Prinsip Agar Damai Dalam Bekerja

Suatu hari di sore yang mendung tampak dua orang lelaki sedang berbicang. Tersebut dua lelaki itu adalah Andi dan Anda. Andi dan Anda adalah dua orang sahabat karib. Pertemanan mereka diawali sejak duduk di bangku SMP hingga perguruan tinggi. Selepas kuliah mereka berpisah satu sama lain. Andi mendapatkan pekerjaan diluar kota, sedang Anda bekerja di sebuah perusahaan nasional di pusat ibu kota.

 

Meski mereka berdua berbeda pekerjaan dan berjarak sangat jauh, Andi dan Anda bersepakat untuk saling mengunjungi atau berkumpul tiap tiga bulan sekali. Mereka enggan memanfaatkan teknologi untuk sekedar saling bertukar kabar. Bagi Andi dan Anda tidak afdal jika silahturahmi tidak saling tatap muka atau berjabat tangan dan berpelukan.

 

Di tahun pertama, mereka berdua cukup konsisten untuk berkumpul. Kadang Andi mengunjungi Anda yang menetap di ibukota. Adakalnya pula, Anda yang datang ke tempat Andi. Namun di tahun kedua pertemuan mereka menjadi semakin jarang. Mereka hanya sempat berkomunikasi lewat email atau chatting di internet karena kesibukan telah melumpuhkan mereka untuk saling mengunjungi satu sama lain.

Selang empat tahun kemudian Andi dan Anda baru bisa menyempatkan diri untuk bertemu bertatap muka di satu tempat yang telah mereka sepakati. Mereka sudah empat tahun tidak ketemu dan ngobrol banyak soal segala hal. Dan akhirnya mereka bertemu di warung makan dekat kampus di mana mereka kuliah dulu.

 

Obrolan mengalir deras dari mulut Andi dan Anda secara bergantian. Mulai dari mengingat masa-masa sekolah, kuliah, hingga perjuangan mencari pekerjaan. Satu waktu Anda mengeluhkan tentang pekerjaannya. Selama empat tahun ini, lebih dari empat perusahaan telah dia lakoni. Beragam posisi dan kedudukan telah Anda tempati dan beraneka gaji sudah dia rasakan, dari mulai gaji dengan mata uang asing hingga mata uang negara sendiri. Berbeda dengan Andi. Sejak tahun pertama bergabung dengan perusahaan yang bergerak di bidang otomotif, tidak selangkah pun Andi beranjak dari tempat dia bekerja. Andi sepertinya nyaman dengan pekerjaannya dan sepertinya itu akan menjadi pekerjaan pertama sekaligus terakhir baginya.

 

”Entahlah Di,saya sudah lelah gonta-ganti kerjaan, kayanya gak ada yang cocok”, keluh Anda.

”Memang apa yang kau cari Da, sampe lima kali pindah kerjaan?” tanya Andi.

”Saya ngerasa gak cocok sama pendapatan, terus di tiap perusahaan itu lama sekali kenaikan jenjang karirnya”, jawab Anda.

”Nah, kamu sendiri kenapa setia banget sama kerjaan yang sekarang. Dari lulus kuliah sampe sekarang gak mau coba profesi lain?” tanya Anda.

”Saya sih coba konsisten. Lagian juga baru empat tahun, sebentar kali untuk itungan kerjaan. Sama seperti waktu kuliah dulu. Tapi bukan cuma itu aja sih sebenarnya, masih ada hal lain”, tegas Andi.

”Apaan tuh?” tanya Anda.

”Kalo ngeliat dari raut muka kamu Da, kayanya kamu tuh gelisah banget sama kerjaan yang sekarang. Kaya tertekan keliatannya. Begini Da, saya menemukan ini sekitar dua bulan yang lalu. Ada tiga hal sebenarnya yang perlu kita perhatikan ketika kita bekerja. Ya, saat ini sih saya baru menemukan tiga, mungkin bisa nambah kelak. Saya nyebut ini tiga prinsip agar kita damai dalam bekerja.”

”Tiga prinsip?” tanya Anda dengan terheran-heran.

