Sekotak Buku Untuk Jamilah

Seumur-umur belum pernah Nyak Zaenab sama Babe Ali kompak berduaan pusing tujuh keliling mikirin kelakuan Jamil yang berubah drastis akhir-akhir ini. Terakhir kali Nyak dan Babe pusing waktu Jamil meraung-raung kaya sirine mobil jenazah minta pengen kuliah. Jeritan Jamil sirna saat nyak dan babe memberi restu beserta sehektar tanah yang dijual untuk modal kuliah Jamil. Namun dengan syarat Jamil harus bisa kuliah di Kampus Negeri Depok. Singkat cerita pusing nyak dan babe sirna ketika jamil berhasil masuk jurusan arkeologi di Kampus Negeri Depok. Jurusan yang sangat sesuai dengan tampang Jamil yang kaya fosil berusia jutaan tahun. Hitam keling, kurus kering, dengan rambut keriting.

 

Sebenarnya tampang Jamil gak jelek-jelek amat sih. Meski di mata temen-temennya Jamil tak setampan Romeo, tapi di mata Nyak dan Babe, Jamil setampan Arafiq penyanyi dangdut tersohor di zaman 80an. Allah memang Maha Adil, wajah Jamil memang meleset dari arti namanya, Jamil berarti tampan, tapi Jamil sangat terkenal di Kampus Negeri Depok. Disinilah kunci kesuksesan Jamil. Sadar bahwa dia kuliah di jurusan yang tidak masuk top chart hits perusahaan-perusahaan terkenal, Jamil memperkaya dirinya dengan mengasah soft skillnya. Jamil sangat aktif di berbagai organisasi kampus. Karena sering wara-wiri di organisasi dan kepanitiaan itulah Jamil jadi dikenal banyak orang. Di tahun ketiga kuliahnya di Kampus Negeri Depok, Jamil sudah masuk nominasi sebagai mahasiswa paling tersohor di Kampus Negeri Depok.

 

Jamil masih inget pesen Nyak sesaat sebelum Jamil pergi di hari pertama kuliahnya.

“Jamil, pegang omongan Nyak yah. Meski dari SD sampe SMA elo sering diejek sama temen-temen elo karena tampang lo pas-pasan, jangan pernah elo masukin ejekan itu ke dalem hati yah. Allah cuma liat ketaqwaan hamba-Nya bukan tampang. Jadi perindah akhlak elo, Insya Allah berkah semua kerjaan elo,” ujar Nyak Zaenab.

 

Jamil hanya menjawab dengan senyum terindah yang belum pernah diberikan kepada siapa pun. Senyum yang hanya untuk Nyak dan Babe aja. Senyum seindah rembulan.

 

Akhirnya padam juga kesabaran Nyak. Gak tahan ngeliat tingkah polah Jamil yang berubah, Nyak berinisiatif memulai obrolan.

“Ada ape sih lo Mil? Gak biasanya kaya gini. Dari kemaren Nyak liatin kerjaan elo bengong mulu. Elo sakit Mil? Tanya Nyak.

“Jamil sehat kok Nyak,” jawab Jamil.

“Bener elo sehat?”

“Iya Jamil sehat wal afiat,” jawab Jamil sekenanya. Tahu kalau jawaban Jamil dicicil kaya orang kredit panci akhirnya Jamil beringsut masuk kamar.

 

Selang seminggu tingkah Jamil makin aneh. Jamil jadi suka nyanyi di kamar mandi. Sering ngaca. Koleksi parfumnya semakin banyak. Gak cuma beraroma malaikat subuh yang sering dipake solat jumat tapi sekarang sudah berjejer aroma sporty, maskulin, relax, dan profesional. Tiap hari punya tema yang berbeda. Senin misalnya, karena kuliah Jamil padet maka parfume aroma profesional dia semprot. Aroma maskulin disemprot pada Selasa karena agenda Jamil penuh dengan rapat kepanitiaan. Aroma sporty dipakai Rabu karena Jamil akan maen futsal. Sementara Kamis dan Jumat, Jamil lebih memilih aroma relax karena mendekati weekend.

 

Sebusuk-busuknya bangkai ditutupi pada akhirnya tercium juga, begitulah peribahasa berucap. Sekuat tenaga Jamil berusaha menutupi perasaannya akhirnya bobol juga. Cerita bermula dari kunjungan Rusman ke rumah Jamil. Jamil yang sedang asyik-asyiknya ngupil dikejutkan oleh teriakan Rusman.

