Sudut Pandang

Terkadang perputaran bumi selama sehari penuh terasa begitu lama. Kalau sudah begitu biasanya semua yang ada di sekeliling menjadi terasa membosankan. Candaan dan guyon menjadi obat paling mujarab untuk membunuh rasa bosan. Begitu juga dengan saya dan teman-teman sesama wartawan di Jakarta Barat. Ada kalanya berita datang bertubi-tubi bagai hujan deras. Lain waktu berita terasa begitu kering.  Dan jika kebuntuan telah mencapai ujungya saat itulah kami menulis berita dengan begitu riang gembira. Seperti saat warga melaporkan penemuan sesosok bayi.

Hari itu Senin 23 Januari 2012. Saya mendapatkan kabar telah ditemukan sesosok bayi perempuan di kawasan Kalideres. Penemuan bayi oleh Ratman (25) ini merupakan kali kedua setelah empat hari sebelumnya, Daswati (42) warga Kebon Jeruk mengalami hal serupa. Dari pengakuan Ratman, bayi perempuan dengan berat 2,7 kg dan panjang 48 cm ini ditemukan di depan rumahnya dan tersimpan rapi dalam kardus mie instan.

Sementara Daswati, memiliki cerita berbeda. Anaknya Rizki yang menemukan kali pertama bayi perempuan dengan berat 2,4 kg dan panjang 46 cm. Daswati mengaku ari-ari masih menyatu dengan pusar sang bayi. Kehadiran bayi ini tidak sendiri, ada secarik kertas disisinya. Pesannya, agar orang yang menemukan merawatnya dengan baik.

Lantas, saya pun langsung membuat berita tentang penemuan bayi yang pertama oleh Daswati. Sebetulnya tidak ada hal istimewa dengan penemuan bayi ini. Perkiraan saya, seseorang sengaja membuang bayi karena kehadirannya tidak diharapkan. Motifnya beragam, bisa karena faktor ekonomi atau hubungan gelap antar dua kekasih.

Lantaran belum ada laporan berita untuk pagi itu, saya pun putuskan untuk membuatnya. Beberapa hari kemudian, saya tidak menemukan laporan tentang penemuan bayi dimuat oleh kantor. Saya pun ragu untuk membuat kembali berita penemuan bayi di Kalideres. Pasti tak akan dimuat kantor, begitu pikir saya.

Tapi agar tidak sia-sia, saya coba membantu teman menentukan judul berita yang menarik dan menggigit. “Men, kasih ada judul : Jakarta Barat Jadi Tempat Pembuangan Bayi, ” usul saya.  Kontan, kami pun langsung tertawa. Sejurus kemudian saya membantahnya. “Tapi brow baru dua bayi yang dibuang. Kalau mau pake frase tempat pembuangan harus ada frekuensi atau jumlah,” terang saya.

Percakapan kami pun berakhir. Dan saya tidak tahu apakah teman saya menulis judul berita tersebut seperti yang saya usulkan.

Batas Neraka dan Surga

Suatu ketika saya berpikir, apakah ada ruang atau batas pemisah antara surga dan neraka di akhirat nanti. Sebenarnya ini hanya pikiran selintas dan sekedar keisengan belaka. Jawabannya sudah pasti tidak ada. Di akhirat nanti, ketika belum ada ketetapan seorang hamba masuk ke neraka atau surge, pastinya Tuhan sedang mengadili hamba tersebut. Jadi, mungkin, batas antara neraka dan surga adalah sebuah penantian. Padang Mahsyar adalah batasnya.

Lalu kalau ditarik dalam realitas dunia, apa jadi relevan jika saya menanyakan apa batasan antara kebaikan dan kejahatan.  Tidak mudah menjawabnya, tapi menurut saya semakin kita mengalami dan melihat banyak hal semuanya tampak menjadi bias. Ibarat meletakan sebatang pensil kedalam air. Dari luar permukaan air kita akan melihat batang pensil menjadi bengkok. Sementara kalau kita tenggelam, tidak ada perubahan dengan batang pensil tersebut.

Jadi ini persoalan sudut pandang. Di dunia kita akan menghadapi banyak sudut pandang. Suku, agama, hukum, adat istiadat, jenis kelamin dan sebagainya semua itu adalah sudut pandang. Agar tidak ada bias maka perlu ada kompromi untuk menentukan sudut pandangan apa yang bakal kita pakai. Kalau tidak ada titik temu dan kompromi maka jangan memaksakan membuat penilaian atau apapun itu namanya.

Satu tahun saya menjalani pekerjaan sebagai wartawan. Setiap hari saya selalu berpikir tentang sudut pandang, dalam hal ini saya menyebutnya angle. Satu peristiwa bisa menghasilkan pemberitaan berbeda jika sudut pandangnya berbeda. Itu pasti. Sudah tiga kali saya mengalami perpindahan departemen atau desk. Ketiga desk tersebut memiliki garis sama. Saya menuliskan tentang nilai kebaikan dan keburukan. Tidak ada warna kebaikan dan keburukan sekuat di departemen Metro.

Lima bulan lebih saya berada di departemen metro. Desk yang berisi isu perkotaan dan kriminalitas. Tak ada pertentangan kebaikan dan keburukan selain di isu kriminalitas. Orang tua tega membuang bayi, sementara di sudut kota lainnya ada pasangan muda yang menantikan kehadiran sesosok bayi. Seorang pria tega membunuh hanya karena disenggol saat berjoget. Sekawanan begundal berani mencuri, membunuh dan kemudian memperkosa mahasiswa yang baru saja selesai sidang skripsi karena dibawah pengaruh minuman keras.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s