Tongkat Sihir Ayah

Semburat sinar mentari menabrak dinding kamar Gun. Tidak seperti biasanya, pagi ini Gun terasa berat untuk sekedar membuka kedua kelopak matanya. Sudah dua hari terakhir ini dengan gencar deadline tulisan mengejarnya. Bulan ini majalah dimana Gun bekerja akan meluncurkan edisi spesial dan Gun ditunjuk menjadi salah satu koordinator.

 

Suara ketukan pintu berkali-kali merongrong aktivitas tidur Gun.”Gun, bangun. Kamu belum subuh Nak. Jangan sampai ayah yang mengetuk pintu kamarmu,” ucap Ibu.

Irama keluhan yang keluar dari hidung Gun terdengar oleh Ibu yang berada di balik pintu. Untuk memastikan kalau Gun sudah benar-benar bangun, Ibu kembali mengetuk pintu. Kali ini dengan nada lebih tinggi dan frekuensi yang cepat.

”Iya Bu, Gun udah bangun kok,” jawab Gun.

 

Begitu membuka pintu kamar, Gun disambut oleh sorot mata Ibu yang tidak seperti biasanya. ”Yang benar saja Gun, masa sudah jam segini kamu belum Subuh,” ujar Ibu. Ibu sebenarnya tahu kalau Gun baru dua jam memejamkan mata dan merebahkan tubuhnya di ranjang.

 

Ibu dan Ayah tidak hanya tegas dalam mendidik anak-anaknya tapi juga mereka adalah tim yang kompak. Terutama ayah, pernah suatu sore Gun dan Ipul, si bungsu, terlambat pulang ke rumah. Semua anggota keluarga sudah selesai solat Magrib berjamaah kecuali mereka berdua. Dan sudah menjadi aturan bersama kalau sehabis Magrib, Ayah  selalu memberikan sedikit ceramah dan seluruh anggota keluarga wajib ikut. Walhasil, akibat keterlambatan Gun dan Ipul yang sore itu beralasan habis bertanding sepakbola, ayah memainkan tongkat sihirnya kepada mereka berdua. Ayah memang disiplin dalam mendidik anak-anaknya, tapi ayah juga cukup demokratis untuk menerima setiap argumentasi dan kritikan yang dirasa masuk akal.

 

Aku sendiri pernah menerima lecutan tongkat sihir dari ayah. Waktu itu aku ketahuan membolos tidak mengaji selama tiga malam berturut-turut. Wak Haji pikir, guru mengajiku, aku sedang sakit tapi ternyata ketika hal itu di konfirmasi ke ayah keadaanku baik-baik saja. Kontan akibat ulah nekatku, 50 pecutan tongkat sihir ayah bolak-balik mendarat di bagian bokong, punggung, dan kedua kaki dan tanganku. Seminggu aku tidak masuk sekolah akibat tongkat sihir ayah.

 

Kami berlima, Agam, Sarah, Wiguna, aku, dan Saiful, biasa menyebut rotan yang digunakan ayah untuk menghukum kami dengan sebutan tongkat sihir ayah. Aku yang pertama kali menyebutnya demikian. Tongkat itu sendiri sebenarnya adalah sebuah rotan.  Ukuran tidak besar, hanya satu centi diameternya. Panjangnya sendiri 60 centimeter. Rotan sangat pas digunakan untuk mencambuk mengingat karakteristik rotan yang lentur dan tidak mudah patah. Soal rasa, jangan tanya bagaimana perihnya dipukul oleh tongkat sihir ayah. Sekali kena pukul, segaris warna merah akan segera terukir di atas kulit kami.

 

Gun segera bergegas menuju kamar mandi. Dengan tertunduk Gun mencoba menghindari tatapan ayah yang sedang sibuk membolak-balik koran pagi.

”Kalau setiap hari kamu kesiangan, lebih baik cari pekerjaan yang lain Gun,” ucap ayah. Tanpa berkata apa-apa Gun bergegas masuk kamar. Aku yang masih mengeringkan diri sehabis lagi pagi, agak kikuk mendengar lontaran ayah. Tanpa pikir panjang, aku segera pergi mandi.

 

Sekarang rumah kami hanya dihuni oleh empat orang saja. Ayah, ibu, aku dan Wiguna. Agam dan Sarah sudah berkeluarga dan mereka berdua lebih memilih berpisah dari kami. Semula ayah sempat menawarkan kepada Sarah dan suaminya agar tinggal saja bersama kami. Tapi setelah mengetahui Kak Rendra, suami Sarah, dipindahtugaskan ke luar pulau, tidak ada pilihan lain bagi Sarah untuk berpisah dengan kami. Sementara Saiful si bungsu, sedang menjalani masa-masa kuliahnya di Yogyakarta.