 

“Assalamualaikum… Mil, gua denger elo lagi ngegebet si Jamilah yah? Wah selamat bro, gua ngedukung dah kalo elo jadian sama dia,” teriak Rusman. Belum sempat menjawab ucapan salam, Rusman kembali berteriak.

“Jadi kapan elo mau nembak dia? Saran gua sih jangan lama-lama, soalnya gua denger si Rizal ngebet juga tuh sama dia,” ucap Rusman. Suara Rusman yang pecah dan cempreng kaya air masuk minyak penggorengan yang panas, tanpa bisa dicegah menembus dinding kamar Nyak dan Babe Jamil.

 

“Kenapa sih lo?” tanya Rusman yang keheranan melihat tampang Jamil yang seketika pucat pasi.

“Ada Babe sama Nyak elo yah?”

“Telat lo,” jawab Jamil.

“Udahlah Mil. Gak baek kalau suka sama cewe diumpetin. Yang ada ntar malah muka elo jerawatan tuh,” ujar Rusman.

“Elo gak kasian sama Nyak Babe? Nyak elo tuh pusing liat anaknya berubah sama suka bengong terus,” celetuk Rusman.

 

Jamil bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa Rusman yang jarang ke rumah Jamil bisa tahu kalau Nyaknya lagi pusing. Secepat kilat Jamil menarik kesimpulan kalau kedatangan Rusman siang ini adalah atas perintah dan skenario Nyak. Kedatangan Rusman tidak saja untuk menghibur Jamil yang sedang membuncah perasaannya tapi juga untuk menjawab rasa ingin tahu Nyak kalau ternyata Jamil lagi jatuh cinta.

 

“Mil minggu depan si Jamilah gebetan elo bakal ulang tahun. Nah gua pikir ini waktu yang tepat buat elo kasih perhatian ke dia,” ujar Rusman. Seperti jatuh dari tangga terus tertimpa durian busuk Jamil langsung tersadar dari lamunannya..

 

“Serius lo?” tanya jamil yang mencoba menjaga wibawanya.

“Yaelah kapan sih gua serius sama lo. tapi gua gak pernah bohong kan selama ini sama elo?” cetus Rusman. Jamil hanya menatap lurus wajah Rusman.

“Usul gua sih mending elo kasih sesuatu buat dia. Kayanya ngasih buku buat hadiah ulang tahun Jamilah bagus tuh,” ujar Rusman tanpa pikir panjang.

 

Keesokan harinya Jamil sudah bangun sebelum ayam jantan berkokok. Semalaman Jamil merenungkan petuah dari Rusman dan petuah itu benar adanya. Jamil memutuskan untuk menghadiahi Jamilah seperangkat buku. Tanpa memikirkan buku apa yang cocok, Jamil lantas bergegas mengayuh sepeda kesayangannya. Kebetulan hari ini ada pemeran buku-buku Islam.

 

Setelah lelah berkeliling puluhan stand buku, Jamil terhenti di salah satu sudut stand. Nah kayanya ini buku yang pas buat Jamilah.

“Assalamualaikum.., cari buku apa Mas?” sapa seorang penjaga stand.

“Mau liat-liat dulu Mbak,” jawab jamil sekenanya.

“Coba ini deh mas. Ini buku best seller banget, tadi banyak banget ibu-ibu pengajian pada beli,” tawar sang penjaga stand.

“Yang bener aja mbak, masa saya beli buku Tata Cara Mengurus Jenazah sih,“ protes Jamil.

“Oh, maaf mas,”

“Ada buku ini gak? Dengan malu-malu dan pipi merah merona Jamil menyerahkan secarik kertas.

Dengan senyuman tipis dan agak malu, penjaga stand menyerahkan buku yang diminta oleh Jamil.

 

Dengan hati yang lebih riang dan lebih gembira, Jamil mengayuh sepedanya. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Jamil menebar senyuman ke semua orang yang dilewati. Sepanjang hari itu segala hal yang ditemui Jamil tampak serba indah. Setibanya di rumah, perasaan gembira yang dirasakan Jamil menular ke Nyak dan Babe. Setiap tutur kata yang keluar dari lidah Jamil begitu santun dan merdu. Hati Nyak dan Babe senang bukan kepalang.

