Anak

Bismillah..

Beberapa waktu yang lalu saya melihat tayangan di sebuah stasiun televisi yang menyiarkan tentang kejeniusan anak- anak. Tayangan tersebut memaparkan tujuh orang anak dari beragam usia yang memiliki kemampuan serupa orang dewasa. Dari ketujuh anak tersebut diantaranya ada seorang anak yang berusia 8 tahun sudah bisa melakukan operasi layaknya seorang dokter bedah. Lalu ada anak yang bisa memadukan warna menjadi beragam lukisan yang disebut-sebut beraliran abstrak padahal anak tersebut belum bisa berjalan. Sisanya saya lupa, tapi jelas saya takjub. Dari tayangan itu saya menilai bahwa perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa sepertinya semakin menyempit. Belum lagi jika kita bicara mengenai kontes-kontesan yang saat ini marak melibatkan anak-anak.

Anak atau anak-anak. Dari mana sebenarnya konsep ini bermula. Di zaman yang penuh dengan paradoks dewasa ini, lingkungan sepertinya menuntut kita untuk meredefinisi segala konsep yang sudah mapan. Gus Dur pernah berucap kalau anggota DPR RI tak beda jauh seperti anak di Taman Kanak-Kanak. Kalau kita menilai secara tekstual, jelas sekali kalau para anggota dewan bukanlah anak-anak. Dilihat dari sudut manapun. Tapi kalau berkiblat kepada track record perilaku para anggota DPR, sepertinya memang ada kesamaan antara anggota DPR dengan anak-anak, yaitu senang bermain-main. Kalau anak TK suka bermain wahana permainan maka anggota DPR senang ”bermain-main” dengan amanah rakyat.

Secara sederhana, kalau anda setuju dengan saya, definisi ”brutal” anak zaman sekarang melekat kepada suatu kegiatan atau peran yang melekat padanya. Peran tersebut yaitu bermain. Anak-anak identik dengan bermain atau sesuatu yang tidak serius. Sesuatu yang tidak menuntut tanggung jawab.

Neil Postman dalam bukunya yang berjudul ”Selamatkan Anak-Anak” mengatakan, secara fisik tubuh kita tidak bisa membedakan mana manusia dewasa dengan bayi. Masa berakhirnya bayi adalah ketika bisa berbicara dan berjalan. Tapi kita tidak tahu kapan masa berakhirnya anak-anak. Lebih lanjut, perbedaan terbesar dari sisi fisik antara anak-anak dengan orang dewasa adalah pada tahap perkembangan reproduksi. Tapi kalau kita menunjuk kepada sebuah kelas sosial, maka perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa terletak pada perspektif usia, yaitu tujuh sampai tujuh belas tahun dan kepada kondisi psikologis,yaitu suatu perlakuan yang membutuhkan perlindungan dan pengasuhan. Jika kita sepakat akan hal itu, maka sebenarnya konsep anak baru ada sekitar 400 tahun lalu.Sedang kalau kita merujuk konsep anak dalam artian luas seperti yang kita pahami saat ini, maka konsep anak baru ada tidak lebih dari 150 tahun.

Perbedaan terbesar antara anak-anak dengan orang dewasa adalah dilihat dari peran (perilaku) yang dijalankan. Kita coba mundur sejenak ke zaman Yunani. Postman dalam bukunya tidak memiliki rujukan yang akurat mengenai konsep anak-anak pada masa Yunani. Namun ada kejelasan bahwa anak kecil masih menjadi sasaran pembunuhan. Sampai datang seorang Aristoteles pun, praktek pembunuhan tersebut belum bisa dihilangkan dan tidak ada aturan moral dan hukum yang mengaturnya. Secara umum, Yunani tidak memiliki konsep yang jelas mengenai anak-anak. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa konsep sekolah pertama kali lahir di Yunani, dan semua orang dapat terlibat dalam sekolah.

Sementara itu di era kejayaan Romaw konsep mengenai anak-anak mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Ide mengenai pemisahan antara anak-anak dengan orang dewasa terletak kepada rasa malu. Sebuah perkembangan yang sangat baik. Adalah Quintillian seorang guru orasi dan retorika yang merasa jengah terhadap sikap orang-orang dewasa pada masa itu yang tidak tahu malu berbicara kotor dihadapan anak-anak. Kita tidak tahu seberapa besar ukuran anak-anak pada zaman Romawi. Batasan yang jelas adalah bahwa seharusnya orang dewasa bisa menahan dorongan seksualnya dihadapan anak-anak.

Konsep anak yang sudah berkembang dengan baik runtuh seiring dengan runtuhnya Romawi. Saya tidak punya referensi bagaimana Timur Tengah (baca:Islam) mengatur soal konsep anak. Selanjutnya, keruntuhan Romawi membawa awan gelap bagi Eropa. Kaum barbar memberi warna baru, yaitu abad kegelapan (dark age). Konsep anak hilang seketika. Di masa Dark Age tidak ada beda antara orang dewasa dan anak-anak, semua melebur.

Dalam hal ini, muncul pertanyaan yang diajukan Postman, mengapa ketika Romawi runtuh budaya literasi, pendidikan, dan konsep mengenai rasa malu yang sudah dibangun Romawi ternyata ikut musnah? Memang tidak dapat disangkal bahwa literasi (budaya membaca) pada masa Romawi terbatas pada kelas tertentu saja. Namun sepertinya budaya literasi yang seharusnya bisa berkembang telah bertransformasi menjadi budaya ”literasi tukang”. Eropa masih gelap sampai seorang Jerman yang bernama Guttenberg menemukan mesin cetak.

