Pelecehan Seksual Dalam Busway ?

Culture shock. Itulah yang saya rasakan ketika menggunakan transportasi Trans Jakarta (busway) pertama kali. Segalanya serba canggung. Namun lambat laun segalanya berlangsung normal. Hingga detik ini ke mana pun saya bepergian ke Jakarta selalu mengandalkan busway sebagai sarana transportasi. Tidak hanya cepat dan nyaman, tapi juga murah.

Sejauh ini saya merasakan betul manfaat dari ketiga hal tersebut diatas (cepat, nyaman, murah) ketika menggunakan busway, tapi beberapa waktu lalu ada dua kejadian yang telah mengganggu saya. Kejadian yang mungkin bisa juga terjadi kepada anda, pengguna transportasi umum. Peristiwa pertama adalah percekcokan antara penumpang. Saat itu busway sedang transit di shelter Monas. Tiba-tiba,

“Apaan sih anda ini, kalo gak mau senggol-senggolan jangan naik busway. Naik taksi aja.”

Saya hanya mendengar suara wanita yang keras dan lantang dengan nada tidak senang (Saat itu saya berada agak jauh dari TKP dan tidak bisa melihat sosok yang berteriak). Sontak kejadian itu jadi pusat perhatian. Saya sendiri tidak mendengar respon dari sang lawan bicara. Percakapan selanjutnya adalah,

“Dasar orang tidak beradab,” kata lawan bicara yang saya tidak tahu lelaki/perempuan.

“Anda itu yang tidak beradab,” kata sang wanita. Percakapan pun terhenti.

Berikutnya adalah kejadian yang “lumrah” atau biasa terjadi di republik ini, yaitu tidak tertib dalam mengantre. Pagi itu saya melihat seorang perempuan, yang tidak saja teduh di pandang, tapi juga kelihatannya seorang akhwat (akhwat banget, kayanya sih). Ternyata arah kami sama, yaitu ke Blok-M (kebetulan saat itu kami sedang di Harmoni. Jalur keluar/masuk bagi penumpang biasanya dibuat terpisah. Ini dilakukan agar arus keluar/masuk penumpang lancar dan tertib. Seperti biasa, shelter menuju Blok-M adalah shelter dengan anteran paling panjang karena melintasi daerah pusat perkantoran Sudirman-Thamrin dan shelter transit bagi mereka yang menuju Kuningan.

Tiba-tiba saja sang akhwat ini tidak ikut mengantre bersama saya dan puluhan penumpang yang lain di pintu masuk. Sang akhwat mengantre seorang diri di pintu keluar. Dengan kata lain, dia melawan arus. Ini memungkinkannya tidak berdesak-desakan dan bisa dipastikan dia mendapat tempat duduk. Cerdas sekali, batin saya. Tapi kenapa harus seorang perempuan berjilbab yang melakukannya? Pertanyaan ini langsung saya tepis. Ah, mungkin dia sedang buru-buru atau sedang janjian dengan temannya. Lagi pula bukankah menyerobot antrean itu biasa?

Harus saya akui karena dialah tulisan ini lahir. Setelah dua kejadian itu, saya berasumsi bahwa seorang akhwat (perempuan berjilbab), mungkin juga seluruh perempuan, diperbolehkan untuk tidak mengantre. Tidak saja saat naik busway tapi mungkin juga transportasi umum lainnya. Mengapa? Jawabannya adalah untuk  menghindari Pelecehan Seksual baik disengaja ataupun tidak.

Sejauh pengalaman saya naik busway, seringkali muncul rasa bersalah dan perasaan tidak nyaman akibat kontak fisik yang tidak disengaja dengan penumpang lain. Pada titik terekstrem (mohon maaf), kontak fisik bisa terjadi di bagian-bagian sensitif yang, sekali lagi, terjadi tanpa disengaja. Jika itu terjadi antara sesama muhrim/jenis kelamin tentu tidak masalah. Tapi bagaimana jika terjadi antar lawan jenis? Apakah ini termasuk ke dalam pelecehan seksual? Apakah karena situasinya berdesak-desakan sehingga hal tersebut “diperbolehkan” atau menjadi lumrah?

Mungkin inilah yang terjadi pada peristiwa pertama (seorang ibu yang berteriak tadi), yaitu akibat seseorang yang berusaha menghindari kontak fisik yang bisa berujung kepada ranah pelecehan seksual. Dan mungkin, ini pulalah yang berusaha dihindari oleh sang akhwat, yaitu kontak fisik yang bisa berujung juga pada pelecehan seksual.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika saya mengantre di antara puluhan penumpang, jarak antara penumpang satu dengan lainnya hanya beberapa centi saja, bahkan bisa hanya dibatasi oleh pakaian atau tas saja. Bila sudah berdesak-desakan memasuki pintu bus, dorongan semakin terasa dan disinilah biasanya terbuka peluang terjadi kontak fisik yang tidak diinginkan. Dalam kasus ini jelas sekali kalau perempuanlah yang dirugikan. Tentunya saya tidak mengharapkan anda untuk menanyakan kepada saya bagaimana perasaan saya ketika itu karena sulit dijawab.

Penderitaan perempuan tidak berhenti sampai di situ. Ketika di dalam bus, saat bus penuh, posisi antara penumpang yang duduk dengan yang berdiri biasanya saling berhadapan. Penumpang yang berdiri menghadapkan wajahnya ke arah luar/jalan raya sedang penumpang yang duduk menghadapkan wajahnya ke arah perut penumpang yang berdiri. Dan antara penumpang yang berdiri posisinya saling bertolak belakang, berpunggung-punggungan. Posisi ini jelas jauh dari nyaman.

