Jokowi Datang PKS Meradang

 

Tempat pemungutan suara 13 sudah ramai didatangi sejumah warga. Dari kejauhan, beberapa mobil media televisi sudah berjajar rapi di pinggir Jalan Raya Kemang No. 49, Jakarta Selatan. Puluhan pewarta foto dan wartawan sudah melingkari TPS yang dipayungi oleh tenda berwarna putih. Dengan rasa kantuk saya memarkir motor tak jauh dari kerumunan wartawan dan anggota polisi yang terlihat membaur dengan warga.

Seorang teman membisiki kalau calon gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid belum datang ke TPS 13. Tak lama kemudian, teman lainnya membisiki kalau Hidayat kakinya keseleo. Wah, kaki terkilir di hari pencoblosan bukanlah sesuatu yang diharapkan. Sekitar 20 menit menunggu, sosok Hidayat pun akhirnya tiba di TPS 13. Dengan dibonceng sepeda motor, ia berjalan tertatih-tatih menuju bilik suara. Bersama sang istri, Diana Abas Tolib, dan ketiga anaknya, Hidayat menjadi bagian warga Jakarta yang ikut berpartisipasi dalam Pemilukada DKI Jakarta.

Usai mencoblos, di hadapan wartawan Hidayat mengaku optimis bakal melaju ke putaran dua Pemilukada. Bahkan ia sempat melontarkan kalau Pemilukada cukup berjalan satu putaran saja. Pilgub dua putaran cenderung boros dan waktu berbarengan dengan bulan puasa.

Ditengah-tengah wawancara, tersiar kabar kalau kandidat gubernur DKI Jakarta lainnya, yaitu Joko Widodo alias Jokowi bakal melancong ke Markas Pemenangan Hidayat-Didik. Muncul beragam pertanyaan dari para wartawan, termasuk saya. Usai melihat pesta demokrasi di TPS 13, saya pun bergerak ke Markas Pemenangan Hidayat-Didik di Warung Buncit.

Tiba di markas pemenangan saya merasa lebih ramai wartawan dibandingkan dengan tim sukses Hidayat-Didik sendiri. Puluhan kamera sudah terpasang di halaman belakang markas pemenangan. Pelataran parkir penuh dan sesak oleh kendaraan roda empat dan dua yang keluar masuk. Di halaman belakang, dua bua layar raksasa sudah terpasang. Dua televisi nasional sudah memulai prediksi siapa kandidat gubernur yang bakal lolos ke putaran kedua.

Setelah sekitar 45 menit menunggu, sosok yang dinanti akhirnya datang. Dengan mengenakan kemeja putih, Jokowi mendatangi markas pemenangan Hidayat-Didik. Beberapa orang berpakaian kotak-kotak yang berada dibelakang Jokowi terlihat tenggelam ditelan sodoran mike dari para wartawan. “Saya cuma mau silahturahmi ke Pak Hidayat,” begitu kata Jokowi.

Kedatangan Jokowi saat masa pencoblosan belum rampung, mengundang banyak penilaian. Indikasi paling kuat adalah soal koalisi. Memangnya bisa Hidayat yang notabene dari Partai Keadilan Sejahtera dan Jokowi kader PDI-Perjuangan jalan beriringan? Ya namanya juga usaha, begitu pikir Jokowi.  Kalau kita perhatikan peta dan kekuatan para kandidat gubernur Jakarta, cuma pasangan Jokowi dan Hidayat yang mampu menjegal laju petahana (incumbent) Fauzi Bowo-Nachrowi.

Kedatangan Jokowi ke Hidayat seperti mengisyaratkan siapa pun yang melaju ke putaran dua harus bersatu padu menjegal Foke. Inisiatif itu diambil langsung oleh Jokowi. Pertanyaan saya adalah, apakah tim sukses Hidayat pernah terlintas akan mengunjungi Jokowi usai mencoblos? Tentu tidak karena Jokowi tak punya hak suara di Pilgub Jakarta. Di sisi lain, saya melihat kedatangan Jokowi ke markas Hidayat-Didik tidak terlihat mewakili kader PDI-Perjuangan. Jokowi terlihat seperti seorang pemimpin.  Aspek figur yang lebih terang terlihat.

Dalam jumpa pers, Jokowi dan Hidayat saling memuji dan menimpali. Pertemuan mereka tak lebih seperti ajang silahturahmi antarwarga yang memiliki identitas sama, yaitu Jawa. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam saat pertemuan, satu hal pasti itu memberi kesan mendalam bagi banyak orang. Terutama tim sukses dan kader PKS.

