lakukan. Aha, hasilnya tidak mengecewakan, akhirnya fitur BBM saya kembali berfungsi normal. Entah apa yang ada dalam benak saya, tiba-tiba pikiran negatif membuncah. Bagaimana bila cara tadi tidak berhasil, apa saya bisa bekerja tanpa BB? Bekerja tanpa notebook? Bekerja tanpa modem? Tidak ada fasilitas jaringan internet di tempat liputan? Tidak aliran listrik untuk mengisi ulang HP jika lemah?

Ah, pusing. Tidak bisa, pikir saya. Sehari tanpa BB saja terasa sulit. Sehari tidak mendengar nada dering BBM atau email masuk terasa aneh. Well, saya pikir wajar kalau saya tergantung dengan alat komunikasi karena sudah jadi tuntutan pekerjaan. Apa jadinya wartawan zaman sekarang tanpa HP dan jaringan internet?

Di satu sisi saya merasa kalau ketergantungan saya dengan alat komunikasi dan teknologi informasi makin meningkat. Ditambah lagi jika saya masukan variabel lainnya, yaitu kendaraan. Makin kompleks lah ketergantungan saya dengan apa yang mungkin disebut dengan modernitas.

Sampai suatu ketika saya merasa seperti ditusuk sebilah pedang panas tepat di ulu hati. Saat seorang teman kuliah mengeluh, tepatnya mungkin mengingat melalui statusnya di jejaring sosial. Sebenarnya apa yang manusia butuhkan, air atau jaringan internet? Mana yang lebih utama, pangan atau komputer? Apa sih yang lebih penting uang untuk belanja makanan atau isi pulsa?

Teman saya bilang, dia bisa hidup tanpa jaringan internet tapi tidak bisa tanpa jaringan air bersih. Kapan dia bisa membeli rumah kalau setiap tahun harganya bergerak naik terus tanpa ada yang bisa menghentikan. Pemerintah seperti tidak tahu apa yang menjadi kebutuhan dasar rakyatnya. Memang sangat beresiko zaman sekarang ini kita masih tergantung ke pemerintah.

Dari situ saya berpikir kalau selama ini masyarakat kita sebenarnya terjebak dalam gaya hidup. Pada titik terekstrem adalah konsumerisme. Kita sulit menentukan apa yang menjadi prioritas dalam kebutuhan hidup sehari-hari. Kita lebih suka mengikuti perkembangan teknologi dan gaya hidup baru dibanding dengan melihat kebutuhan yang sifatnya jangka panjang. Konsumerisme adalah ketika barang yang kita beli memiliki posisi sosial dan identitas di masyarakat.

Saat ini kebanyakan orang akan berpikir tertarik memiliki sebuah mobil dibandingkan mulai mencari-cari hunian tempat tinggal. Tak masalah punya rumah kontrakan yang penting punya mobil. Inilah gaya hidup. Tak salah, tapi bukankah nilai mobil yang kita beli atau cicil setiap tahun pasti turun sedangkan nilai tanah atau rumah tiap tahun meningkat?

Inilah yang menjadi kekhawatiran saya. Saat motor yang sudah saya cicil dua tahun lebih hampir lunas, otak saya lantas mulai memikirkan rumah. Saran dari seorang teman yang sudah menikah dan memiliki anak adalah terlebih dahulu mencari rumah. Sebagai seorang lelaki yang ingin membangun rumah tangga, keinginan untuk memiliki rumah ternyata lahir dengan sendirinya tanpa saya minta atau panggil-panggil.

Pikiran saya pun melayang membayangkan bila saya tinggal di Bogor, Bekasi, atau masih di Tangerang tapi di pinggiran dan harus pergi pagi-pagi buta karena jarak rumah ke kantor sangat jauh dan lama. Dua atau tiga tahun ke depan, rasanya saya udah tidak kuat berada di jalan raya.

Jadi, tidak semua gaya hidup kita harus sama dengan gaya hidup orang lain. Jika tidak disadari maka kita hanya akan menjadi objek-objek bagi sistem yang lebih besar dan kuat, yaitu kapitalis. Tubuh dan pikiran kita dikendalikan oleh keinginan pasar. Bukan fungsi atau asas kemanfaatan yang kita cari tapi rangkaian kesenangan semu yang sialnya tak berujung.

Kita merasa kalau teknologi bisa ditundukkan padahal sebenarnya teknologilah yang membuat kita tergantung. Perangkat teknologi macam telepon dan televisi justru membuat kita jadi berubah menjadi objek. Kita perlu rehat sejenak. Berpikir ulang, merenung, dan mengevaluasi. Dengan kejujuran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s