Partai Ketengah Sedikit

Pagi itu pertemuan rutin kami agak terlambat dari biasanya. Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sang ustadz sedang bercakap-cakap dengan seorang bapak yang sudah cukup tua. Dari kejauhan aku dapat melihat bahwa bapak itu baru saja selesai lari pagi disekitar kompleks. Ini ditunjukkan dengan sepatu kets yang masih tampak melekat dikakinya dan kaos merah pucat yang terlihat sedikit basah.

 

Pertemuan pun dimulai tepat ketika matahari bergerak setinggi tombak. Tanpa basa-basi pembicaraan langsung masuk ke tema yang sedang hangat diwacanakan. “Partai kita adalah partai untuk semua dan saya harus menjelaskan kepada bapak tadi soal partai kita yang siap membuka kesempatan bagi saudara-saudara kita yang berbeda dari segi akidah,” terang sang ustadz. “Kalau begitu apa dong bedanya PKS dengan partai lain?” tanya sang ustadz mengulangi pertanyaan bapak tadi.

 

Aku yang pertama kali bersuara. Aku bilang mengapa kita harus bicara soal keterbukaan terhadap calon pengurus yang beda akidah? Bagaimana soal mimpi kita yang ingin meraih 20% suara saat Pemilu? Apakah ini hasil evaluasinya? Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang ingin aku keluarkan tapi ada baiknya aku mendengarkan pandangan yang lain. Ternyata sebagian besar bernada sama, yaitu mempertanyakan. Namun disisi lain hati ini terus bergaung. Apakah wacana ini sebuah inovasi atau suatu keputusasaan?

 

Tipologi Partai

 

Ketika Bung Karno masih berkibar, negeri kita pernah kaya akan berbagai ideologi namun tetap santun. Maka tidaklah heran ketika pada Pemilu 1955 sejarah mencatat bangsa kita dikenal sebagai bangsa paling demokratis karena selain melibatkan puluhan partai politik, Pemilu 1955 tidak melahirkan konflik horizontal yang sempat menjadi kekhawatiran elit pada saat itu. Bila melihat banyaknya partai yang ikut pemilu kita patut berbangga karena Amerika saja yang sering disebut mbahnya demokratis hanya punya dua partai saja.

 

Pada era Bung Karno, setidaknya ada tiga parpol yang cukup terkenal di mata kakek nenek kita. Ketiga parpol tersebut mewakili tiga ideologi yang terlihat jelas perbedaannya. PNI dengan nasionalismenya, PKI dengan Marxis atau sering disebut ekstrem kiri, dan Masyumi yang mewakili pandangan Islam atau ekstrem kanan. Masyarakat dengan mudah dapat membedakan ketiga tipologi parpol tersebut. Visi Masyumi jelas yaitu menghendaki negara berdasarkan Islam. Bagi PNI Pancasila adalah harga mati yang tidak bisa ditawar sedang PKI berlindung dibalik Pancasila tapi tetap konsisten dengan Sosialisme. Itulah musim demokrasi terindah di negeri ini. Berbeda tapi tetap santun.

 

Bung Karno dibungkam, terbitlah Orde Baru dibawah seorang panglima yang bernama Soeharto. Soeharto sesungguhnya sangatlah cerdik, untuk membangun sebuah negara yang maju yang diperlukan adalah banyak bekerja sedikit bicara. Keamanan dan stabilitas negara menjadi modal utama. Agar masyarakat dan para elit politik tidak banyak bicara maka pilihan masyarakat dan keterlibatannya dalam politik praktis harus dibatasi. Orde Baru tetap memfasilitasi tipologi ideologi besar, yaitu Islam, Nasionalis, dan Sosialis tapi dengan diwakili oleh tiga parpol saja maka lahirlah PPP (Islam), PDI (Sosialis), dan Golkar (Nasionalis). Pembedaan tiga tipologi ini pada akhirnya meresap ke sumsum generasi muda,terutama mereka yang bergerak di politik kampus.

 

Selama tiga dekade berkuasa, Orba berhasil membentuk suatu masyarakat yang memiliki pola pikir pragmatis. Masyarakat digiring untuk bergerak ke suatu daerah atau zona aman, yaitu tengah. Jika dia seorang muslim, maka muslim yang tidak fanatik. Jika dia seorang nasionalis maka nasionalis yang agamais. Dan jika dia seorang sosialis maka sosialis yang tidak militan. Gen ini menurun kepada generasi kelahiran 1980 dan 1990 yang notabene merupakan pemilih terbesar saat ini.