Kita melompat sejenak ke Timur,yaitu ketika Islam mulai menggeliat. Islam memiliki konsep yang jelas mengenai anak. Namun sebelum Islam datang, praktek pembunuhan terhadap bayi atau anak-anak, khususnya perempuan masih terjadi. Seiring semakin terangnya cahaya Islam bersinar maka semakin jelas konsep anak dalam Islam. Batasannya adalah pada perkembangan organ reproduksi. Ketika seorang perempuan sudah mendapatkan mensturasi, maka tiba masanya taklif, pembebanan. Dalam ukuran spiritual pada saat itu seorang perempuan sudah layak menanggung dosanya sendiri. Sementara bagi lelaki adalah ketika mimpi basah, atau keluarnya sperma. Maka sudah wajib baginya sholat lima waktu. jika kita tarik dalam konteks usia, maka perempuan dewasa jatuh pada usia 10 tahun, dan pria dewasa adalah 14 tahun. Maka menjadi jelas wanita yang Rasulullah nikahi adalah perempuan dewasa bukan anak-anak seperti yang dituduhkan oleh beberapa kalangan.

Kita kembali ke Eropa. Matahari sudah bersinar cerah. Lahirlah abad pencerahan, Renaissance. Sungai filsafat Yunani yang menurut Jostein Gaarder terbelah ke Timur dan Romawi, seolah-olah kembali menjadi satu dan itu ditandai dengan lahirnya era Renaissance. Eropa berjaya dengan pengetahuannya, teknologi berkembang pesat dan konsep mengenai anak kembali ke masa Yunani, yaitu sekolah. Singkatnya, konsep anak semakin terlihat jelas seiring berjalannya masa Incunabula (masa merangkak), yaitu 50 tahun selepas mesin cetak ditemukan. Parameternya menjadi jelas, bahwa yang membedakan anak-anak dengan orang dewasa pada masa itu adalah membaca dan menulis. Maka lahirlah sekolah-sekolah yang dipelopori oleh gereja. Di masa ini, anak-anak mulai dihormati dan telah resmi berada dalam satu kelas sosial.

Dalam sebuah diskusi antara saya dengan seorang teman, mengapa Islam justru menjadi runtuh ketika Eropa sedang merangkak padahal ada begitu banyak ilmuwan Islam yang menghasilkan teknologi tinggi jauh sebelum Eropa mengenalnya. Teman tersebut menjawab dengan singkat, karena orang Eropa pandai membuat konsep. Ini pernyataan diluar tulisan saya.

Selanjutnya, Eropa menjadi tak terkendali dengan segala perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan karena berhasil mengkonseptualisasi penemuan-penemuan dari ilmuwan Islam. Sekolah sebagai lembaga yang secara resmi menjadi distributor ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi semakin tersistematis dan tertata dengan rapi. Sekolah dijadikan masa untuk membentuk seorang anak menjadi seorang yang dewasa. Sekali lagi,budaya literasi (membaca dan menulis) menjadi tolak ukurannya.

Sampai kepada anda selesai membaca tulisan ini, pendidikan yang sudah dan sedang kita tempuh adalah salah satu evolusi dan warisan dari masa 400 tahun lalu. Kalau berkaca pada hal tersebut maka anda dan saya akan dengan bangga berkata lantang bahwa kita sudah menjadi orang-orang dewasa.

Lalu pada hari ini kita bisa menyaksikan sebuah kategori, kelompok atau suatu kelas sosial yang berdiri sendiri, yaitu anak-anak dalam kemasan yang lebih menarik. Pemisahan kelas sosial ini sangat menguntungkan para pelaku industri.  Mereka melihat peluang dan menguatkan persepsi mengenai perbedaan antara orang dewasa dengan anak-anak. Peluang ini oleh industri dikelola dengan baik maka lahirlah suatu produk yang tersegmentasi. Lahirlah pakaian anak-anak, makanan anak, lagu anak-anak yang dibungkus dengan menarik.

Lalu tiba-tiba kita terkejut, ketika seorang anak kecil membangunkan ayahnya yang sedang tidur dengan nyanyian lagu asal band Nidji, D’Massive, Dewa, Peterpan, ST 12. apakah konsep anak akan kembali berputar ke masa dark age? Di mana anak-anak dan orang dewasa bercampur dan tak ada sekat, khususnya mengenai konsep rasa malu. Kita harus mewaspadai media karena media menjadi senjata ampuh untuk mendegradasi suatu tatanan sosial yang sudah mapan dengan atau tanpa kita sadari. Tembok kelas dan gedung sudah tidak bisa membatasi dan kehilangan kuasanya untuk mengontrol anak. Meledaknya informasi harus membuat para orang tua dan calon orang tua waspada terhadap perkembangan anaknya. Kita tidak bisa melepaskan sepenuhnya kepada institusi pendidikan.

Cukup sudah rasanya. Lebih jauh silahkan nyonya-nyonya dan tuan-tuan baca literasi lainnya untuk sekedar menutupi kekurangan tulisan ini. Tulisan ini layak untuk diperdebatkan karena instrumen yang saya baca belum tuntas saya mainkan.

Fuih…cape juga setelah sekian lama puasa menulis. Akhirnya….. Ini cuma sepotong pizza yang ingin dibagi kepada teman-teman. Makasih Deni, Maya, and Ali buat inspirasinya. Rotinya enak…

wallahualam bishowab

Tangerang, 28 Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s