Wajah Pengguna Transportasi Jakarta

Kota adalah wilayah, tempat, ruang dimana ada pergerakan di dalamnya. Kota senantiasa berubah. Perubahan kota bisa menuju ke arah yang lebih baik tapi tidak menutup kemungkinan juga menjadi lebih buruk. Ada banyak pembedaan kota. Jika dilihat dari fungsinya, kota memiliki beragam fungsi fundamental. Kota sebagai tempat berbisnis, tempat tinggal, pusat pemerintahan, hiburan, pendidikan, dan budaya. Hubungan diantara fungsi fundamental tersebut senantiasa saling tarik menarik.

 

Selain secara fungsional, kota pun memiliki pembedaan makna simbolik. Ada kota hujan, kota kembang, kota industri dan sebagainya. Sementara dalam makna geografis pembedaan kota sering kali dibelah menjadi wilayah utara, selatan, barat, dan timur. Dalam perspektif atau pembedaan tersebut, senantiasa ada relasi kekuasaan yang mengikuti perkembangan kota. Di sini ada pihak yang merasa memiliki wewenang dan kuasa yang berhak untuk mengatur pembagiaan kota berdasarkan kepada fungsi, makna, dan geografisnya.

 

Sama seperti kota-kota besar lainnya, Jakarta setidaknya memiliki tiga makna pembedaan tersebut (tidak semua kota menyandang pembedaan yang luas). Kalau kita melihat fungsinya, Jakarta adalah ibu kota negara. Jantungnya bangsa dan negara Indonesia. Sementara dari sisi simbolik, Jakarta sudah kadung (terlanjur) terkenal sebagai kota banjir dan macet. Hanya pada hari raya, hari libur, dan pagi-pagi buta saja Jakarta akan bebas dari macet. Sementara untuk banjir, tidak perlu menunggu hujan turun untuk melihat Jakarta banjir, pipa PDAM bocor saja sudah cukup membuat beberapa ruas jalan tergenang air.

 

Dalam konteks ekonomi Jakarta adalah pusat dari segala aktivitas bisnis. Mulai dari sektor moneter (Bank Indonesia) hingga sektor rill (diwakili Kang Toni selaku penjaga warung kopi). Dari pengusaha multinasional di kawasan mega kuningan sampai Encih dan Koko penjual handphone di ITC Roxy Mas. Semua saling tumpang tindih di Jakarta. Begitu pun dengan fungsi kota sebagai tempat hunian. Dari istana presiden di Medan Merdeka Utara sampai gubuk reot di kawasan pinggiran kali Ciliwung. Beragam tipe rumah tersedia dengan lengkap di Jakarta.

 

Tapi yang menarik untuk dilihat dari sebuah kota, khususnya Jakarta adalah relasi kekuasaan dan pergerakan penduduk di jalan raya. Dalam hal ini adalah mobilitas orang-orang yang bergerak dalam kota Jakarta. Sebenarnya ini untuk memudahkan saya saja dalam menulis karena saya termasuk pelaku yang terlibat secara langsung.

 

Ada banyak peristiwa yang terjadi selama saya bergelut dengan Jakarta. Saya sudah merasakan bagaimana berdesak-desakan di dalam transjakarta. Sudah menghirup polutan dari cerobong kopaja dan metromini. Padatnya ruas Jalan Panjang, Daan Mogot, Kuningan, Mas Mansyur, Gatot Soebroto, Sudirman dll. Saya juga termasuk ke dalam jutaan pengendara sepeda motor yang terpaksa harus menerabas lampu lalu lintas karena desakan kendaraan lain.

 

Apa yang saya rasakan sebagai seorang penumpang angkutan umum dengan pengendara sepeda motor sangat jauh berbeda. Dari sisi waktu dan ekonomi, menggunakan sepeda motor jauh lebih efektif dan efisien. Selain itu, ketika berkendara motor anda adalah seorang hakim, penguasa sekaligus juga korban. Dalam kondisi terjepit pelanggaran rambu lalu lintas adalah hal yang lumrah. Trotoar di terabas, lampu merah di kangkangi. Suatu kebebasan yang tidak bisa anda rasakan ketika anda menjadi penumpang transjakarta. Simpulannya, karakter seorang pengendara sepeda motor adalah bebas, tak suka di intrupsi (disalip), dan nekat

 

Lain halnya jika anda seorang penumpang transjakarta atau bus kota. Terbatasnya ruang membuat anda harus pandai-pandai dalam memilih waktu keberangkatan. Telat sedikit anda bisa berdiri dua-tiga jam dalam perjalanan menuju kantor. Ruang yang sempit membuat anda tidak memiliki banyak pilihan. Hari ini anda cukup beruntung bisa berhadapan dengan seorang yang cantik atau ganteng, esok hari bisa saja anda kehilangan dompet atau HP. Pada titik terekstrem adalah pelecehan seksual yang terjadi pada wanita. Lamanya perjalanan membuat karakter pengguna bus umum sangat berbeda dengan pengendara motor. Mereka yang menggunakan angkutan umum cenderung soliter, pendiam, pengguna setia earphone, sibuk dengan situs jejaring. Maka tidak heran jika Indonesia berada di peringkat lima besar pengguna twitter dan facebook.