 

Bagaimana dengan sekarang? Mayoritas masyarakat Indonesia saat ini sudah tidak mempedulikan tipologi tiga ideologi besar seperti yang terjadi pada Pemilu 1955. Pemilih di Indonesia relatif lebih pragmatis dengan sedikit daerah saja yang masih memilih partai karena alasan ideologis, seperti Bali dengan PDI-P, Jatim dengan PKB dan Sumbar dengan PAN. Di luar basis massa tersebut semuanya menjadi bias. Sementara bagi masyarakat perkotaan cenderung lebih pragmatis dan apatis. Hanya kalangan intelektual, akademisi, pakar, media massa, dan elit politik saja yang selalu ribut-ribut soal ideologi.

Saya sependapat dengan Salahuddin Wahid (Kompas 26/6/10) bahwa Parpol di Indonesia dewasa ini sedang bermetamorfosis. Gawatnya masyarakat kita tidak bisa membedakan mana yang kepompong, ulat, atau kupu-kupu. Para elit Parpol boleh saja mengaku Sosialis, Islamis atau Nasional tapi jika kita melihat langkah kebijakan yang dikeluarkan oleh para elit sesungguhnya sangat bias alias abu-abu.

 

Pemerintahan DKI lebih kapitalis dibanding Pemerintahan Solo. Di Jakarta misalnya, pedagang kaki lima selalu pontang-panting dikejar-kejar satpol PP berbeda dengan di Solo yang walikotanya memfasilitasi PKL. Terkait Perda yang berbau syariat Islam, justru Golkarlah sebagai pengambil prakarsa. Ketika Mbak Mega menjadi presiden, dengan santai dia melepas beberapa BUMN kepada pihak asing padahal sang Ayah dahulu sangat anti modal asing apalagi sampai hati menjual aset bangsa. Jadi jelaslah sudah kita bisa tahu apakah sesuatu itu ulat, kepompong atau kupu-kupu adalah dari fungsi yang dilakoni, tapi sekali lagi tidak mudah untuk mengambil simpulan tersebut.

 

Semua pada akhirnya kembali kepada diri kita selaku wong cilik. Saya melihat bahwa berubahnya pergeseran pandangan politik dari parpol adalah karena berubahnya pula wajah masyarakat. Secara sederhana wajah parpol adalah wajah masyarakat juga. Kita lihat, Demokrat selaku pemenang Pemilu 2009 tentu masih ingin menjadi nomor satu pada 2014, maka keluarlah slogan partai nasionalis-agamais. PDI-P tidak mau kalah dengan mengeluarkan nada yang sama dengan Demokrat. Golkar relatif konsisten berada di poros tengah. Justru yang menarik adalah partai Islam, khususnya PKS. Dalam hasil munas PKS memutuskan membuka diri bagi pengurus non-muslim dan konon akan ada perubahan dalam AD/ART untuk merealisasikan kesungguhan tersebut.

 

Dari sini parpol melihat bahwa masyarakat saat ini tidak terlalu mementingkan faktor ideologi. Parpol pun merasakan bahwa suara terbanyak adalah berasal dari masyarakat kelas menengah yang relatif pragmatis dan tidak mau ambil pusing dengan analisis ini-itu. Sehingga lahirlah sebuah istilah baru, yaitu “Partai Ketengah Sedikit” (PKS). Mereka yang dahulu berada di sisi kanan bergeser sedikit agak ke tengah, begitu pun dengan yang di kiri.

 

Apakah benar demikian adanya? Sebetulnya ada faktor lain yang menjadi ketakutan para elit, yaitu mengenai wacana kenaikan ambang batas suara Pemilu yang semula 2,5% menjadi 5 %. Dengan adanya ambang batas maka semuanya bermuara pada jumlah parpol yang relatif sedikit. Jika ini benar adanya maka parpol yang menyatakan identitasnya sebagai parpol Islam patut merasa khawatir. Jika ini terjadi maka hanya Demokrat, Golkar, PDI-P, dan PKS saja yang akan eksis.

 

Pemilu 2009 sudah menunjukan dengan terang benerang bahwa telah terjadi penurunan peroleh suara dari Parpol yang berbasis Islam. Hanya PKS-lah yang relatif konsisten. Melihat tren ini, tentunya PKS tidak tinggal diam karena bisa jadi pada 2014 nanti parpol Islam sudah tidak ada yang memilih sehingga perlu adanya transformasi/metamorfosis. Terlepas dari itu semua, kita patut mengacungi jempol terobosan-terobosan yang dilakukan oleh para elit politik karena itu artinya mereka mampu beradaptasi. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa masih bertahannya kelangsungan hidup manusia adalah karena manusia mampu beradaptasi.

 

Wallahualam

Tangerang, Sabtu 26 Juni 2010

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s