Segelas Kopi

Aroma kopi masih melekat memadati setiap lekuk kamarku. Meski sudah tidak panas lagi setidaknya cukup hangat untuk meredam udara dingin yang menerobos masuk ke sela-sela jendela. Zakiah Nurmala masih terlelap di atas ranjangku. Kasihan dia, sudah lama sekali aku tidak menyentuhnya.

Zakiah Nurmala adalah gitar kesayanganku. Akhir-akhir ini ikatan cinta di antara kami sedang diuji. Sejak berkantor di Velbak, kebutuhan akan smartphone menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari. Aku yang tidak memiliki cukup dana untuk mendapatkan smartphone harus pontang-panting mencari pinjaman sana sini. Terbesit dalam pikiranku untuk menggadaikan Zakiah. Hatiku berontak. Tapi Allah Maha Kuasa. Smartphone aku dapatkan dan Zakiah masih berbaring di sisiku.

Aku sadari kalau pola kerja wartawan telah berubah drastis. Dulu media cetak masih mendominasi tapi saat ini media online yang merajai. Hari ini seorang wartawan tidak perlu kembali ke kantor untuk menulis hasil liputannya. Cukup dengan memainkan dua jempol, berita langsung bisa terkirim tepat dari lokasi kejadian. Perkembangan teknologi komunikasi sudah berhasil mendorong perubahan tentang bagaimana berita harus disajikan. Lambat laun cara berkomunikasi antar kita akan bergeser menjadi hubungan antar simbol-simbol atau karakter di layar handphone atau komputer.

Kopiku sudah dingin dan surut. Sinar matahari masih belum bisa menembus gumpalan awan kelabu. Sudah enam hari aku melakoni profesi baru ini. Ada banyak cerita tapi yang paling menarik adalah pertemuan aku dengan orang-orang penting di negara ini. Mereka adalah para pengambil kebijakan atau setidaknya orang yang paling berpengaruh di lingkungannya. Sungguh ironis ketika semasa kuliah aku berteriak-teriak di jalan mencemooh mereka tapi hari ini aku menatap kosong wajah mereka sambil menodongkan alat perekam.

“Bagaimana menurut bapak soal kekerasan yang terjadi di Cikeusik?”

“Pak, soal perbedaan di tubuh setgab mengenai hak angket pajak, apa itu tanda setgab sudah tidak solid?”

“Pak Marwan, sikap fraksi PKB soal hak angkat gimana?”

“Dit, kejar Bambang Soesatyo..!”

Mahfudz Siddiq dan Hidayat Nur Wahid terlihat jalan beriringan sambil tersenyum ramah kepada pers.

Priyo Budi Santoso seorang diri memimpin rapat paripurna DPR.

 

Sejenak aku berpikir ulang. Ternyata televisi telah banyak mendistorsi. Ibarat laron, tingkah pola para anggota dewan pada dasarnya sama seperti rakyatnya. Tapi begitu  kamera sudah menyorot mereka tampak riang gembira.

“PSK (Politisi Sadar Kamera),” ujar Akbar Faisal dari Partai Hanura saat Rapat Dengar Pendapat dengan terdakwa kasus Bailout Bank Century Arga dan Linda.

Sangat menyenangkan ketika kita bisa memilah-milah fakta yang terjadi di lapangan. Wartawan adalah orang pertama yang tahu meski atasan yang menentukan.

Kopiku sudah habis. Matahari sudah berani menampakkan diri. Dua buah gorengan belum bisa meredam rasa laparku yang meraung-raung. Aku harus membayar agenda-agenda yang sempat tertunda. Perjalananku baru saja dimulai. Meski cuaca akhir-akhir ini terasa begitu ekstrem namun sejauh ini aku baik-baik saja. Zakiah Nurmala masih menanti belaian jemariku. Aku hanya bisa menatapnya dengan kosong.

Waktu Dhuha, 19 Februari 2011.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s