 

“Mati gua. Pagi-pagi udah kena semprot ayah. Padahal mata masih sepet gini lagi,” celetuk Gun. “Salman, Wiguna cepet turun. Sarapan sudah siap nih,” teriak ibu dari lantai bawah. Aku yang sudah selesai merapihkan diri segera bergerak menuju ruang makan.

“Ayo cepat sarapannya. Mana si Wiguna, kok belum turun tuh anak,” tanya ibu.

“Tidur lagi kali Bu. Lagian kalau ngantuk sama lapar, aku pasti lebih pilih tidur aja Bu,” jawabku sekenanya.

“Nanti kalau sudah selesai makan, tolong kasih roti sama susu ini ke kakakmu yah,” ujar Ibu.

“Hmm…,” jawabku.

Beberapa menit kemudian aku segera naik ke lantai atas. Membawa semua pesanan ibu untuk Wiguna. “Eh Gundul. Cepet buka pintu. Makanan dari ibu nih. Aku udah telat,” kataku. Lebih dari dua menit aku menunggu jawaban dari Gun. Sudah empat kali ku ketuk pintu kamarnya.

 

Lelah menunggu ketidakpastian, aku menaruh dengan sembarang sarapan Gun di depan pintu kamarnya. Aku lalu bergegas menuju taman belakang. Memanaskan sepeda motorku. Penasaran dengan lagak Gun yang tidak biasa, aku kembali memeriksa sarapan yang kutaruh di depan kamarnya. Aku langsung terperanjat saat dua lapis roti bakar dan segelas susu tuntas tak berbekas. Yang bersisa hanya gelas kosong dengan remah-remah roti diatas piring kecil.

 

“Huh..dasar gundul. Lapar apa kesetanan kau,” teriakku.

“Eehh…makin hari makin berani yah lawan kakakmu ini,” balas Gun yang langsung menampakkan diri. Aku terkejut. Tak kusangka celetukanku akan segera dibalas.

“Eh, udah bangun bos?”

“Man, ayah udah berangkat kerja?” tanya Gun. “Belum bos. Situ sudah lupa yah kalau ayah biasa berangkat jam 7.30. Ada apa emang, takut disemprot ayah lagi yah. Makanya bos jangan kesiangan. Rasain tuh. Beruntunglah kau, tongkat sihir ayah sudah musnah. Kalau tidak habislah kau,” balasku.

“Tutup mulutmu. Eh, ada yang mau aku obrolin sama kamu. Balik jam berapa hari ini?” tanya Gun.

“Agak malem kayanya. Ada apa sih?” tanyaku penasaran.

“Sudahlah nanti saja,” ujar Gun sambil menutup kembali pintu kamarnya.

Aku menuruni dua anak tangga sekaligus dengan dipenuhi rasa penasaran.

“Yah, Bu berangkat dulu. Assalamualaikum,” teriakku.

“Waalaikumsalam. Dasar bocah tengil. Umur gak mengubah kebiasaan buruk sejak kecilnya. Kayanya aku harus mencari rotan yang lebih besar dan panjang nih,” jawab ayah.

“Sudahlah, ayah sendiri tahu kan Salman itu anaknya emang begitu,” bela ibu.

Aku hanya tersenyum saat mendengar bisikan ayah dan ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung membawa lari sepeda motorku.

 

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku mundur ke masa ketika aku dan keempat saudaraku masih tinggal bersama dalam satu atap. Masa-masa yang tidak pernah akan kami lupakan.

 

Semua tetangga kami tahu kalau ayah adalah seorang yang dikenal disiplin dan tegas. Pak Wira tetangga sebelah kami yang seorang anggota Angkatan Darat saja sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mendidik kelima anaknya. Suatu senja, selepas Magrib berjamaah ayah melontarkan kalimat pamungkas yang membuat aku merinding dibuatnya.

