Surat dari Abasa

Sebuah cerita dikisahkan bahwa suatu hari Jalaluddin Rumi ditantang oleh seorang muslim yang bernama al-Qunawi di depan khalayak. “Kamu menyatakan bersatu dengan 72 aliran agama,” kata al-Qunawi, “tetapi orang-orang Yahudi tidak sepakat dengan orang-orang Kristen dan orang-orang Kristen tidak sepakat dengan orang-orang Islam. Jika mereka tidak saling sepakat, bagaimana kamu sepakat dengan mereka semua?” Lalu dengan anggun Rumi menjawab, “Ya aku setuju, aku juga sepakat denganmu.”

Rumi adalah seorang Sufistik besar. Semua intelektual, budayawan, ulama, para pengikutnya bahkan juga musuhnya mengakui hal itu. Rumi lahir pada 1207 M dan aku lahir pada 1984 M. Sebuah jarak yang sangat jauh terbentang, tapi mengapa aku tetap menemukan relevansi dari karya-karya yang diciptakannya dengan realitas yang terjadi pada detik ini ? Sungguh aku pun kesulitan ketika harus menterjemahkan maksud hati dari tulisan-tulisan sang guru ini.

 

Aku yakin kita semua pernah mendengar kisah masyur seorang sahabat Rasulullah saw yang bernama Abdullah bin Ummi Maktum. Dengan jelas peristiwa ini terukir dalam al-Quran surah Abasa. Setelah peristiwa tersebut, mengutip dari Djamaluddin Ahmad al-Buny, setiap kali Rasulullah bertemu dengan Abi Ummi Maktum beliau selalu mengucapkan salam, “Ahlan Biman Atabany Fihi Rabby” (selamat datang wahai saudara yang menyebabkan aku ditegur oleh Tuhanku).

Melihat tempat turunnya surah Abasa, yaitu di Mekah, kita bisa tahu bahwa dari aspek sosiologis kondisi umat Muslim pada saat itu sangat minoritas. Lebih jauh kita tahu bahwa masa dakwah di Mekkah (pra hijrah) adalah dakwah yang dipenuhi oleh lobi-lobi politik tanpa kekerasan (perlawanan). Rasul sendiri giat melakukan lobi politik dengan para pemuka Quraisy. Jika lingkar kekuasaan terdekat bisa didekati maka minimal para penentang Islam, seperti Abu Jahal diharapkan tidak melakukan aksi anarkis kepada umat Islam yang banyak dianut oleh kalangan kelas bawah.

 

Ada sebuah pertanyaan yang sudah lama terpendam. Bagaimana jika yang datang bukanlah seorang yang buta? Apakah orang tersebut akan menunda kedatangannya kepada Rasul? karena tahu bahwa pada saat itu Rasulullah sedang ada pertemuan dengan para pembesar Quraisy. Tapi aku pikir bukan itu. Aku tidak mengharapkan pertanyaan itu terlontar kembali.

Hikmah dan pesan terbesar pada hakikatnya bukanlah kepada Rasulullah saw tapi justru kepada umatnya, khususnya di era sekarang ini. Para kader (red: mayoritas umat muslim) adalah representasi dari sosok Abdullah bin Ummi Maktum. Buta, pincang jalannya, dan lusuh pakaiannya. Para kader jauh dari hingar-bingar perdebatan politik, hitung-hitungan electoral treashold, ramainya sekretariat gabungan dan lingkar kekuasaan lainnya. Namun meski demikian hati mereka senantiasa melekat kepada para masul. Atribut masih setia terpasang meski kadang mereka agak nakal namun itu merupakan sebuah bentuk rasa ingin diperhatikan.

Lalu sesungguhnya apa yang kita cari? Apakah semata-mata hanya untuk 2014? Jika memang demikian bukanlah langkah ini terlalu pragmatis. Hati kecil berteriak bahwa ini bukanlah lompatan besar tapi suatu keputusasaan. Nafas para kader masih tersengal-sengal selepas Pemilu dan itu pun masih harus terus berlanjut untuk Pilkada. Bisakah kita sejenak duduk bersama untuk berbicara dari hati ke hati. Aku mendapatkan bahwa keikhlasan (al Ikhlas) lahir dari sebuah pemahaman (al Fahmu) yang mendalam. Aku tidak ingin melihat saudara-saudaraku bergerak tanpa tahu mengapa dan bagaimana?

 

Rumi pernah menuturkan sebagian orang melihat awal dari segala sesuatu dan sebagian lainnya melihat ujungnya. Nemun mereka yang melihat tujuan adalah besar dan agung karena meskipun mata mereka terpancang mereka masih memandang dunia di atas sana. Aku melihat jangan sampai duniawi (baca:kekuasaan) membutakan sehingga kita tidak bisa melihat awal dan akhir, apalagi melelehkan tujuan kita.

Belum lama ini muncul fitnah yang ditujukan kepada beberapa pemimpin kita. Ironisnya hal itu lakukan oleh pendiri jamaah ini. Menurutnya partai ini sudah melenceng, partai hanya memikirkan kemenangan pemilu saja. Aku sendiri hingga saat ini masih belum menemukan jawaban mengapa masih ada orang-orang yang mencoba memisahkan antara pemikiran barat dan timur.

 

Ini bukan soal dari mana engkau datang tapi soal nilai apa yang kau tawarkan. Tujuan partai adalah menabur benih-benih visi, idealnya adalah seperti itu. Tapi partai dalam dunia praktis adalah untuk mencapai suara dukungan sebanyak-banyaknya. Janganlah dinilai bahwa mencari suara dukungan yang banyak sebagai bentuk pragmatisme. Tapi memang salah satu tujuan partai adalah untuk memenangkan pemilu.

 

Tujuan adalah akar materi sisanya hanya memusingkan

Jalaluddin Rumi

 

Wallahualam

Tangerang, 21 Juni 2010

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s