Damai

Kematian adalah suatu keniscayaan. Sama seperti dua hal lainnya, yaitu jodoh dan rezeki. Allah sendiri sudah menjamin dan tertulis dengan jelas dalam kitab-Nya. Baik orang muslim, non-muslim, dan seorang atheis sekalipun ternyata percaya dengan adanya kematian. Tapi ada perbedaan perspektif di antara seorang yang beragama dengan atheis dalam memandang tema kematian, yaitu sebuah pertanyaan besar mengenai situasi, keadaan atau ada apa setelah kematian. Apakah kematian hanya sekedar berhentinya fungsi organ tubuh atau ada situasi lain dibalik itu semua ?

 

Beberapa waktu lalu seorang teman melansir laporan dari media luar negeri. Dalam laporannya tertulis bahwa seorang Fisikawan asal Inggris, Stephen Hawking, tidak mempercayai adanya surga. Penulis novel terkenal ini juga berpendapat bahwa kematian yang melanda manusia tak beda dengan rusak atau matinya seperangkat komputer. Dengan kata lain, tidak ada masa ketika manusia mati.

 

Perspektif yang ditawarkan oleh Stephen Hawking bukanlah sesuatu yang baru. Di masa dimana hal-hal yang gaib dapat hadir dalam keseharian manusia, seperti masa Nabi Ibrahim as hingga Nabi Isa as, manusia sudah mempertanyakan konsep kehidupan setelah kematian. Rasulullah saw juga diuji dengan pertanyaan yang sama oleh kaum kafir Quraisy yang mempertanyakan, apakah tulang-belulang mereka (baca:kafir Quraisy) akan disatukan kembali suatu hari nanti? Dengan jelas dan detail Alquran menjawabnya. Patut dicatat bahwa yang menjawab adalah Allah bukan Rasul. Salah satunya ada pada Al-Insyiqaq dan Al-Infitar. Selain itu masih banyak surah dan ayat-ayat yang menjelaskan mengenai kehidupan pasca kematian.

 

Dalam tulisan ini saya tidak berniat mempertentangkan pemikiran seorang yang mempercayai akhirat dengan seorang atheis karena kedua sudah berdampingan sejak zaman Nabi Ibrahim hingga saat ini. Namun yang mencatatan menarik buat saya pribadi adalah ada keterkaitan antara pandangan Stephen Hawking dengan isi khutbah Jumat pada siang tadi dan kabar dari seorang sahabat, yaitu mengenai kematian.

 

Pada Senin (16/3) kemarin, saya dengan beberapa kawan pergi mengunjungi seorang sahabat yang sedang sakit. Awalnya dia sangat membutuhkan pendonor darah dan kebetulan golongan darah saya seragam dengannya. Begitu saya tiba di rumah sakit, ternyata kebutuhan darah untuknya sudah mencukupi. Saya langsung diajak untuk melihat kondisi dia.

 

Pertama kali melihat, saya langsung merinding. Dari balik kaca saya melihat beberapa selang menyelimutinya. Menurut pengakuan kawan saya, dia sudah hampir tiga hari tak sadarkan diri akibat di bawah pengaruh obat bius. Keluarga sendiri, kata kawan saya, sudah ikhlas menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Saya agak terkejut mendengar pernyataan itu. Apakah tidak ada kemungkinan untuk sehat, pikir saya. Kata teman, penyakit yang dideritanya cukup langka dan sekali lagi dia hanya bisa berujar kalau seluruh keluarga sudah siap dengan situasi apa pun.

 

Setelah sekian lama berjuang melawan penyakit yang dideritanya, pada Kamis (19/3) pukul 14.00, dalam perjalanan menuju Blok-M saya menerima pesan singkat yang berisi bahwa kawan saya yang kemarin saya jenguk telah meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya dan memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya.

 

Kabar atau situasi mengenai bencana, kematian, kesulitan dan sebagainya seringkali membuat manusia menjadi lebih berserah dan merendah. Seperti ada suatu dorongan dalam diri untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang Maha Besar yang memberikan peringatan kepada kita. Khatib pada solat Jumat tadi mengatakan bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti terjadi. Baik seorang muslim maupun atheis mempercayai itu. Namun yang menjadi persoalan, terutama bagi kita yang seorang muslim dan sepenuhnya mempercayai akhirat, adalah dalam kondisi seperti apa kita akan menyongsong kematian, khusnul khatimah atau suul khotimah?

 

Sang khatib memberikan tiga jalan kepada jamaah agar kami semua senantiasa mengingat kematian. Khatib sendiri tidak memberikan alasan yang nyata tentang mengapa kami harus mengingat kematian. Tapi secara tersirat khatib ingin mengingatkan bahwa penting bagi kita semua untuk mempersiapkan diri (membekali) menyambut kematian yang kedatangannya hanya Allah yang tahu.

 

Nah, dalam perjalanan untuk mengisi kehidupan di dunia ini, manusia seringkali lupa tentang hakikat mengingat kematian. Manusia cenderung akan menghargai kehidupan, kesehatan, dan kebahagiaan ketika tiga hal tersebut sirna dari hadapannya. Agar kita tidak lalai itulah Sang Khatib memberikan tiga jalan untuk mengingat kematian.

 

Pertama adalah ziarah dan atau takziyah. Kabar mengenai seseorang yang meninggal akan membangkitkan alam bawah sadar kita bahwa sebenarnya kita menetap didunia yang serba fana. Ziarah dan takziyah merupakan peringatan dini kepada kita sekaligus juga bisa dijadikan indikator sudah seberapa banyak dan ikhlas ibadah kita kepada Allah.

 

Kedua zikir. Zikir terbesar adalah solat. Lafaz zikir yang terbaik adalah Laaillahailallah. Ada sepenggal riwayat yang mengatakan bekerjalah engkau layaknya engkau akan hidup sepanjang masa dan beribadahlah engkau seperti engkau akan mati. Dari sini jelas bahwa ibadah dan segala aktivitas spiritual kita kepada Allah merupakan alarm untuk mengingatkan bahwa kita pasti mati.

 

Ketiga adalah taubat. Taubat adalah aktivitas membersihkan diri dari segala dosa. Taubat adalah perisai bagi kita untuk meminimalisir dari kemungkinan Suul khotimah. Karena manusia tidak pernah tahu akan mati dalam kondisi seperti apa, maka aktivitas taubat bisa menjadi suatu permulaan untuk menghadapi suatu keniscayaan yang tidak tahu kapan akan datang. Logika sederhananya, beban dosa yang kita bawa setidaknya tidak melebihi bekal kebaikan.

 

Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (Al-Hadid, 21)

 

Wallahualam

Tangerang, Jumat 20 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s