Nasi Padang dan Catatan Pinggir

”Sial, lama sekali hanya untuk menilai kinerja sebuah organisasi yang bekerja setahun penuh,” pikirku.

Mahasiswa-mahasiswa yang berjas almamater biru tua sedang sibuk berlobi ria untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hasil LPJ organisasi yang usai dibacakan. Di lantai dasar, para pengurus terdengar riuh, penuh tawa. Kilatan kamera tampak bersahutan. Sesekali suara mereka merendah. Aku sendiri lebih memilih duduk di lantai atas, sambil berbincang keadaan kampus tempat saya menghabiskan dua tahun lebih untuk merajut pendidikan. Padahal sebenarnya hanya untuk merenggut secarik ijazah yang bertuliskan S,Ikom. Jarang-jarang kami berbincang soal kondisi politik kampus di fakultas kami. Maklum, lagi musim pemilihan presiden mahasiswa. Ya, lumayanlah, hitung-hitung membunuh kebosanan.

 

Pergantian hari terjadi. Jarum jam terus bergerak. Tidak ada satu pun mahkluk yang bisa menghentikan pergeseran jarum jam. Sehebat, sekuat, setajir apa pun dia. Yang pendek menunjuk ke arah satu, yang panjang ke arah lima. Dan ini pagi buta. Saat yang benderang bagi sang malam. Menunggu memang pekerjaan yang amat membosankan. Alhamdulillah, Allah itu Maha Adil, kebosananku selama satu jam lebih ini dihiasi oleh tingkah laku dia yang rada kekanak-kanakan yang tak pernah bosan saat kupandangi.

 

Tidak ada obat yang paling mujarab dan ampuh untuk membasmi penyakit kebosanan selain buku. Kalau Anda tinggal di Indonesia dan sedang membuat janji dengan seseorang atau ikut dalam acara apapun, saranku bawalah sesuatu yang bisa menghibur  untuk membunuh kebosanan akibat lama menunggu. Dan malam itu Caping (Catatan Pinggir) Goenawan Mohamad (GM) menjadi obat penolongku saat perbincangan politik kampus sudah usang dan kami sama-sama bosan membahasnya.

 

”Baca apa?”, sahut temanku. Aku hanya menyodorkan buku GM. Hanya butuh sekejap bagi kami untuk berbincang soal GM.

”Punya temen kosan, beli di Senen. Edisi lama sih.” sambung aku.

”Dia itu (GM), kalau kata Ignas Kleden, skeptis dan gak ngasih solusi.” sahut temanku.

Pada percakapan selanjutnya temanku bilang, GM itu cuma main di permukaan saja.

”Tapi saya kalau baca dia selalu ada inspirasi baru” sambut temanku.

”Satu hal yang disuka temen saya soal GM, tulisannya bagus, tapi tingkah nanti dulu.” celetuk aku.

”Iya,” dengan senyum yang merekah di bibir temanku.

 

Di malam yang biasa, semestinya aku sudah berada di atas kasur yang empuk dengan selimut yang menghangatkan tubuhku walau agak tengik.

 

”Dunia modern sudah berhasil membuat kita lupa. Akibatnya kita nyaman tinggal di dunia. Coba lihat Rasullah saw. Dia cuma tidur di atas pelepah daun kurma padahal tidak sulit bagi Rasul untuk tidur diatas kasur dengan rajutan emas. Kita sendiri, begitu nyaman dengan kasur empuk, peralatan kebersihan dan tetek bengek. Sebenarnya akar permasalahan kita adalah kita lupa akan hakikat kita yang sebenarnya. Kita itu mau ngapain, dari mana mau ke mana? Dan dunia yang modern udah bikin kita nyaman. Kenyamanan itu yang bikin kita lupa akan hakikat kita sebenarnya,” begitu komentar temanku.

 

Aku merasa kita berdua begitu klop, langsung nyambung kalau ngomong, gak peduli mau memulai dari tema apa. Maksudku aku dengan temanku.

Pembicaraan kami terhenti dengan pengumuman Laporan Pertanggung Jawaban oraganisasi yang diterima atau ditolak. Singkat aja, LPJ-nya diterima, titik.

”Udah tidur dikosan saya aja,”kataku.

 

Di perjalanan, perbincangan kami berlanjut.

”Saya sebenernya belum nemuin temen yang bisa diajak bicara kaya ginian,” sahut temanku.

Dalam hati aku pun senada dengannya. Ternyata latar belakang pengalaman kami bisa dibilang sama, serupa. Di mulai dari sastra, lalu Islam, dan berlanjut ke ranah filsafat. Tiga hal itu yang membuat irisan kesamaan di hati kami. Aku tidak memungkiri kalau kami juga seorang yang introvert. Pikir kami, kalau kalian ingin masalah kalian tuntas dan pengetahuan kalian gak bodoh-bodoh amat, peganglah tiga hal itu:Islam, sastra, dan filsafat.