Sejauh pengamatan saya, banyak para pekerja perempuan yang pergi ke kantor memakai pakaian kameja atau lainnya (tidak berjilbab) yang terbuka dan agak ketat. Dalam posisi sedang duduk/lebih rendah, biasanya bagian dada tampak terbuka jika dilihat dari posisi penumpang yang sedang berdiri/lebih tinggi. (Tolong jangan dibayangkan!)

Begitu pun dengan penumpang yang berdiri dan saling berpunggung-punggungan. Karena busway memiliki jalur tersendiri, seringkali bus berjalan dengan cepat dan tiba-tiba berhenti. Situasi ini sering memaksa para penumpang saling bersinggungan. Peristiwa yang biasa terjadi adalah persinggungan tubuh bagian belakang.

Saya berharap tulisan ini tidak melahirkan misinterpretasi. Saya hanya menghimbau agar senantiasa berhati-hati ketika bepergian, khususnya di Jakarta. Semoga ini bisa menjadi bahan cerita dan renungan bagi anda yang sering menggunakan transportasi umum sekaligus bekal bagi anda yang berasal dari luar Jakarta yang hendak memanfaatkan sarana transportasi Jakarta.

Berikut ini ada beberapa tips aman saat naik transjakarta. Ini berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama bepergian dengan transjakarta. Cekidot:

1. Bagi lelaki/ikhwan:

–          Usahakan menggunakan pakaian lengan panjang atau jaket untuk menghindari kontak fisik secara langsung.

–          Jika membawa tas, simpan di bagian depan/dada agar anda mudah mengawasi barang bawaan anda. Cara ini pun berguna untuk menghindari kontak fisik dengan orang yang ada di depan anda karena tas bisa jadi tameng /pembatas.

–          Duduklah di kursi bagian paling belakang dan pojok yang sejajar dengan supir. Daerah ini lebih luas sehingga pandangan anda bisa terjaga. Jika anda duduk di kursi biasa, yang saling berhadap-hadapan, saran saya bawalah buku/majalah/tidur sehingga pandangan anda bisa tetap terjaga.

–          Jika anda harus berdiri, cari posisi di daerah kursi paling belakang atau posisi paling depan, dekat supir. Daerah ini saya menyebutnya zona aman karena memang ruangnya/space yang cukup luas.

–          Ke mana pun anda bepergian, usahakan memakai sepatu karena tidak jarang kaki kita terinjak-injak.

–          Jika anda berusia remaja – dewasa  (<50 tahun) dan masih sehat. Dahulukanlah perempuan hamil, orang cacat, lansia, dan ibu-ibu. Menurut pengamatan saya, anda paling lama berdiri hanya sekitar 45 menit. Dengarkanlah musik, main game, chatting, ngobrol dll karena itu akan mengalihkan perhatian dan rasa lelah anda.

2. Bagi perempuan/akhwat

–          Berpakaianlah yang rapi, sopan, dan tidak ketat. Jika anda terpaksa harus memakai rok pendek, usahakan menggunakan stocking gelap.

–          Jika anda duduk, usahakan berhadapan dengan seorang perempuan juga. Karena biasanya jika ada kesalahan dalam berpakaian, biasanya sesama perempuan akan saling mengingatkan/menegur. Para lelaki biasanya agak canggung/terdiam ketika melihat sesuatu yang salah atau terbuka pada pakaian perempuan.

–          Jika anda duduk dan di hadapan anda seorang lelaki, usahakan pakaian bagian atas/dada tertutup rapat. Jika anda membawa tas, peluklah tas anda. Jika anda memakai jeans atau celana panjang, duduk dengan tegap dan rapatkan posisi kaki anda atau tutupi dengan tas. Jangan membuka/melebarkan posisi kaki karena itu akan membuat paha anda terlihat besar !

–          Jika anda harus berdiri dan kondisi bus penuh, usahakan cari daerah paling belakang/depan dekat supir. Biasanya para penumpang agak malas berdiri di bagian paling depan/belakang karena jauh dari pintu keluar/masuk.

–          Jika anda berdiri tapi kondisi bus sepi, berdirilah dibagian tengah dekat pintu keluar/masuk, posisi ini membuat anda tidak jadi pusat perhatian.

Hal-Hal Umum

–          Waspadalah selalu dimana pun anda berada.

–          Jika anda mengantuk/tertidur usahakan tidak menyandarkan kepala anda pada kursi tapi tegap dengan posisi kepala agak menunduk.

–          Bersiaplah atau mendekatlah menuju pintu keluar jika anda hendak turun. Saran saya sebelum anda sampai pada shelter yang anda tuju.

–          Jika anda tersesat atau tidak tahu arah, jangan malu dan takut untuk bertanya kepada petugas. Penumpang yang sudah terbiasa pun belum tentu tahu arah/jalur busway.

–          Usahakan membayar dengan uang pas karena itu akan mempercepat gerak anda.

–          Simpanlah nomor-nomor penting, seperti polisi, pemadam kebakaran, ambulans dll.

September 2010

2 thoughts on “Pelecehan Seksual Dalam Busway ?

  1. nice post. Trims untuk segala tipsnya. Hal yg membuat aneh, kenapa anda melumrahkan akhwat yg tidak ikut antri. Mungkin klo akhwatnya cuma 1 nggak akan mengganggu, bayangkan kalau semua wanita seperti itu. Keluar-masuk pasti akan kacau balau. Antri ya harus ditaati, kalau mentolerir berarti orang itu tidak disiplin.

    • Terimakasih Clara udah mau mampir dan kasih comment pula. Iya nih, sepertinya orang Indonesia jauh lebih disiplin di negeri orang di banding rumah sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s