 

Namun di balik perbedaan tersebut, ada kekhususan diantara keduanya, baik pengguna motor maupun angkutan umum. Dalam Dunia Yang Dilipat karya Yasraf Amir Piliang, setidaknya ada 10 kesamaan potret manusia kota. Dalam hal ini saya mewakili para pengguna transportasi (commuter) di Jakarta.

 

Pertama, manusia ekonomi. Hubungan yang terjadi bersifat fungsional bukan sosial. Uang menjadi tolak ukur. Semakin lama anda di jalan maka semakin banyak bensin yang dihabiskan. Belum jika harus menghitung parkir, tol, 3 in 1, dan Pak Ogah.

 

Kedua, manusia individualis. Jarang sekali saya melihat orang tersenyum atau memulai percakapan dalam bus. Saya sendiri selalu merasa kesulitan untuk memulai senyuman. Bahkan ketika menyapa seorang bayi atau anak kecil saja pandangan aneh akan segera anda temui. Maka tak heran orang lebih memilih tidur, mendengarkan musik atau membaca.

 

Ketiga, manusia kecepatan. Suatu ketika saya di salip oleh motor, selang beberapa menit kemudian saya bertemu kembali dengan sang penyalip di depan lampu merah. Para commuter selalu di tuntut untuk cepat dan cepat.

 

Keempat, multitasking. Sebagai imbas dari tekanan kecepatan dan tempo hidup yang tinggi, para commuter akan melakukan beragam aktivitas dalam satu waktu. Berkendara sambil menelpon, bahkan pengguna sepeda motor bisa ber-SMS ria. Bawa mobil sambil makan dan bertelepon dan sebagainya.

 

Kelima, manusia digital. Pola komunikasi yang dibangun oleh para commuter adalah komunikasi digital. Jejaring sosial menjadi media utama untuk menumpahkan unek-unek, krtitikan, dan dukungan terhadap sesuatu. Komunikasi face to face seringkali buyar karena faktor sempitnya waktu untuk sekedar bertemu.

 

Keenam, manusia penyendiri. Semakin menumpuknya apartemen di Jakarta mendorong orang-orang menjadi merasa sendiri di tengah keramaian. Hiruk-pikuk kota tidak bisa di respon dengan baik oleh commuter. Padahal bisa jadi kita telah bertemu berkali-kali dengan commuter yang searah dengan tujuan kita.

 

Ketujuh, manusia benda. Sulit bagi masyarakat perkotaan untuksehari tanpa telepon. Begitu pun dengan pengguna sepeda motor. Kendaraan telah menjadi faktor penentu keberhasilan pekerjaan pada hari itu. Hari ini yang dilihat bukan mereka yang pandai atau berkemampuan tapi mereka yang cepat dan pertama sehingga benda (objek) menjadi faktor penentu.

 

Kedelapan, manusia tanda. Dalam hal ini relasi sosial dibangun atas dasar simbol-simbol. Mereka yang tinggal di daerah Menteng sedekat apapun pergi ke kantor atau mal, maka mobil pribadi menjadi pilihan utama, bukan kopaja atau metromini. Dari penampilan angkutan umum pun terlihat, transjakarta yang koridor 1 Kota-Blok M yang melewati ruas Jalan Sudirman (pusat bisnis) dan bundaran HI jauh lebih terawat dibanding koridor 8 Kalideres-Harmoni.

 

Kesembilan citra, sering sekali saya melihat umpatan-umpatan, cemoohan, himbauan ataupun jabatan tertentu dalam bentuk stiker kecil yang tertempel di belakang mobil, motor atau helm. ”Salip gua sikat”, ”Hari Gini Oper Gigi”, ”Wasit Goblog”, ”Majelis Rasulullah” dan masih banyak propaganda-propaganda lainnya. Semua itu menunjukkan eksistensi seseorang yang mencoba diwakili (dicitrakan) dalam bentuk simbol.

 

Kesepuluh, manusia informasi. Informasi sudah menjadi kebutuhan yang mutlak harus terpenuhi. Bagi mereka yang berkendara penting sekali untuk mengetahui jalan-jalan mana yang macet.

 

Inilah sekilas potret wajah commuter di Jakarta. Perubahan kota secara tidak langsung telah mengubah cara kita bertindak. Setiap hari kita berhadapan dengan hal-hal yang bertentangan (paradoksial) antara bersikap ramah/curiga, patuh/melanggar, diam/akrab, dan sebagainya. Kesadaran untuk menilai secara arif dan bijaksana yang akan membuat kita bertahan dan semoga kita bisa bertindak adil.

 

Sabtu, 26 Februari 2011

 

Tulisan terkait : Pelecehan Seksual Dalam Busway ?

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s