 

Keesokan harinya, Jamil menjalani aktivitas kuliah seperti biasanya. Matahari sore yang hangat menyiram seluruh kulit Jamil yang sedang bersandar di bawah pohon. Bagai disiram kuah baso yang panas, Jamil terkejut ketika mendengar ada suara perempuan memanggilnya. Dan ternyata perempuan itu adalah Jamilah dengan didampingi Sarah teman dekatnya.

 

“Bang Jamil ke mana aja sih, kok dihubungi gak jawab-jawab? tanya Jamilah. Sadar karena sedang berhadapan dengan dua orang perempuan, Jamil mencoba mengalihkan perhatiannya ke rerumputan yang tidak sedang bergoyang.

“Maaf Hp-nya ke silent,” dengan suara ngebass, bahu tegak, dan dada dibusungkan Jamil menjawab.

“Ada apa yah?” masih dengan suara yang ngebass.

“Aku cuma mau kasih tahu, kalau tenda yang di pesen untuk Debat Calon Presiden Mahasiswa nanti ternyata harganya berubah naik, gimana dong?”

“Oh soal itu. Biar nanti saya yang urus. Ada lagi gak yang mau disampein?” tanya Jamil.

“Udah kok itu aja,” jawab Jamilah.

 

Segera setelah menyampaikan maksudnya mereka berdua bergegas meninggalkan Jamil seorang diri di bawah pohon.

“Kenapa sih Bang Jamil, kok kaya komandan upacara aja ngomongnya sama kita?” tanya Sarah keheranan.

“Aku juga gak tahu. Emang gitu kali gayanya kalau ngobrol,” jawab Jamilah.

“Masa sih? Perasaan dulu biasa-biasa aja deh.

“Kesambet jin pohon kali,” ucap Jamilah sambil terkekeh-kekeh.

 

Sesuai perhitungan Jamil jika hadiah buku untuk Jamilah dikirim hari ini, berarti besok pasti sudah sampai. Jamil membungkusnya dengan kardus dan ditutupi oleh kertas karton cokelat. Jamil sengaja tidak mencantumkan alamat pengirim. Ini dilakukan agar menghasilkan efek misterius. Sesuatu yang disukai oleh perempuan menurut artikel yang ada di majalah sobek yang ditemui Jamil pas nunggu kereta.

 

Lantunan lagu yang tersiar di radio terinterupsi oleh berita yang mengabarkan telah terjadi ledakan bom. Televisi pun menayangkan berita yang sama seputar ancaman teror bom yang ditujukan ke orang-orang terkenal. Dengan ditemani tatapan bulan purnama Jamil melepas lelah didipan depan rumahnya.

 

Rapat terakhir untuk membahas acara debat calon presiden mahasiswa dipimpin oleh Jamil selaku wakil ketua panitia. Masing-masing koordinator memberikan laporannya. Ketika tiba laporan dari departemen acara, Jamil terkejut karena bukan Jamilah yang melaporkan. Seketika itu juga Jamil langsung memotong.

 

“Lho kok Jamilah gak ada, kemana dia?”

“Ciiee…ciiee…kok cuma jamilah sih yang ditanyain?”celetuk Rusman. Kaget dengan celetukan Rusman, seluruh panitia langsung menatap tajam Rusman.

“Emangnya Bang Jamil gak tahu kalau tadi pagi tuh ada polisi yang dateng ke rumah Jamilah,” terang Sarah yang laporannya dipotong Jamil.

“Ada apa emang?”

“Jadi tadi tuh ada kiriman paket misterius gitu ke rumah Jamilah. Karena takut di kira bom akhirnya Jamilah lapor ke polisi.”

“Terus benar paketnya itu bom,” tanya Jamil penasaran.

“Kalau kata polisi sih bukan cuma buku aja. Tapi itu ketahuan setelah diledakin paketnya sama tim gegana. Katanya biar aman jadi diledakin aja tuh paket.”

“Emang bukunya apa Sarah? tanya Rusman

“Hmm…kalau kata Jamilah sih Kupinang Engkau Dengan Hamdallah.”

 

Bagai kesetrum listrik, tubuh Jamil menegang. Matanya menatap Rusman yang tersenyum terkekeh-kekeh di sudut ruangan.

 

 

Tangerang, 5 April 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s