 

”Prinsip pertama jika kamu ingin damai dalam pekerjaan, kamu harus sadar bahwa kita tidak akan pernah puas dengan penghasilan yang kita peroleh sekarang. Waktu gaji kita kecil, kita bermimpi ingin naik. Nah, ketika bos naikin gaji kita, kita masih juga ngerasa kurang sama gaji tersebut padahal udah nambah dari yang dulu. Manusia itu gak pernah puas. Kadang kita cenderung lebih sibuk memikirkan rezeki orang lain dibanding dengan rezeki kita sendiri. Masih inget gak sama film The Matrix, waktu Oracle nanya sama Neo. Apa yang dicari oleh pria yang punya kekuasaan? Oracle menjawab, pria yang punya kekuasaan hanya mencari kekuasaan yang lebih besar lagi untuk mempertahankan kekuasaan yang sudah ada.

 

”Prinsip kedua Da, fakta yang kadang kita suka lupa, yaitu bahwa atasan pasti lebih kaya dari kita, apalagi owner alias pemilik perusahaan. Hikmahnya apa, simple aja, kita jangan pernah dengki sama atasan. Wajar kalo suatu ketika kita digenjet, orang dia atasan kita. Kita digaji untuk dimarahin juga. Dan parahnya nih Da, saat kita udah jadi atasan kita suka lupa atau pura-pura lupa bagaimana memperlakukan bawahan dengan baik, padahal dulunya kita di bawah. Inget Da, di atas langit masih ada langit. Maksud saya, kalo kamu mau melangkahi gaji atasan, ya kamu lewatin dia dulu, berprestasi lebih baik dari dia atau keluar dari perusahaan dan cari posisi yang lebih baik dari atasan kamu yang dulu. Ini pun sebenarnya sama saja, karena toh kamu bakal bertemu sama atasan juga. Solusi lain, mungkin kamu bisa jadi bisnisman atau wirausahawan.

”Prinsip ketiga, menurut saya penting bahwa kamu harus tahu dan sadar kalo gaji yang kamu dapat itu menunjukkan nilai kamu yang sebenarnya di mata perusahaan. Besar gaji secara tidak langsung menunjukkan diri kamu yang sebenarnya. Jika kamu gak terima dengan gaji tersebut, ya tidak ada cara lain selain meningkatkan kapasitas diri kamu maka dengan otomatis gaji pun akan naik. Kalau kamu sadar, maka tidak perlulah kita saling sikut-sikutan dengan rekan kerja, menjilat atasan dsb. Nah, kalo kamu yakin dengan kapasitas kamu yang bagus tapi tidak dihargai dengan baik, maka pindah pekerjaan saja. Buktikan bahwa perusahaan tersebut telah salah menilai kamu. Apalagi jika kamu kerja untuk perusahaan bagus, kemampuan sama penghargaan biasanya selalu berbanding lurus. Tapi kalo perusahaan baru memberi gaji yang sama itu berarti kemampuan kamu sama saja.

 

”Selama empat tahun bekerja, baru tiga hukum itu yang saya dapet Da. Bisa saja suatu hari nambah atau berkurang. Jadi menurut saya, pikir baik-baik sebelum memutuskan pindah kerjaan. Mungkin terdengar pragmatis. Sebagai menu penutup syukuri terus apa yang ada di depan mata dan di tangan kita. Orang yang kaya itu, orang yang pandai bersyukur karena dia menyadari kekayaan dirinya tidak berasal dari satu pihak aja. Lagian zaman sekarang nih gak mudah cari kerjaan, ibarat masukin sapi ke lubang jarum. Lebay ya….hee..hee….” jelas Andi.

”Udahlah, serius amat sih kita. Santailah…ini kan weekend, jarang-jarang kita kumpul kaya gini….

Eh….ngomong-ngomong gimana kabar anak-anak yang lain?” tanya Andi.

 

Entah apa yang ada dibenak Anda saat ini. Keinginan untuk pindah perusahaan untuk yang keenam kalinya sepertinya harus dipikirkan kembali. Hujan turun dengan deras, menyapu segala asa diatas aspal kehidupan. Menyegarkan tunas-tunas hijau yang siap menyebarkan benih-benih semangat baru.

 

Bawalah serta Allah dimana pun kita bekerja. Insya Allah semuanya akan terasa lapang bahkan saat kita sedang tidak bekerja sekali pun.

 

Wallahuallam….

 

Tangerang, 4 April 2011

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s