Ternoda

“Mas, menurut sampean agama itu makhluk atau bukan?” Tanya Gembul ke saya.

“Kamu ini tanya apa sih Bul, gak liat apa kalau aku lagi dikejar deadline?”

“Lah, gimana sih Mas Adi, aku tanya kok malah balik tanya”.

“Aku ini terbiasa bertanya daripada menjawab,” celetuk saya. “Emang ada apa sih situ tanya-tanya soal agama? Agama tuh sudah komplit, gak perlu di revisi lagi. Tugas kita tuh tinggal laksanakan saja. Jangan kaya orang Yahudi yang banyak tanya tapi miskin praktek,” tambah saya.

“Lho kok jadi situ yang sewot,” celetuk Gembul.

 

“Begini lho mas. Belum lama ini ada masyarakat yang berdemo terkait sidang pornografi yang dilakukan vokalis terkenal itu. Menurut mereka dia itu telah merusak moral bangsa. Padahal kan yang namanya kerusakan moral itu udah ada sejak zaman nabi. Lagian kasihan juga dia harus nanggung dosa sebangsa dan setanah air,” tutur Gembul.

“Nah, terus kaitannya kasus Ariel sama pertanyaanmu tadi apa?” tanya saya.

“Nanti dulu toh mas, jangan dipotong penjelasanku ini, gak enak. Maksudku apakah dengan adanya agama itu otomatis moral akan bagus, negara akan maju? Aku liat orang-orang Eropa tuh banyak yang gak kenal apa itu Tuhan, tapi negara mereka aman-aman saja. Maju dan sejahtera lagi.”

 

“Aku gak ngerti soal itu Bul. Pusing kepalaku.”

“Mbok yak kalau temennya lagi curhat itu direspon kek.”

“Begini Bul, sambil kupasang wajah serius.Yang aku tahu, agama itu aturan. Bedanya dengan aturan-aturan yang lain, agama itu aturan buatan Tuhan. Biar mudah di mengerti manusia, maka Tuhan mengirim utusan-Nya, yaitu nabi/rasul yang juga manusia, melalui malaikat untuk mengejahwantahkan kehendak Tuhan.” Saya pun menjawab sekenanya

 

“Agama itu satu hal Bul, moral yang bagus itu hal lain. Nah, kalau kata guru ngajiku Bul, waktu zaman Nabi Muhammad itu antara wacana yang ada dalam agama dengan praktek keseharian itu selaras. Perintah Tuhan yang tertuang dalam agama itu nyata dalam keseharian. Singkatnya, orang yang ibadahnya bagus akhlaknya juga lurus. Orang kafir yang baik saja berada dalam lindungan negara dari sejak futuh Mekkah sampai Islam berjaya.”

 

“Nah, soal pertanyaan sampean apa agama itu makhluk atau bukan, aku gak bisa jawab pertanyaan anehmu itu. Intinya tidak ada yang otomatis. Semuanya harus diusahakan. Kita gak tahu apa zakat itu bisa bayar hutang negara atau gak. Itu bakal terbukti jika semua orang muslim taat bayar zakat dan pengelolaannya bener,” lanjut saya.

 

“Terus, kalau menurut sampean mas, apakah agama itu bisa ternodai?” tanya Gembul.

“Menurutku bisa dan itu sudah ada contohnya,” jawab saya.

“Kira-kira pihak mana yang punya kepentingan untuk menodai?”

“Menurutku ada dua pihak, yaitu pihak dari dalam dan dari luar.”

“Kok bisa dari dalam mas, aku pikir cuma dari luar saja.

“Kenapa gak? Justru zaman sekarang ini tantangan terbesar itu datang dari pihak dalam, yaitu mereka yang seakidah, tambah saya. Uniknya Bul, terkadang justru mereka yang seagama yang justru bisa bertindak lebih ekstrem.”

 

“Maksud mas, seperti kasus Ahmadiyah yang di Cikeusik dan pembakaran gereja di Temanggung?”

“Salah satunya, Bul. Menurut berita yang aku lihat dan baca, di Cikeusik sampai timbul korban jiwa, sementara di Temanggung tidak.”

“Tapi tetap saja kan mas, sama-sama anarkis. Dan motifnya sama, yaitu penodaan/penistaan terhadap agama. Lalu, pertanyaanku apa menurut mas tindakan kekerasan demi membela ajaran agama itu dibenarkan dalam agama?”

 

“Aku gak ngerti soal itu Bul. Ibadahku saja masih pontang-panting.”

“Mas ini gimana sih, aku tanya kok malah dikaitkan dengan ibadah.

“Itu artinya sampean tanya ke orang yang salah. Aku ini gak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaanmu itu, gitu lho maksudnya”

 

“Tapi mungkin ini bisa sedikit menjawab kegelisahanmu Bul. Dulu waktu sebelum Rasul hijrah banyak kaum Muslimin yang disiksa, umumnya mereka orang-orang miskin yang gak punya kekuasaan dan tidak duduk di tempat-tempat yang strategis. Nah, ketika Rasul hijrah, lalu Allah memberi kemenangan kepada kaum Muslimin, peristiwa ini disebut futuh Mekkah.”

 

“Menariknya adalah tidak ada satu tetes darah pun yang tumpah waktu terjadi peristiwa futuh Mekkah. Padahal kondisinya waktu itu, kaum Muslimin mayoritas dan pemenang. Sementara kalau kita melihat luka psikologis, sudah banyak anak, keluarga, dan saudara yang disiksa dan dibunuh oleh orang kafir. Termasuk terbunuhnya paman Rasul, Hamzah. Jika Rasul mau, bisa saja Hindun di balas. Di sisi lain, ajaran Islam yang dibawa Rasul pun tidak hanya dinodai oleh kaum kafir tapi juga hendak dihapus. Kalau melihat sikap Rasul yang tidak pendendam tersebut, sangat jelas menunjukkan bahwa akhlak beliau sangatlah mulia,” terang saya.

 

“Aku ora ngerti ceritamu mas,”celetuk Bul.

“Berarti aku percuma dong ngejelasin ke kamu. Mbok ya kalau temennya cerita didengerin,” jelas saya. “Udah ah, aku mau magrib dulu. Ayo jamaahan” Ajak saya.

“Aku titip aja mas. Meskipun aku gak solat yang penting aku sopan.

“Blekedes sampean. Dimana-mana yang bener itu solat dan bersikap sopan. Emangnya situ kalau kerja cuma pake celana aja?”celetuk saya.

“Emangnya apa hubungan solat sama celana mas?” tanya Gembul.

“Uislah. sakarepmu” Saya pun berjalan sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

Lamunan di atas transjakarta….

8 Februari 2011

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s