Is That True, Bad News Is a Good News ?

Tiga bulan bukanlah rentang waktu yang cukup untuk menyimpulkan benar atau tidaknya pameo di atas. Perjalanan empat tahun di kursi perkuliahan pun tidak memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan diatas. Dari pengamatan dan sedikit pengalaman di lapangan, saya mencoba memberi batasan antara berita baik dan berita buruk. Harapannya agar ada secercah jawaban meski masih terasa samar-samar. Batasan tersebut berupa konteks dan besarnya efek dari berita yang akan dibuat.

 

Hingga detik ini, saya pribadi masih awam dengan dunia jurnalisme. Menurut penuturan mentor saya, jurnalis bukanlah sebuah pekerjaan atau pun jenjang karir, tapi suatu proses belajar yang panjang. Setiap hari adalah sesuatu yang baru dan jurnalis selalu dan akan selalu dituntut untuk belajar sepanjang hidupnya jika dia sudah memutuskan akan menjadi seorang jurnalis.

 

Dalam kasus saya, misalnya. Tiga bulan ke belakang isu-isu politik dan hukum menjadi makanan sehari-hari. Pos pantau saya di sekitar DPR, Kemendagri, Kemenlu, Kemenhan, dan Mabes TNI. Pos-pos yang basah dengan berita dan penuh dengan konflik kepentingan. Fakta di lapangan, sebelum memutuskan akan mengambil sebuah peristiwa, saya dibenturkan oleh sebuah pertanyaan soal, seberapa pentingkah peristiwa tersebut untuk diliput ? Jawaban yang muncul adalah seberapa besar masalah dan efek yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut.

 

Sebagai contoh ketika kasus penyanderaan awak kapal Sinar Kudus di perairan Somalia beberapa waktu lalu. Dalam konteks hak asasi manusia negara memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan warganya. Dari sisi militer sebuah strategi pembebasan tidak bisa menjadi konsumsi publik. Ironisnya, seorang jurnalis berdiri di belakang kepentingan publik dan publik sangat menginginkan informasi mengenai kabar para awak kapal. Maka jalan tengahnya adalah mendesak pemangku kepentingan untuk bertindak cepat dan efektif. Dalam hal ini bukan berita “buruk” yang dicari, tapi upaya untuk terus menerus menekan para pemangku kepentingan agar melakukan segala cara untuk membebaskan para awak.

 

Berikutnya bergeser ke kasus anggota DPR Arifinto yang kepergok melihat video mesum saat sidang paripurna. Peristiwa ini hampir mendekati ke arah bad news is a good news. Sebenarnya bukanlah hal baru saat anggota DPR melakukan aktivitas lain ketika sidang biasa atau sekelas paripurna. Namun tema seperti seks masih menjadi sesuatu yang primadona apalagi subjeknya adalah pejabat atau orang terkenal. Masih ingat kasus Ariel, Luna Maya, Cut Tari?

 

Sebenarnya masih banyak contoh lain namun yang terpenting adalah bahwa dalam isu politik dan hukum batas antara berita baik dan buruk sangatlah tipis, layaknya angka 11 dan 12.

 

Masih seputar pengalaman saya. Sekarang kita bergeser ke isu ekonomi. Sudah seminggu ini saya bergeser untuk meliput isu ekonomi. Sepintas saya menilai, tema ekonomi adalah seputar prediksi, optimisme, ekspansi, dan stabilitas neraca keuangan, baik perusahaan maupun negara. Di sini saya bisa melihat lebih dekat arah kebijakan ekonomi di negara kita. Saya pun menemukan hal yang tidak jauh berbeda, yaitu ketika saya harus memutuskan peristiwa apa yang layak untuk diketahui oleh publik. Pertanyaan paling mendasar adalah masih mengenai seberapa penting peristiwa tersebut dan seberapa besar efeknya bagi publik.

 

Ketika pemerintah mengaku sudah tidak kuat lagi untuk memberikan subsidi bagi rakyatnya, publik harus benar-benar tahu dan paham kondisi keuangan (ekonomi) negara. Jika pemerintah tidak memiliki alasan yang kuat untuk pencabutan subsidi maka kita harus mendesak agar negara harus lebih giat dan keras lagi bekerja untuk menambah digit APBN.

 

Sebagai contoh, pengusaha dan petani di daerah mengeluh kepada pemerintah karena tidak ada perkembangan dalam aspek energi dan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan. Bagaimana mau mengirim hasil bumi kalau akses jalan dan jembatan tidak ada.  Sementara di sisi lain, pemerintah berteriak APBN kita yang sekitar Rp1200 triliun habis terserap hanya untuk gaji PNS, remunerasi, subsidi BBM, listrik, kesehatan, dan pendidikan.

 

Nah, aspek berita “buruk” tampak lebih bersinar jika kita memakai kacamata ekonomi mikro (lokal) dibandingkan dengan ekonomi makro (nasional/global). Sebenarnya masih banyak contoh kasus dalam dunia ekonomi yang bisa diangkat. Tapi saya khawatir anda akan menjadi galau, seperti saya, jika mengetahuinya. Itu pun kalau masih ada ruang kesadaran dalam diri kita.

 

So, it that true bad news is a good news? Dari pengalaman singkat saya jawabannya adalah sometimes bad news is a good news. Namun pada akhirnya kita tidak akan berbicara soal baik dan buruk karena jurnalisme berbicara soal kebenaran. Aspek baik dan buruk berkelindan dalam ruang etika dan kepantasan yang multitafsir. Sementara aspek kebenaran bergerak dalam segala ruang.

 

Namun, seperti yang diutarakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kebenaran adalah sebuah konsep yang paling membingungkan dalam dunia jurnalisme. Maka dari itu Goenawan Mohamad berujar tugas seorang jurnalis hanya mengetuk pintu kebenaran dan sisanya biarkan publik yang masuk ke ruang kebenaran. Tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan publik agar mereka bisa hidup merdeka dan mampu mengatur diri sendiri1.

 

Tangerang, Sabtu 28 Mei 2011

 

Sumber:

1.  Kovach, Bill. Tom Rosenstiel. Elemen-Elemen Jurnalisme, ISAI, 2003. Jakarta

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s