Matahari mulai bergerak ke ufuk barat. Hasil quick count beberapa lembaga survei menempatkan Jokowi dan Foke diurutan teratas. Satu TPS mungkin bisa menjadi sampel. Di TPS 13 dimana Hidayat memilih, perbedaan suara ketika kandidat, yaitu Foke, Jokowi , dan Hidayat sangat tipis sekali. Hidayat diurutan pertama dengan suara 84 suara disusul Foke dengan 83 suara dan Jokowi 81 suara. Ini bisa jadi cermin kalau persaingan Pilgub Jakarta itu hanya antar tiga kandidat, yaitu Foke, Jokowi, dan Hidayat.

Melihat hasil ini, sepertinya kader PKS langsung meradang. Pasalnya, pada Pilgub 2007 suara mereka mencapai 40 persen lebih. Tapi kalau melihat hasil survei dan dikuatkan dengan real count internal partai, PKS berada diurutan ketiga dibawah Foke dan Jokowi.

Sederhananya, suara PKS lari ke pasangan Jokowi. Begitu juga suara Foke yang berada diurutan kedua. Angka 43 persen untuk Jokowi versi lembaga survei bukanlah angka kecil buat calon yang baru ditetapkan beberapa pekan sebelum masa penetapan calon gubernur Jakarta. Media dan pengamat masih menelisik kemana larinya suara Foke dan Hidayat saat Pilgub kemarin.

Sebenarnya, jauh sebelum partai-partai menetapkan bakal calon gubernur yang akan diusung pada Pemilukada Jakarta, nama Jokowi sudah nyaring terdengar di internal PDI-Perjuangan. Dari pertemuan saya dengan Basuki Tjahaja alias Ahok, pasangan Jokowi, perkawinan mereka bukanlah kebetulan. Ada seorang jenderal yang menginginkan mereka melaju di Pemilukada Jakarta. Dari penuturan Ahok, menirukan jenderal itu, kehadiran mereka untuk menguji rakyat yang kata jenderal itu sudah muak dengan partai.

Citra Jokowi dan Ahok sendiri tidak dibangun dalam sehari semalam. Mereka relatif sudah berhasil memimpin di daerah asalnya. Rekam jejaknya pun bisa dilihat. Jadi sebenarnya Jokowi-Ahok bukan barang baru. Sebenarnya, empat kandidat lainnya, yaitu Hidayat-Didik, Hendardji-Riza, Faisal-Biem, dan Alex-Nono bukan barang baru juga. Namun rekam jejak Jokowi-Ahok, khususnya Jokowi relatif mudah dikenali. Apalagi setelah booming soal mobil Esemka dari Kota Solo.

Kedatangan Jokowi di kancah Pemilukada Jakarta sedikit banyak mengubah peta politik di partai-partai besar. Triwisaksana, kader PKS sekaligus anggota DPRD Jakarta, sudah jauh-jauh hari mensosialisasikan dirinya bakal maju dalam Pilgub. Apa daya, ditikungan terakhir, sosok Sani (panggilan Triwisaksana) digantikan oleh seniornya, Hidayat Nur Wahid. Sepertinya, pikir saya, hanya figur Hidayat yang bisa mengimbangi Jokowi. Bukan PDI-Perjuangan yang membuat ketar-ketir PKS, tapi justru figur Jokowi.

Jokowi datang, PKS pun meradang. Terbukti dari hasil survei, perbedaan suara Jokowi dan Hidayat terlampau jauh. Kalau rekam jejak yang menjadi patokan pemilih Jakarta, maka warga Jakarta cukup rasional. Mereka menginginkan calon pemimpin yang sudah terlihat karyanya. Selain Jokowi-Ahok, cuma Alex Noerdin dan Foke yang berasal dari kelas eksekutif.

Selain persoalan angka Golput yang masih tinggi, saya pikir kemenangan Jokowi di putaran pertama Pilgub tidak bisa dibilang kesuksesan partai. Tapi lebih kepada figur Jokowi dan peran media. Tidak banyak janji diumbar tapi kekuatan mengunjungi warga dari satu tempat ke tempat lain.

Hasil Pemilukada Jakarta cukup banyak memberikan pelajaran bagi PKS. Usai kekalahan di Banten dan Jakarta, PKS perlu berpikir ekstra untuk Pemilukada Jawa Barat. Keringnya perolehan suara untuk PKS di Jakarta padahal ada tokoh sekelas Hidayat Nur Wahid tentu memberikan pelajaran berarti. So, bagaimana nanti utak-atik strategi, koalisi, dan pasangan calon untuk Jawa Barat menarik untuk dinanti.

Tangerang, 16 Juli 2012.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s