 

“Usiamu sudah 9 tahun Man. Itu artinya, mulai hari ini hingga usiamu 17 tahun, kamu harus lebih displin dalam soal waktu. Seperti yang sudah-sudah, jika ada yang melanggar tiga aturan yang sudah ayah dan ibu sepakati, sanksi akan ayah jatuhkan. Tiga aturan itu adalah wajib mengaji, tidak berkelahi, dan berbohong,” terang ayah. Aku hanya menunduk lesu ketika ayah mengumumkan hal itu tepat di hari ulang tahunku. Menurut penuturan Wiguna, sehabis ayah mengumumkan peraturan itu, semalaman aku mengigau berteriak-teriak kalau aku tidak mau dicambuk.

 

Kami tidak bisa memilih hukuman jenis lain, selain yang ayah tawarkan. Jika kami tidak sepakat dengan cara mendidik ayah dan hukuman yang diberikan, kami dipersilahkan untuk pergi bersekolah di pondok pesantren. Bagi kami lebih baik di cambuk tongkat sihir ayah daripada harus terkungkung bertahun-tahun bersama kaum sarungan.

 

Aku masih ingat malam ketika peraturan hukuman bagi Wiguna mulai diberlakukan, Wigunalah satu-satu orang yang memprotes keras.

“Hari gini main cambuk-cambukan,” teriak Wiguna.

“Tadi ibu juga sempet bilang ke aku kalau dulu sebetulnya ibu gak setuju sama hukuman ayah ini,” ujar Sarah.

“Ini gak adil,” kata si bungsu tidak mau kalah.

“Ngomong apa sih kamu Pul. Sok adil kamu,” ejekku.

“Hus…Sudahlah. Kita jalanin aja. Kakak yakin ayah gak akan tega nyakitin anaknya sendiri. Kita liat aja nanti. Toh sampai sekarang kakak belum pernah kena hukum dari ayah. Itu artinya kalian juga bisa,” tutur Agam.

 

Aku memikirkan lontar Ipul. Memang terdengar tidak adil. Aku sendiri kadang merasa iri melihat perlakuan teman-teman kami yang tidak terlalu ketat dalam hal peraturan di rumah. Saat aku bertanya ke teman-teman di rumah dan sekolah, hanya di keluarga kami saja yang ada piket rumah di hari libur. Pukul 21.00 malam televisi harus sudah padam dan kami harus sudah berada di ranjang pada pukul 22.00 . Pukul 4 pagi kami harus bangun. Terus menerus seperti itu hingga kami menginjak usia 17 tahun. Kami merasa segala aturan ayah yang mengatasnamakan disiplin merupakan cara halus untuk merebut masa anak-anak dan remaja kami. Tidak aneh jika kami menganggap angka 17 sebagai angka keramat. Angka 17 juga bermakna kebebasan bagi kami berlima.

 

Sepeda motorku terhenti tepat di bawah lampu lalu lintas yang saat itu sedang berwarna merah. Angka lalu lintas perlahan tapi pasti berjalan mundur. Tepat ketika angka lampu bergerak menuju angka 20 kendaraaan dibelakangku mendesak membunyikan klakson. Kendaraan lainnya melakukan hal yang sama.

“Santai dong bos, masih 20 tuh angkanya,” teriakku.

“Jangan banyak cingcong lo. Udah jalan aja. Depan lo kan kosong gak ada mobil,” teriak seorang pria dibelakangku.

“Yeh…maksa. Makanya kalau mau lebih awal bangun pagi dong,” balasku.

 

Pikiranku kembali terlempar pada suatu senja ketika aku ketahuan berbohong bolos mengaji selama tiga malam. Jalu, kucing pejantan kami satu-satu saksi yang melihat langsung bagaimana tongkat sihir ayah mondar-mandir dari kulitku. Dengan gemetar ayah mendaratkan rotan dibetisku. Cambukan itu sudah memasuki hitungan yang ke-40. Sepuluh cambukan terakhir. Lima mendarat di tangan kananku, sisanya di sebelah kiri. Sesekali si Jalu mengibas-ngibaskan ekornya tanda dia sudah merasa bosan dengan apa yang dilihatnya. Aku sendiri berusaha tersenyum getir. Menahan rasa panas yang menyebar di seluruh tubuhku.

 

Malam harinya aku tertidur dengan posisi tengkurap. Seluruh punggung, betis, dan tanganku berubah menjadi garis-garis simetris berwarna merah.