 

Posmodernisme, penggiat Islam yang takut mempelajari filsafat, strukturalis, GM, Lekra, Manikebu, menjadi pengiring perjalanan kami ke dari kampus menuju kosan. Dan inilah puncak ke kegalauan kami berdua.

 

”Ini nasi kalau gak dimakan sekarang bisa basi,” sahutku.

Betul juga, rasa asam sudah terasa di sambal. Tapi bumbu rendang masih kuat terasa. Pukul dua kami lumat nasi padang itu.

“Gak ada matinya nih nasi, biar udah jam dua pagi masih aja enak. Kayanya enak kalau punya isteri dari orang Minang, atau setidaknya dia bisa masak khas Minang-lah,” celetukku.

 

”Menurut saya kafir itu adalah orang yang tahu kebenaran tapi dia gak mau melaksanakan kebenaranya itu. Itu kafir. Abu Jahal sangat pas disebut demikian. Permasalahan kita adalah kita kesulitan membuat orang atheis untuk percaya sama Tuhan. Saya juga bingung. Buku-buku yang dibuat, ucapan ulama untuk meyakinkan mereka gampang dibantahkan oleh orang-orang atheis. Mungkin pertama kali yang harus dilakukan orang atheis adalah dia harus percaya dulu sama Tuhan, janganlah mengumpulkan, mencari pembuktian argumen, seputar Tuhan dulu. Tapi berangkat dulu dari nol (0). Coba baca buku Dan Malaikat Pun Bertanya, Jeffry Lang. Argumen orang Islam mentah, buntu. Tak berarti apa-apa di hadapan sang atheis. Siapa sebenarnya yang salah. Apa karena jawabannya yang tidak memuaskan? Atau jangan-jangan pertanyaannya yang salah,” komentar temanku menghiasi ruang kamar.

 

Sedikit demi sedikit, nasi padang dan lalapan singkong kami makan dengan lahap. Ternyata nafsu makanku belum redup. Serasa makan sahur di bulan Ramadhan.

 

Pasrah dulu. Bukankah memang demikian salah satu definisi Islam, pasrah, berserah diri kepada Allah, pikirku.

 

”Kalau berbicara agama jangan melulu pakai akal. Pakailah hati,” dia menambahkan.

”Itu….itu…bingung saya,” lanjut temanku diiringi gigitan daging.

”Coba bayangkan, saat seorang yang tidak memeluk agama dan dia dihadirkan ke dunia dalam keadaan menderita, kelaparan, dan kekeringan. Setelah itu dia mendapat kabar bahwa kalau dia tidak memeluk agama maka dia akan disiksa selamanya di nereka.

Kenapa, kenapa? Yang gak habis pikir itu disiksa selamanya di akhirat setelah dia juga menderita di dunia.”

(Astagfirullah,ampuni aku dan temanku ya Rabb, jika kami berlebihan dengan ucapan kami malam ini!)

 

Teman, aku tahu sebenarnya kamu pintar. Terimakasih, kamu sudah memperlihatkan kepintaran plus kegalauanmu kepadaku. Kurasakan, kau sebenarnya cerdas, tapi kecerdasan itu kau tutup rapat-rapat ketika berhadapan dengan orang lain. Mungkin ini ciri orang cerdas, dia agak sulit menyusun ucapannya secara sistematis. Acak-acakan. Tapi beruntung aku bisa memahaminya. Aku pun ketularan sulitnya dalam membuat tulisan ini.

 

Jarum jam menyentuh angka tiga.

”Socrates bilang, saat kita memikirkan sesuatu, sesuatu itu pasti memiliki makna,” kata temanku.

 

Pikiranku langsung tertuju pada kembang malamku. Hampir setiap hari aku memikirkan dia. Sedang apa dia? Apa dia memang cukup bermakna bagiku?

Jangan berhenti berpikir teman. Semakin kau berpikir kau akan menemukan kegundahan. Semakin gundah dirimu, semakin bagus.

 

Kita jangan egois untuk menghakimi seorang atheis, karena mereka sedang mencari sinar kemuliaan Tuhan. Kita harus bisa menghargai proses dia mencari sinar Kemuliaan itu, bukan berdebat meyakinkan dia untuk percaya Tuhan. Itulah sari pati kegundahan sahabatku.

 

Ya Allah yang menggenggam hati ini. Sangat mudah bagi-Mu untuk membalikkan hati kami. Lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Selimuti jiwa kami dengan  ketenangan dan cukupi kami dengan pemberian-Mu. Buat kami ridho dengan ketentuan-Mu.    

Jatinangor, 12 Mei 2007

 

* Rewrite: Tangerang, 1 Juni 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s