Alter Ego Politik Pak Beye

Anda tentu tahu tokoh superhero terkenal Superman. Sosok manusia yang dikaruniai kekuatan super yang berlindung dibalik pekerjaannya sebagai seorang jurnalis. Selain Superman, masih ada tokoh superhero lainnya macam Spiderman, Batman, dan sebagainya. Di antara puluhan karakter superhero yang dibuat oleh industri komik di Amerika, tampaknya belum ada yang bisa mengalahkan ketiga tokoh superhero tersebut.

 

Saya tidak akan membahas soal jagoan idola anak-anak tersebut. Tapi kalau kita perhatikan, hampir sebagian besar tokoh superhero asal Amerika selalu berlindung dibalik topeng. Mereka berusaha menyarukan penampilan agar bisa tetap membaur dengan masyarakat normal. Tak ayal, para tokoh superhero ini menciptakan karakter alter ego dalam dirinya. Kal El (Superman) berlindung dibalik Clark Kent yang seorang jurnalis. Spiderman berlindung dibalik Peter Parker yang notebene fotografer freelance. Begitu pun dengan Bruce Wyane sosok konglomerat Gotham City dan juga seorang playboy adalah alter ego dari Batman. Mereka semua memiliki dua penampilan, bisa juga disebut dua karakter. Secara sederhana kita menyebutnya dengan alter ego.

 

Alter ego adalah istilah dalam dunia psikologi yang berarti adanya dua karakter dalam satu orang. Contoh sederhananya seperti yang sudah saya sebutkan diatas. lalu adakah contoh lain alter ego dalam kehidupan sehari-hari? Jika kita mampu melihatnya maka jawabannya adalah ada. Contoh paling kentara bisa kita lihat dalam penampilan musisi-musisi di dunia tarik suara. Dari luar negeri ada  Gene Simmons dari The Kiss kemudian The Beatles dengan Sgt.Pepper’s Lonely Hearts Club Band.  Sementara untuk produk lokalnya adalah Kuburan band.

 

Tapi ternyata dalam pengertian yang lebih luas, alter ego hadir juga dalam perilaku politikus dan pejabat di negeri ini. Sepuluh hari mondar-mandir di gedung parlemen dan memperhatikan perilaku para anggota dewan serta produk-produk yang dibicarakannya memaksa saya untuk berpikir ulang dan mengevaluasi. Rapat terakhir yang saya ikuti adalah evaluasi kinerja Sekretaris Kabinet dengan Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

 

Saya terhentak ketika Sekab Dipo Alam menyebutkan ada 12 orang staf ahli presiden, ini belum ditambah dengan juru bicara presiden. Saya makin kaget saat Kuntoro Mangunsubroto Ketua UKP4 memaparkan ada 11 prioritas program nasional yang diterjemahkan menjadi 70 program kerja, 155 rencana aksi nyata, dan 369 sub rencana aksi. Angka-angka itu adalah janji-janji politik SBY ketika kampanye dua tahun yang lalu. Fenomena yang paling hangat dari dua hal itu adalah kelahiran Sekretariat Gabungan (Setgab). Setgab sebenarnya tak beda seperti tempat nongkrong di warung kopi yang anggotanya adalah sejumlah partai koalisi pendukung pemerintah

 

Perbedaannya adalah jika staf ahli, jubir presiden, dan UKP4 bersifat formal karena berada dalam struktur presiden secara langsung maka Setgab kebalikannya. Menurut Effendi Gazali, Setgab adalah ajang untuk saling menyandera antara parpol. Tidak ada nilai ideologi dan program kerja yang jelas dan terukur. Entah ide siapa Setgab ini, yang pasti kehadirannya bernilai nol. Setgab hanya jadi ajang tawar menawar politik jika partai koalisi berbeda pendapat atau terlalu kritis kepada Pak Beye.

 

 

Begitu pun sebenarnya dengan posisi staf ahli presiden, jubir presiden, dan UKP4. Saya merasa mungkin Pak Beye menyadari kalau hari ini masyarakat terutama ibu-ibu sudah tidak tertarik lagi dengan gaya bicaranya yang terlihat berwibawa dan teratur. Maka dicarilah juru bicara kepresidenan. Lain halnya dengan keberadaan para staf ahli yang berjumlah 12 orang itu. Sebagai tanda jasa karena sudah menjadi Presiden untuk yang kedua kalinya maka Pak Beye berusaha untuk merangkul orang-orang yang dinilai pintar dan ahli di bidangnya. Maka dipilihlah mantan aktivis-aktivis mahasiswa yang dulu vokal atau akademisi yang punya potensi membuat kegaduhan.

 

Tujuan dan fungsi dibentuknya UKP4 adalah untuk mewujudkan janji-janji Pak Beye. UKP4 yang mengukur dan mensinergikan program kerja yang ada di kementerian untuk kemudian dilihat apakah janji politik Pak Beye sudah dikerjakan oleh sang menteri. Tapi ini justru menghadirkan sebuah pertanyaan, lalu untuk ada menteri. Bukankah sudah menjadi tugas menteri untuk melaksanakan janji presiden?

 

Pertanyaan ini runtuh jika kita melihat kualitas dan kapabilitas dari para menteri yang dipilih oleh Pak Beye. Hampir setengah dari struktur kabinet berasal dari parpol yang notabene adalah hasil dari politik bagi-bagi kekuasaan. Jadi secara tidak langsung tugas UKP4 adalah untuk menutupi kelemahan para menteri yang tidak memiliki latar belakang yang pas dengan posisi jabatannya. Ini bukan berarti saya meragukan kinerja menteri yang berasal dari parpol, tapi kalau kinerjanya jelek buat apa dipertahankan.

 

Saran saya, dengan sistem presidensial seperti ini, seharusnya Pak Beye tidak perlu mempertimbangkan partai-partai koalisi dan sibuk membuat tentakel-tentakel. Keberadaan staf ahli dan jubir misalnya. Pernyataan yang dilontarkan oleh mereka seringkali menciptakan makna baru dan berpotensi menciptakan distorsi informasi. Jubir tentu tidak 100 persen mengulangi apa yang diucapkan oleh Presiden. Selain itu juga, publik akan bertanya apa benar yang disampaikan oleh jubir ini perkataan presiden? Pernyataan Dipo Alam, Sekab, baru-baru ini yang akan memboikot tiga media massa adalah contoh paling nyata.

 

Banyaknya alter ego yang diciptakan oleh Pak Beye akan membuat publik bingung. Pada hari antikorupsi Pak Beye bilang akan memimpin langsung pemberantasan korupsi, tapi justru untuk memajukkan hak angket pajak di parlemen, Demokrat menarik diri padahal Demokrat bagian dari inisiator hak angket. Pada hari pers nasional, Pak Beye bilang akan melindungi kebebasan pers, tapi tiba-tiba seorang sekretaris kabinetnya tidak tahan melihat media yang menyoroti kekurangan pemerintahan Pak Beye. Publik pun galau.

 

Alangkah indahnya jika Pak Beye bisa lebih efektif dalam memimpin pemerintahan tentunya dengan pilihan orang-orang yang tepat disekitarnya.

 

26 Februari 2011

 

Tulisan terkait

–       Manusia Politik

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s