Tak disangka keesokan harinya aku demam. Ayah pikir aku demam biasa, tapi ternyata makin siang demamku semakin tinggi. Tanpa pikir panjang ibu segera melarikanku ke rumah sakit. Akhirnya aku terkapar selama lima hari di rumah sakit. Dokter yang memeriksaku hampir-hampir tidak percaya melihat guratan merah di sekujur tubuhku. Menurut dokter, aku bisa saja kehilangan nyawa jika terlambat dibawa ke rumah sakit. Ternyata cambukan ayah tidak sengaja mengenai titik saraf di punggung. Menurut dokter itu berbahaya untuk anak seusiaku.

 

Aku sendiri sempat mendengar sayup-sayup dari suara Kak Sarah yang pada saat itu sedang membesukku. Dia mengatakan kalau ayah langsung menangis seketika usai memberikan cambukan kepadaku. Menurut pengakuan Kak Sarah, ayah menangis cukup lama di dalam kamar. Ketika aku menerima hukuman cambuk tersebut, di rumah hanya ada aku, ayah, Sarah dan si Jalu. Kebetulan ibu sedang pergi.

 

Aku memarkirkan sepeda motorku tepat di bawah pohon beringin di belakang kantor. “Masih bersisa 30 menit, cukup untuk mempersiapkan bahan presentasi,” gumamku. Aku langsung berlari menuju ruang rapat besar. Semua peralatan sudah siap, aku hanya perlu mengeceknya saja. Pagi ini adalah giliran aku mempresentasikan rancangan bangunan untuk gedung pemerintahan. Tanpa terasa waktu satu jam yang dialokasikan panitia untuk mempresentasikan usulanku berlalu. Aku diminta menunggu hasilnya.

 

Hari kedua di rumah sakit ketika aku terkapar lemah akibat cambukan ayah, kami sekeluarga berkumpul. Hari itu ayah memutuskan untuk menghentikan hukuman cambuk kepada kami. Aku bertanya, “Kenapa harus dihentikan yah, aku ikhlas kok menerima hukuman ayah,” terangku.

Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Sejak hari itu, kami berlima sudah tidak melihat tongkat sihir ayah lagi. Ibu bilang, ayah sudah membakarnya. Sejak hari itu pula ayah menjadi agak pendiam dan hanya bicara seperlunya saja.

 

Pukul 20.30 aku tiba di rumah. Dentuman irama musik berdesakan keluar dari kamar Gun. Rasa penasaranku terhadap Gun masih tersimpan rapi. Selepas makan malam aku langsung menuju kamar Gun.

“Ada apa sih, kok keliatan galau banget bos?” tanyaku

Pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan oleh Gun. “Kalau aku resign gimana menurutmu?” tanya Gun sambil mengurangi volume musik di komputernya. Aku mencari posisi duduk yang nyaman untuk mencerna maksud dari pertanyaan Gun. Cukup lama kami terdiam.

“Woi, menurutmu kalau aku resign gimana?” tanya Gun.

“Kenapa emang? Aku pikir kamu sudah menikmati kerjaanmu. Lagian pekerjaan ini bukannya cita-citamu sedari dulu Gun? Sudahlah. Istiqoroh saja seminggu ini. Kalau masih mentok, bicara langsung sama ibu. Kamu masih inget pesen ayah, kan?”

“Jadikan sabar dan solat sebagai senjatamu,” jawab Gun.

 

Malam semakin pekat, aku dan Gun semakin asyik mengobrol. Tentang masa kecil, pekerjaan, hingga soal jodoh. Saking asyiknya kami mengobrol, tanpa sadar suara kami merambat hingga kamar ibu. Beberapa saat kemudian ibu menghampiri kami berdua.

“Belum tidur kalian?”

“Belum Bu. Ini Bu, Wiguna lagi curhat katanya dia mau kawin minggu depan,” celotehku. Mendengar kata kawin, ibu langsung tersengat. Malam itu kami bertiga akhirnya mengobrol ngalor-ngidul. Obrolan kami dihentikan oleh suara kentongan petugas ronda malam.

“Sudah lama yah kita gak ngobrol kaya gini,” ujar ibu.

“Iya juga yah. Terakhir kali waktu Kak Sarah lebaran di rumah ini,” sautku.

“Sudah tidur sana. Oya, jangan sampai Subuhmu telat lagi Gun”.

“Siap Bu,”

“Bu. Aku sayang ibu,” ucapku. “Aku juga deng,” lontar Gun.

Ibu hanya tersenyum menatap kami berdua. Suara kentongan terdengar satu kali pertanda kalau waktu menunjukkan pukul 01.00. Kami pun terlelap. Berharap mimpi indah menjadi penghias aktivitas tidur kami.

 

Tangerang, 14 Mei 2011.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s